Kompas.com - 18/07/2022, 18:32 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sekretaris Jenderal DPP PDI-P Hasto Kristiyanto mengatakan bahwa partainya tak ingin terburu-buru dalam menentukan tokoh yang akan diusung pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Ia pun menyindir sebuah partai politik yang sudah memutuskan pengusungan capres terlebih dulu. Bahkan, partai itu mengusung kader partai lain.

"Ada satu partai yang elektoralnya turun, kemudian mencoba memunculkan kader partai lain, bahkan mencalonkan sosok yang seharusnya netral dalam politik. Hal-hal seperti ini biarkan rakyat yang menjadi hakim politik,” kata Hasto dalam keterangannya, Senin (18/7/2022).

Baca juga: Politisi PDI-P Sindir Anies: Jangan Nongkrong dengan Anak Muda SCBD Saat Warga Kebanjiran

Hasto tak menjelaskan partai apa yang dimaksudnya itu.

Ia menyampaikan hal itu saat hadir di Rapat Tiga Pilar Partai PDI-P Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Minggu (17/7/2022).

Untuk itu, Hasto meminta semua kader dan pengurus PDI-P tidak terpengaruh romantika politik pencapresan. PDI-P, kata dia, fokus turun ke bawah membantu rakyat.

"Karena itulah, kita lebih memilih bergerak ke bawah daripada berwacana. Kita tidak perlu ikut menanggapi apa yang dilakukan pihak lain," ucap Hasto.

Lebih lanjut, secara khusus Hasto meminta agar pengurus dan kader partai, termasuk di Kalteng, untuk tak terpengaruh mengenai capres-cawapres.

Baca juga: Diplomasi Gowes PDI-P dan PAN, PPP: Terlalu Pagi untuk Bicara Mbak Puan sebagai Capres dari KIB

Sebab, hal itu akan diputuskan oleh Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri sebagaimana mekanisme yang ditetapkan internal partai banteng moncong putih.

“Kader PDI-P harus taat asas. Ibu Mega mempertimbangkan yang terbaik bagi bangsa dan negara, mencari pemimpin yang betul-betul mengakar pada rakyat, dipimpin oleh ideologi Pancasila sehingga bisa menentukan arah masa depan. Itu yang dicari Bu Mega,” ujar Hasto.

Menurut Hasto, Megawati mencari seorang sosok pemimpin yang kuat secara ideologis.

Di sisi lain, sosok itu paling tidak, pernah berkeliling ke seluruh Indonesia dan benar-benar mengenal rakyatnya.

"Dengan berkeliling Indonesia, ia memahami kondisi Indonesia dengan keragaman budaya, sumber daya alam, hingga kondisi geografisnya yang dikelilingi lautan. Juga mencari sosok pemimpin yang bisa menyelesaikan masasalah rakyat dan membangun masa depan," ujar Hasto.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.