Kompas.com - 22/02/2022, 12:10 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Masjid Istiqlal genap berusia 44 tahun. Masjid itu diresmikan pada 22 Februari 1978.

Pembangunan Masjid Istiqlal membutuhkan waktu sampai 17 tahun sejak pendirian tiang pancang pada 1961. Penyebabnya adalah dalam masa pembangunannya terjadi beragam gejolak politik dan ekonomi.

Sejak diresmikan terjadi dua kali kejadian ledakan di Masjid Istiqlal. Yang pertama adalah pada 17 April 1978.

Menurut arsip surat kabar KOMPAS, ledakan itu terjadi pada Jumat, 14 April 1978, malam hari. Menurut laporan Kaskopkamtib Jenderal Daryono, ledakan itu merusak tempat dan tangga menuju lokasi imam.

Akan tetapi, mimbar Masjid Istiqlal masih utuh.

Dari hasil olah tempat kejadian perkara, bahan peledak yang digunakan pelaku adalah TNT (trinitrotoluena). Aparat bergerak memburu pelaku pada saat itu.

Dilaporkan sebanyak tujuh orang ditangkap terkait kasus ledakan di Masjid Istiqlal. Mereka dituduh melanggar pasal subversi.

Baca juga: Saat Muhammad Ali Bersujud di Istiqlal...

Salah satu yang ditahan adalah mantan tokoh Partai Masyumi dan bekas Menteri Keuangan Syafruddin Prawiranegara. Namun, menurut Pangdam Jawa saat itu, Mayjen Norman Sasono, Syafruddin ditahan akibat isi ceramah yang mengkritik hasil keputusan dan ketetapan Sidang Umum MPR pada 1978.

Kerugian akibat ledakan itu mencapai Rp 15 juta, yakni untuk mengganti marmer yang pecah dan miring akibat ledakan. Sedangkan dari segi konstruksi tidak mengalami kerusakan.

Sehari kemudian, aparat keamanan membebaskan enam dari tujuh orang yang dicurigai dalam peristiwa itu. Satu orang berinisial An masih ditahan karena aparat menemukan Kartu Tanda Penduduk (KTP) miliknya di dekat TKP.

Menurut pengakuan An, dia menginap beberapa malam sebelum peristiwa ledakan itu terjadi.

Prof. Hamka yang saat itu menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) menduga pelaku ledakan adalah kelompok kiri atau komunis. Dia berpendapat ledakan itu dilakukan untuk mengadu domba umat Islam dengan pemerintah dan umat beragama lain.

Ledakan bom pada 1999

Peristiwa ledakan di Masjid Istiqlal juga terjadi pada 19 April 1999 sekitar pukul 15.15 WIB.

Bom itu diletakkan para pelaku di sudut luar kantor Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI).

Akibat ledakan bahan peledak (disebut bom) itu, dinding lantai dasar masjid Istiqlal rusak, sekretariat masjid terbesar di Asia Tenggara itu mengalami kerusakan, dan pipa AC rusak. Sedangkan lima orang luka-luka akibat ledakan tersebut.

Kondisi politik dalam negeri saat itu tengah menghangat selepas reformasi dan lengsernya Presiden Soeharto pada 1998 dan menjelang Pemilu 1999. Peristiwa itu juga terjadi empat hari setelah ledakan serupa di lantai dasar Hayamwuruk Plaza yang diikuti perampokan bersenjata di BCA Cabang Pembantu Gang Kancil (Jl Keamanan), Jakarta Barat.

Baca juga: Masjid Istiqlal Dibangun di Bekas Benteng Belanda, Simbol Kemerdekaan dari Penjajah

Dari hasil pemeriksaan TKP diketahui bahan baku bom yang dipakai pelaku adalah TNT (Trinitro toluena) dan Kalium Chlorat (KClO3).

Mabes Polri lantas memburu orang-orang yang diduga pelaku. Penyidik kemudian menangkap tujuh orang yang disebut sebagai pelaku.

Mereka adalah Surya Setiawan bin Madhari Oedino alias Wawan (26), Nurli alias Ruly (20), Jamhuri Litamahu Putty alias Boy (20), Semi Sedubun bin Soeharto Djemling (22), Atin alias Japra bin Weli (17), Suradi bin A Sanusi (18), dan Uci Sanusi alias Uci Unus. Ternyata ketujuh orang itu berprofesi sebagai pengamen.

Mereka dicokok polisi dari sejumlah tempat di Jakarta dan Tangerang.

Ketujuh tersangka dijerat dengan pasal 1 ayat 1 Undang-Undang (UU) Darurat No 12/1951 jo pasal 55,56 KUHP mengenai Amunisi dan Bahan Peledak.

Baca juga: Kisah Friedrich Silaban: Pergolakan Batin Arsitek Masjid Istiqlal dan Kedekatannya dengan Soekarno

Menurut Wawan, dia terpaksa melakukan hal itu karena dia diancam seseorang yang misterius. Orang itu datang kepadanya dengan memperlihatkan foto keluarganya. Jika dia menolak maka keluarganya bakal dianiaya.

Wawan mengatakan sejak pertemuan pertama itu dia hanya menerima perintah tertulis untuk meletakkan bom itu. Sejumlah kendaraan yang digunakan pelaku ternyata sudah disiapkan di dekat penjual bakso di kawasan Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, serta sebuah mobil Suzuki Escudo.

Pada 18 Oktober 1999, Hakim Rasmudi Salamun dari Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menjatuhkan vonis 3.5 tahun penjara untuk Wawan.

Sumber:

KOMPAS edisi 17 April 1978: Ledakan di Masjid Istiqlal Jumat Malam, Tujuh Orang Ditahan untuk Pengusutan.

KOMPAS edisi 18 April 1978: Telah Dibebaskan, Enam dari Tujuh Orang yang Ditahan.

KOMPAS edisi 26 April 1978: Rp 15 Juta Biaya Perbaikan Masjid Istiqlal.

KOMPAS edisi 15 Juni 1999: Ungkap Kasus Peledakan Istiqlal: Para Tersangka di Bawah Ancaman.

KOMPAS edisi 16 Juni 1999: Rekonstruksi Peledakan Istiqlal Dijaga Ketat.

KOMPAS edisi 8 September 1999: Pelaku Peledakan di Masjid Istiqlal Mulai Diadili.

KOMPAS edisi 19 Oktober 1999: 3,5 Tahun untuk Pembom Istiqlal.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

PDI-P Pastikan Puan Bertemu Airlangga di Monas Besok Pagi

PDI-P Pastikan Puan Bertemu Airlangga di Monas Besok Pagi

Nasional
Prabowo Dampingi Jokowi Pimpin Upacara Parade Senja HUT Ke-77 TNI

Prabowo Dampingi Jokowi Pimpin Upacara Parade Senja HUT Ke-77 TNI

Nasional
AHY Singgung 'Continuity and Change': Mas Anies Memiliki Visi dan 'Spirit' yang Sama

AHY Singgung "Continuity and Change": Mas Anies Memiliki Visi dan "Spirit" yang Sama

Nasional
AHY Sebut Anies Pemimpin yang Dibutuhkan Bangsa

AHY Sebut Anies Pemimpin yang Dibutuhkan Bangsa

Nasional
Dulu Bersaing dengan Anies Baswedan di Pilkada DKI, AHY: Persahabatan Kami Tidak Retak

Dulu Bersaing dengan Anies Baswedan di Pilkada DKI, AHY: Persahabatan Kami Tidak Retak

Nasional
Soal Krisis Global, Puan: Parlemen Dunia Sepakat Tak Ada Negara yang Saling Serang dan Menyalahkan

Soal Krisis Global, Puan: Parlemen Dunia Sepakat Tak Ada Negara yang Saling Serang dan Menyalahkan

Nasional
Polisi Belum Tahan 6 Tersangka Tragedi Kanjuruhan

Polisi Belum Tahan 6 Tersangka Tragedi Kanjuruhan

Nasional
Anies Sebut Sejak Lama Interaksi dengan AHY, Sudah Terbangun 'Trust'

Anies Sebut Sejak Lama Interaksi dengan AHY, Sudah Terbangun "Trust"

Nasional
Tutup P20, Puan Maharani Sebut Parlemen Dunia Berkomitmen Atasi Persoalan Global

Tutup P20, Puan Maharani Sebut Parlemen Dunia Berkomitmen Atasi Persoalan Global

Nasional
Buntut Tewasnya 3 Siswa MTsN 19 Jakarta, Kemenag Akan Audit Bangunan Semua Madrasah

Buntut Tewasnya 3 Siswa MTsN 19 Jakarta, Kemenag Akan Audit Bangunan Semua Madrasah

Nasional
Bertemu AHY, Anies Singgung Aliran Baru Demokrat, Nasdem, dan PKS

Bertemu AHY, Anies Singgung Aliran Baru Demokrat, Nasdem, dan PKS

Nasional
Bertemu Anies Baswedan, AHY: Chemistry yang Terjadi Begitu Kuat

Bertemu Anies Baswedan, AHY: Chemistry yang Terjadi Begitu Kuat

Nasional
Buntut Tragedi Kanjuruhan, Muncul Petisi Berhenti Gunakan Gas Air Mata

Buntut Tragedi Kanjuruhan, Muncul Petisi Berhenti Gunakan Gas Air Mata

Nasional
Partai Masyumi Gugat KPU, Minta Diikutkan Verifikasi Parpol Calon Peserta Pemilu 2024

Partai Masyumi Gugat KPU, Minta Diikutkan Verifikasi Parpol Calon Peserta Pemilu 2024

Nasional
AHY Soal Pertemuan dengan Anies: Semoga Bisa Menjadi Awal untuk Kebersamaan

AHY Soal Pertemuan dengan Anies: Semoga Bisa Menjadi Awal untuk Kebersamaan

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.