Kapolri Sebut Bom Surabaya atas Instruksi ISIS dan Terkait Teror di Paris - Kompas.com

Kapolri Sebut Bom Surabaya atas Instruksi ISIS dan Terkait Teror di Paris

Kompas.com - 14/05/2018, 12:28 WIB
Anggota kepolisian berjaga disekitar wilayah Mapolrestabes Surabaya, Jawa Timur, Senin (14/5/2018). sekitar pukul 08.50 WIB, menyebabkan 4 anggota polisi dan 6 warga terluka.KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Anggota kepolisian berjaga disekitar wilayah Mapolrestabes Surabaya, Jawa Timur, Senin (14/5/2018). sekitar pukul 08.50 WIB, menyebabkan 4 anggota polisi dan 6 warga terluka.

SURABAYA, KOMPAS.comKapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian mengatakan bahwa aksi teror yang terjadi di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur, pada Minggu (13/5/2018) dan Senin (14/5/2018) pagi ini, merupakan perintah dari kelompok teror global Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS.

"Kami sampaikan juga motifnya, serangan ini karena instruksi ISIS sentral. Mereka terdesak dan memerintahkan sel-sel lain di seluruh dunia untuk bergerak," kata Tito Karnavian di Mapolda Jawa Timur, Surabaya, Senin.

Tito menjelaskan, serangan di Surabaya dan Sidoarjo ini bahkan terkait dengan serangan ISIS yang terjadi di Paris pada Sabtu (12/5/2018) lalu.

Dalam serangan di Paris, pelaku teror bernama Khamzat Azimov menusuk sejumlah orang. Aksi teror tersebut menyebabkan satu orang tewas dan melukai empat orang lain.

Polisi kemudian menembak Khamzat Azimov, yang menyebabkan pria asal Chechnya itu tewas.

Baca: Teror Pria Bersenjata Pisau di Paris, 1 Tewas Tertikam dan 4 Terluka

Kapolri menjelaskan, pelaku aksi teror di Surabaya dan Sidoarjo merupakan jaringan Jamaah Ansharut Daulah Surabaya. Jaringan ini juga terkait dengan pimpinan Jamaah Ansharut Tauhid dan JAD, Aman Abdurrahman.

Bahkan, Tito menjelaskan, perlawanan para narapidana teroris di rumah tahanan Markas Komando Korps Brimob Polri beberapa waktu lalu juga terkait teror bom Surabaya dan teror Paris.


Aksi itu juga bagian dari rencana teror yang dilakukan ISIS tingkat global.

"Kerusuhan Mako Brimob tak sekadar makanan yang tidak boleh masuk, tapi dinamika internasional," ucap Tito.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Komentar
Close Ads X