Kompolnas Akan Terus Tagih Penuntasan Kasus Novel Baswedan ke Polri

Kompas.com - 21/12/2018, 12:43 WIB
Komisioner Ombudsman RI Adrianus Meliala (paling kiri) dan anggota Kompolnas Bekto Suprapto (tengah) di Gedung Ombudsman, Jakarta, Jumat (21/12/2018). DYLAN APRIALDO RACHMAN/KOMPAS.comKomisioner Ombudsman RI Adrianus Meliala (paling kiri) dan anggota Kompolnas Bekto Suprapto (tengah) di Gedung Ombudsman, Jakarta, Jumat (21/12/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota Komisi Kepolisian Nasional ( Kompolnas) Bekto Suprapto menegaskan, pihaknya akan terus menagih penuntasan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan ke Polri.

"Saya ingin sampaikan, Kompolnas tidak pernah tinggal diam, Kompolnas tetap menganggap ini utang Polri," kata Bekto usai bertemu dengan Komisioner Ombudsman RI Adrianus Meliala di Gedung Ombudsman, Jakarta, Jumat (21/12/2018).

Bekto mengapresiasi upaya Ombudsman yang menemukan empat dugaan maladministrasi terkait proses penanganan kasus Novel. Bekto menegaskan, Polri harus mengungkap kasus Novel secara jelas dan terang.

Baca juga: KPK Minta Polri Tak Lupakan Kasus Penyiraman Air Keras terhadap Novel Baswedan

"Harus diungkap, ya. Kompolnas sudah melakukan gelar perkara (terkait penanganan kasus) Novel Baswedan ini sebanyak tujuh kali, kalau Ombudsman kan empat kali. Jadi kami sangat serius," ungkapnya.

Di sisi lain, Bekto melihat kepolisian sudah bekerja profesional dalam penanganan kasus Novel.

Meski demikian, ia menyebutkan masih ada sejumlah tantangan yang dialami polisi, seperti tidak adanya saksi yang melihat langsung peristiwa penyiraman, pemeriksaan CCTV, hingga mendorong Novel untuk bisa lebih terbuka dalam membantu penuntasan kasusnya.

"Crime scene processing, itu (polisi) sudah melakukan yang namanya scientitic crime investigation itu semua, semua daya sudah dilakukan. Memang ini masih menjadi utang. Kompolnas tidak akan berhenti untuk menagih terus," tegasnya.

Baca juga: 611 Hari Berlalu, Kasus Penyiraman Novel Baswedan Belum Ada Titik Terang

Seperti diketahui, pada 11 April 2017, seusai melaksanakan shalat subuh di masjid tak jauh dari rumahnya, Novel tiba-tiba disiram air keras oleh dua pria tak dikenal yang mengendarai sepeda motor. Cairan itu mengenai wajah Novel.

Kejadian itu berlangsung begitu cepat sehingga Novel tak sempat mengelak.

Tak ada seorang pun yang berada di lokasi saat peristiwa penyiraman itu terjadi. Novel juga tak bisa melihat jelas pelaku penyerangannya.

Sejak saat itu, Novel menjalani serangkaian pengobatan guna penyembuhan matanya. Ia pun juga terus menanti penuntasan kasusnya. Sebab hingga saat ini, polisi belum bisa mengungkap siapa dalang penyerangannya.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jokowi Minta Kartu Pra Kerja Diprioritaskan bagi Korban PHK Akibat Covid-19

Jokowi Minta Kartu Pra Kerja Diprioritaskan bagi Korban PHK Akibat Covid-19

Nasional
Gerindra Minta Riza Patria Segera Bantu Anies Tangani Covid-19

Gerindra Minta Riza Patria Segera Bantu Anies Tangani Covid-19

Nasional
DKI Jakarta Terapkan PSBB, Apa Saja yang Dibatasi?

DKI Jakarta Terapkan PSBB, Apa Saja yang Dibatasi?

Nasional
Pasien di RSD Covid-19 Wisma Atlet Berkurang 9 Orang

Pasien di RSD Covid-19 Wisma Atlet Berkurang 9 Orang

Nasional
PSBB Resmi Berlaku di Jakarta, Anggota Komisi IX DPR MInta 4 Hal Ini Diperhatikan

PSBB Resmi Berlaku di Jakarta, Anggota Komisi IX DPR MInta 4 Hal Ini Diperhatikan

Nasional
Jokowi: 3,7 Juta Keluarga di Jabodetabek Akan Dapat Bansos

Jokowi: 3,7 Juta Keluarga di Jabodetabek Akan Dapat Bansos

Nasional
Ketika Wakil Ketua Komisi III DPR Digantikan Loyalis Zulkifli Hasan

Ketika Wakil Ketua Komisi III DPR Digantikan Loyalis Zulkifli Hasan

Nasional
BNPB: Data Pasien Covid-19 yang Dikirim ke WHO Dilengkapi Usia dan Jenis Kelamin

BNPB: Data Pasien Covid-19 yang Dikirim ke WHO Dilengkapi Usia dan Jenis Kelamin

Nasional
KPK Panggil Seorang Jaksa sebagai Saksi Kasus Nurhadi

KPK Panggil Seorang Jaksa sebagai Saksi Kasus Nurhadi

Nasional
BNPB Sebut Data Covid-19 Antara Kemenkes dan Pemda Tak Sama Bukan Masalah

BNPB Sebut Data Covid-19 Antara Kemenkes dan Pemda Tak Sama Bukan Masalah

Nasional
Riza Patria Jadi Wagub DKI Jakarta, PKS: Ini Realitas Politik Nasional

Riza Patria Jadi Wagub DKI Jakarta, PKS: Ini Realitas Politik Nasional

Nasional
Atasi Covid-19, Menko PMK Sebut Pemerintah Tak Ingin Lepas Tangan

Atasi Covid-19, Menko PMK Sebut Pemerintah Tak Ingin Lepas Tangan

Nasional
Pulang dari Malaysia Lewat Jalur Tikus, 20 TKI Ilegal Diamankan di Sumatera Utara

Pulang dari Malaysia Lewat Jalur Tikus, 20 TKI Ilegal Diamankan di Sumatera Utara

Nasional
Gelombang PHK di Tengah Wabah Corona: 4 Faktor dan 7 Solusi Usulan KSPI

Gelombang PHK di Tengah Wabah Corona: 4 Faktor dan 7 Solusi Usulan KSPI

Nasional
Penjarakan Penghina Presiden Dianggap Kontradiktif dengan Upaya Pengosongan Penjara di Tengah Wabah Corona

Penjarakan Penghina Presiden Dianggap Kontradiktif dengan Upaya Pengosongan Penjara di Tengah Wabah Corona

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X