Kompas.com - 13/08/2022, 11:25 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Nama Irjen Pol Ferdy Sambo menjadi sorotan saat kasus polisi tembak polisi di rumah dinasnya di Duren Tiga, Jakarta Selatan, pada Jumat (8/7/2022) mencuat ke publik.

Kasus penembakan di Duren Tiga itu menyeret Sambo menjadi tersangka. Hal ini tak lepas dari pengakuan Bharada E, Richard Eliezer yang mengaku pembunuhan Brigadir J adalah perintah dari Sambo.

Adapun Bharada E yang berperan menembak Brigadir J atas suruhan Sambo. Semula menurut keterangan kepolisian yang disampaikan pada Senin (11/7/2022), keduanya terlibat baku tembak hingga Brigadir J tewas.

Baca juga: Polisi: Kalaupun Istri Ferdy Sambo Dilecehkan Brigadir J, Bukan Terjadi di Rumah Dinas

Namun berdasarkan keterangan Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo di Mabes Polri, Jakarta, pada Selasa (9/8/2022), tidak ada peristiwa tembak-menembak antara Brigadir J dan Bharada E. Yang ada hanyalah penembakan terhadap Brigadir J.

Artinya, keterangan dalam konferensi pers pertama kali adalah murni rekayasa semata dari beberapa pihak.

Tangisan Ferdy Sambo

Berdasarkan keterangan Ketua Harian Kompolnas Benny Mamoto, Sambo sempat menangis di hadapan anggota Kompolnas Poengky Indarti. Tangisan ini pecah selang beberapa hari setelah pembunuhan Brigadir J.

Mulanya, Poengky dihubungi Sambo yang meminta waktu untuk bertemu. Namun, saat ditemui, Sambo justru menangis di hadapan Poengky.

"Beliau (Poengky) datang kemudian ketemu, yang bersangkutan (Sambo) nangis-nangis curhat seperti ceritanya itu," kata Benny di acara Rosi Kompas TV, Kamis (11/8/2022).

Tak hanya di depan anggota Kompolnas, Sambo juga pernah menangis di pelukan Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran.

Momen itu terjadi tak lama setelah mencuat informasi soal baku tembak dua polisi di rumah dinas mantan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri itu.

Baca juga: Patahkan Tuduhan Pelecehan, Kabareskrim Sebut Brigadir J Baru Masuk Rumah Setelah Dipanggil Sambo, Kemudian Ditembak

Saat itu, polisi membeberkan bahwa insiden baku tembak tersebut terjadi karena Brigadir J melecehkan Istri Ferdy Sambo.

Dalam video pertemuan yang beredar, tampak Fadil menghampiri Sambo dan langsung memeluknya. Terlihat raut wajah Sambo yang sedih kala memeluk sekaligus mendaratkan kepalanya di bahu Fadil.

Sesekali Fadil menepuk-nepuk bahu Sambo seolah memberikan dukungan dan menunjukkan rasa simpati. Fadil juga mencium kening Sambo yang tampak tak bisa menyembunyikan kesedihannya.

"Saya memberikan support pada adik saya, Sambo, agar tegar menghadapi cobaan ini," kata Fadil, Kamis (14/7/2022).

Baca juga: Ferdy Sambo Disebut Menangis di Hadapan Anggota Kompolnas Setelah Pembunuhan Brigadir J

Sambo akui jadi dalang pembunuhan

Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo dan Brigadir J.TRIBUN/ISTIMEWA Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo dan Brigadir J.

Namun, kejanggalan demi kejanggalan mulai terungkap. Penyidikan kematian Brigadir J mengarah ke sejumlah anggota Polri, termasuk Sambo.

Kasus semakin terang ketika Sambo akhirnya mengakui jadi otak di balik pembunuhan Yosua. Hal itu diakui Sambo ketika diperiksa Komnas HAM pada Jumat (12/8/2022).

Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Ahmad Taufan Damanik mengatakan, pemeriksaan itu dilakukan di Markas Komando Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

"Pertama adalah pengakuan saudara FS bahwa dia adalah aktor pertama dari peristiwa ini," ujar Taufan dalam konferensi pers di Mako Brimob, Jumat.

Baca juga: 5 Kebohongan Irjen Ferdy Sambo di Kasus Kematian Brigadir J yang Akhirnya Terbongkar

Pengakuan ini lantas memutarbalikkan pernyataan Sambo saat kasus pertama kali mencuat. Semula, Sambo meminta masyarakat tidak berspekulasi macam-macam atas peristiwa tembak-menembak di Duren Tiga.

"Saya harapkan kepada seluruh pihak-pihak dan masyarakat untuk bersabar, tidak memberikan asumsi, persepsi yang menyebabkan simpang siurnya peristiwa di rumah dinas saya," ujar Sambo, kala itu.

Merekayasa kematian

Tak hanya menjadi dalang, Sambo juga merekayasa kronologi kematian.

Sambo kata Taufan, membuat skenario seolah-olah terjadi tembak-menembak antara Brigadir J dengan Bharada E sehingga menewaskan Brigadir J.

"Tapi kemudian dia mengaku itu hasil rancangan," ujar Taufan.

Rekayasa ini juga sempat disampaikan Polri pada Selasa (9/8/2022). Berdasarkan keterangan Kapolri Sigit, Bharada E menembak Brigadir J.

Kemudian agar terkesan terjadi peristiwa tembak-menembak, Sambo mengambil senjata milik Brigadir J dan menembakkannya ke dinding.

Baca juga: [POPULER TREN] Surat Terbuka Keluarga Bharada E: Kami Takut | Alibi Ferdy Sambo Bunuh Brigadir J

Minta maaf

Atas peristiwa ini, Sambo akhirnya meminta maaf. Permintaan maaf dinyatakannya karena telah merekayasa kematian Brigadir J.

Permintaan maaf pun disampaikannya kepada Komnas HAM, seluruh masyarakat, ataupun pihak lain yang terlibat dari rekayasa-rekayasa yang dibuatnya.

"Dia meminta maaf kepada Komnas HAM, kepada semua pihak, masyarakat Indonesia atas tindakannya yang seperti kami sampaikan (melakukan) langkah-langkah rekayasa," sebut Taufan.

Pengakuan Ferdy Sambo ini kata Taufan, akan menjadi catatan penting Komnas HAM untuk kemudian menyelidiki apakah ada pelanggaran HAM dalam kasus pembunuhan Brigadir J, baik dari sisi kematian Brigadir J maupun proses pengungkapan kasus itu.

"Kita berharap nanti proses penyidikan bisa menghasilkan satu keputusan peradilan yang seadil-adilnya, sebgaimana kami sampaikan sejak awal dan merupakan fokus Komnas HAM dalam hal ini satu proses hukum yang fair termasuk pihak korban bisa mendapatkan keadilan," kata Taufan.

Baca juga: Pengakuan Ferdy Sambo Rusak TKP Tempat Pembunuhan Brigadir J

Merusak TKP

Anggota polisi kembali mendatangi rumah dinas Irjen Ferdy Sambo di Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (1/8/2022). KOMPAS.com/Muhammad Isa Bustomi Anggota polisi kembali mendatangi rumah dinas Irjen Ferdy Sambo di Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (1/8/2022).

Kemudian, Komisioner Komnas HAM bidang Penyelidikan dan Pengawasan M Choirul Anam mengatakan, Sambo mengaku sengaja merusak tempat kejadian perkara (TKP).

Perusakan tersebut, kata Anam, diniatkan Ferdy Sambo agar peristiwa pembunuhan Brigadir J bisa direkayasa sesuai dengan skenario yang dibuat.

"Memang dia (Ferdy Sambo) yang mengakui memang dia lah yang menyusun cerita, dia lah yang mencoba untuk membuat TKP sedemikian rupa sehingga semua orang juga susah untuk membuat terang peristiwa karena ada kerusakan di TKP," tutur Anam.

Bertanggung jawab di pengadilan

Sebelumnya, Sambo juga mengakui perbuatan fatalnya melalui surat yang dibacakan kuasa hukumnya, Arman Hanis.

Dalam surat tersebut, Sambo menyatakan akan bertanggungjawab atas seluruh tindakan yang telah dilakukan terkait tewasnya Brigadir J.

Mantan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri itu juga mengakui telah memberikan informasi tak benar atas peristiwa terwasnya Brigadir J kepada polisi yang menangani kasus.

"Saya akan patuh pada setiap proses hukum saat ini yang sedang berjalan, dan nantinya di pengadilan akan saya pertanggungjawabkan," ucap Arman Hanis yang membacakan pesan itu dikutip dari Kompas TV, Kamis (11/8/2022).

Di surat yang sama, Ferdy Sambo menyatakan ada alasan khusus memerintah pembunuhan terhadap Brigadir J. Menurutnya, perintah itu muncul untuk menjaga marwah keluarga.

Baca juga: Hasil Pemeriksaan Komnas HAM: Ferdy Sambo Akui Adanya Obstruction of Justice Pembunuhan Brigadir J

 

Meski demikian, Sambo tidak menjelaskan secara terperinci dalam surat perihal marwah keluarga yang dimaksud.

"Saya adalah kepala keluarga, dan murni niat saya untuk menjaga dan melindungi marwah dan kehormatan keluarga yang sangat saya cintai," ucap Sambo.

Terancam hukuman mati

Sejak ditetapkan sebagai tersangka oleh Polri, Sambo terancam hukuman mati karena dijerat pasal pembunuhan berencana.Ia dijerat pasal 340 subsider pasal 338 Pasal 340 subsider 338 jo 55 dan 56 KUHP dengan ancaman hukuman mati atau seumur hidup.

Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Komjen Agus Andrianto mengungkapkan, bersama Sambo, ada tiga tersangka lain yang juga memiliki peran masing-masing dalam peristiwa kematian Brigadir J.

Bharada Richard Eliezer atau Bharada E memiliki peran menembak Brigadir J. Sementara itu, Bripka RR dan KM turut membantu dan menyaksikan penembakan Brigadir J.

Sedangkan Irjen Pol Ferdy Sambo adalah pihak yang memerintah Bharada E untuk menembak Brigadir J.

Baca juga: Istri Ferdy Sambo Belum Stabil, Komnas HAM Tunda Pemeriksaan

"Penyidik menerapkan pasal 340 subsider pasal 338, dengan ancaman maksimal hukuman mati atau seumur hidup atau penjara selama-lamanya maksimal 20 tahun," ucap Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Komjen Agus Andrianto dalam konferensi pers, Selasa, (9/8/2022).

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Formappi Kritik Deklarasi Capres di Tengah Momen Duka Tragedi Kanjuruhan

Formappi Kritik Deklarasi Capres di Tengah Momen Duka Tragedi Kanjuruhan

Nasional
Tak Ada Satupun Fraksi yang Pilih Dua Komisioner Komnas HAM untuk Kembali Menjabat

Tak Ada Satupun Fraksi yang Pilih Dua Komisioner Komnas HAM untuk Kembali Menjabat

Nasional
KPK Akui Tak Sulit Jemput Paksa Lukas Enembe, tapi...

KPK Akui Tak Sulit Jemput Paksa Lukas Enembe, tapi...

Nasional
KPK Gunakan Pendekatan Persuasif agar Lukas Enembe Mau Diperiksa

KPK Gunakan Pendekatan Persuasif agar Lukas Enembe Mau Diperiksa

Nasional
Gerindra Sebut Fanatisme Suporter Sepak Bola Kerap Hanya Dijadikan Komoditi

Gerindra Sebut Fanatisme Suporter Sepak Bola Kerap Hanya Dijadikan Komoditi

Nasional
KPK Tegaskan Deklarasi Anies jadi Capres Tak Ganggu Penyelidikan Kasus Formula E

KPK Tegaskan Deklarasi Anies jadi Capres Tak Ganggu Penyelidikan Kasus Formula E

Nasional
Prajurit Tendang Suporter saat Tragedi Kanjuruhan, Andika: Sudah Mengarah Pidana, Sangat Berlebihan!

Prajurit Tendang Suporter saat Tragedi Kanjuruhan, Andika: Sudah Mengarah Pidana, Sangat Berlebihan!

Nasional
Warganet Soroti Momen Ganjar yang Semobil dengan Jokowi, Bandingkan dengan Deklarasi Anies Capres

Warganet Soroti Momen Ganjar yang Semobil dengan Jokowi, Bandingkan dengan Deklarasi Anies Capres

Nasional
UPDATE 3 Oktober 2022: Bertambah 1.134, Kasus Covid-19 di Indonesia Capai 6.435.719

UPDATE 3 Oktober 2022: Bertambah 1.134, Kasus Covid-19 di Indonesia Capai 6.435.719

Nasional
Jokowi Didesak Tak Teken Keppres Pengangkatan Hakim Guntur Hamzah Pengganti Aswanto

Jokowi Didesak Tak Teken Keppres Pengangkatan Hakim Guntur Hamzah Pengganti Aswanto

Nasional
Pangkogabwilhan II Marsekal Muda Novyan Samyoga Meninggal Dunia

Pangkogabwilhan II Marsekal Muda Novyan Samyoga Meninggal Dunia

Nasional
Pertimbangkan Buka Penyelidikan Formula E, KPK: Supaya Masyarakat Tak Curiga

Pertimbangkan Buka Penyelidikan Formula E, KPK: Supaya Masyarakat Tak Curiga

Nasional
KPK Tak Terpengaruh Deklarasi Anies Jadi Capres, Penyelidikan Formula E Lanjut Terus

KPK Tak Terpengaruh Deklarasi Anies Jadi Capres, Penyelidikan Formula E Lanjut Terus

Nasional
Besok MKD Bakal Panggil Sekjen DPR, Cari Tahu Anggota Dewan yang Titipkan Pamdal

Besok MKD Bakal Panggil Sekjen DPR, Cari Tahu Anggota Dewan yang Titipkan Pamdal

Nasional
IPW Minta Polri Periksa Baim Wong dan Paula Usai Bikin Konten 'Prank' Laporan KDRT

IPW Minta Polri Periksa Baim Wong dan Paula Usai Bikin Konten "Prank" Laporan KDRT

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.