Rapat dengan Kapolri, Anggota Komisi III Singgung Kasus Novel Baswedan - Kompas.com

Rapat dengan Kapolri, Anggota Komisi III Singgung Kasus Novel Baswedan

Kompas.com - 14/03/2018, 12:58 WIB
Komisi III menggelar rapat dengar pendapat (RDP)  dengan Polri di gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (14/3/2018).KOMPAS.com/KRISTIAN ERDIANTO Komisi III menggelar rapat dengar pendapat (RDP) dengan Polri di gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (14/3/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota Komisi III dari Fraksi PDI-P Arteria Dahlan sempat menyinggung soal upaya penyelesaian kasus penyiraman air keras yang dialami oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi III dengan Kepolisian RI.

Dalam rapat tersebut, hadir Kepala Polri ( Kapolri) Jenderal Tito Karnavian dan sejumlah pejabat tinggi Mabes Polri, termasuk Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis.

"Pak Kapolri alhamdulilah kita mau merayakan hari ulang tahun satu tahun kasus pak Novel Baswedan itu tidak terselesaikan kasusnya. Ini kasus yang menyita perhatian pak. Kita mohon kasus ini harus terungkap," ujar Arteria di ruang rapat Komisi III, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (14/3/2018).

(Baca juga: Novel Minta TGPF Tetap Dibentuk meski Komnas HAM Bentuk Tim Khusus)


 

11 bulan sejak peristiwa kekerasan tersebut terjadi, Polri belum bisa mengungkap pelaku maupun motifnya.

Arteria menuturkan, meski kerap berselisih dengan KPK, namun Komisi III mendukung proses penegakan hukum demi memberikan kepastian hukum terhadap Novel.

Ia menegaskan bahwa kasus penyerangan terhadap aparat penegak hukum tidak boleh terjadi.

"Tidak boleh ada sedikitpun serangan terhadap penegak hukum. Kami polisi diserang marah kita. Polisi melawan polisi kita marah. Ini juga kejadiannya begitu," tuturnya.

Ia pun meminta Polri segera menuntaskan kasus Novel, mengingat masyarakat mulai mendorong pemerintah untuk membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF).

Selama ini DPR meyakini Polri mampu menuntaskan kasus Novel dan tidak sepakat terbentuknya TGPF.

"Jangan sampai ada ruang bagi segenap pihak ini untuk mengatakan ternyata memang benar harus ada tim gabungan pencari fakta. itu yang selama ini Komisi III katakan tidak. Kita percaya betul dengan institusi Polri," kata Arteria.

(Baca juga: Kepada Komnas HAM, Novel Sampaikan Dugaan Pelaku Penyiraman Air Keras)

 

Seperti diketahui, wajah Novel Baswedan disiram air keras seusai menunaikan shalat Subuh berjamaah di Masjid Al Ikhsan, Jalan Deposito RT 003 RW 010, Kelapa Gading, Jakarta Utara, 11 April 2017.

Seusai mendapat serangan, Novel dilarikan ke Rumah Sakit Mitra Kelapa Gading, Jakarta Utara. Sore harinya, Novel dirujuk ke Jakarta Eye Center.

Luka parah pada kedua mata Novel akibat siraman air keras ternyata tak cukup ditangani di Indonesia. Pada 12 April 2017, dokter merujuk agar Novel mendapatkan perawatan mata di Singapura.

Pada 17 Agustus 2017, Novel menjalani operasi pertama di Singapura. Hingga saat ini, kasus penyiraman air keras terhadap Novel belum juga menemukan titik terang.

Setelah lebih dari 10 bulan sejak penyerangan dilakukan, polisi belum juga menetapkan satu tersangka.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Close Ads X