Presiden Jokowi Batal Hadiri Acara Peringatan Hari HAM Internasional - Kompas.com

Presiden Jokowi Batal Hadiri Acara Peringatan Hari HAM Internasional

Kompas.com - 11/12/2018, 14:49 WIB
Presiden Joko Widodo menunjukkan buku ketika menghadiri milad satu abad Madrasah Muallimin dan Muallimat Muhammadiyah Yogyakarta di Yogyakarta, Kamis (6/12/2018). Presiden  mengapresiasi kiprah Madrasah Muallimin dan Muallimat yang telah berusia seabad yang telah melahirkan banyak tokoh dan berkonstribusi besar pada umat, bangsa, negara, dan kemanusiaan. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/ama.WAHYU PUTRO A Presiden Joko Widodo menunjukkan buku ketika menghadiri milad satu abad Madrasah Muallimin dan Muallimat Muhammadiyah Yogyakarta di Yogyakarta, Kamis (6/12/2018). Presiden mengapresiasi kiprah Madrasah Muallimin dan Muallimat yang telah berusia seabad yang telah melahirkan banyak tokoh dan berkonstribusi besar pada umat, bangsa, negara, dan kemanusiaan. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/ama.

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo batal menghadiri acara peringatan hari HAM Internasional di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Selasa (11/12/2018). Kehadiran Jokowi digantikan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Kalla mengatakan, Jokowi tak bisa menghadiri acara peringatan hari HAM lantaran ada kesibukan yang tak bisa ditinggal.

"Pak Presiden minta maaf atas kesibukannya sehingga tidak dapat menghadiri. Saya harusnya menghadiri peringatan HAM di Kemenkumham (Kementerian Hukum dan HAM). Tapi kata Presiden di Komnas HAM saja dibanding ke Kemenkumham," kata Kalla saat memberikan sambutan.

Dalam sambutan tersebut, Kalla mengapresiasi kinerja Komnas HAM yang telah banyak menerima aduan masyarakat terkait pelanggaran HAM.

Kalla juga sempat menyinggung kantor Komnas HAM yang kecil. Meski demikian, ia melihat Komnas HAM tetap berupaya keras menjalankan tugasnya.

Baca juga: Refleksi Komnas HAM di Hari HAM Internasional

"Saya berterima kasih dan salut atas kerja yang sangat baik dari Komnas HAM. Walaupun tadi disampaikan juga memerlukan fasilitas yang lebih baik lagi. Namun yang penting bukan fasilitasnya. Hasil kerjanya juga. Harus sepadan dengan hal tersebut," kata Kalla.

"Karena kalau kantornya terlalu mewah nanti tidak sama pekerjaannya nanti. Semua menagani orang yang sulit dan susah, kantornya terlalu nyaman nanti semangatnya turun. Tapi kami menghargai pandangan tadu bahwa memerlukan suatu fasilitas yang lebih baik lagi," lanjut dia.



Close Ads X