Pemeriksaan Perdana Moeldoko: Jawab 20 Pertanyaan dan Belum Berniat Damai dengan ICW

Kompas.com - 13/10/2021, 05:20 WIB
Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko jalani pemeriksaan perdana di Mabes Polri terkait dengan pelaporannya pada dua peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) di Bareskrim Polri, Selasa (12/10/2021). Tatang Guritno / Kompas.coKepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko jalani pemeriksaan perdana di Mabes Polri terkait dengan pelaporannya pada dua peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) di Bareskrim Polri, Selasa (12/10/2021).

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko menjalani pemeriksaan perdana di Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa (12/10/2021).

Pemeriksaan itu terkait laporan Moeldoko yang diajukannya 10 September 2021 pada dua peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) Egi Primayogha dan Miftachul Choir atas dugaan pencemaran nama baik.

Moeldoko didampingi kuasa hukumnya Otto Hasibuan selesai diperiksa sebagai saksi pelapor pada pukul 15.15 Wib.

Otto menyebut Moeldoko menjalani pemeriksaan selama 1 jam.

Mantan Panglima TNI itu kemudian meninggalkan Bareskrim Polri sekitar pukul 15.30 setelah memberi keterangan singkat atas pemeriksaan yang dijalaninya.

20 pertanyaan

Moeldoko mengaku ditanya 20 pertanyaan oleh pihak kepolisian dalam pemeriksaan perdananya itu.

“Ya saya memenuhi panggilan dalam rangka selaku saksi pelapor ya. Ada 20 pertanyaan disampaikan tadi dan sudah saya jawab,” ungkap Moeldoko.

“Ya saya jawab seperti saya menghadapi situasi itu,” sambungnya.

Baca juga: Jalani Pemeriksaan Perdana, Moeldoko Merasa Jadi Warga Negara yang Baik

Moeldoko mengaku hadir untuk menunjukan sikap kooperatif pada proses penegakan hukum yang ditetapkan polisi.

“Saya selaku warga negara yang baik ya mengikuti prosedur dan aturan yang telah ditetapkan atau standar yang diterapkan kepolisian,” ucapnya.

Bukti dan saksi

Setelah menemani kliennya jalani pemeriksaan, kuasa hukum Moeldoko, Otto Hasibuan, mengungkapkan bahwa keterangan dan bukti-bukti yang diberikan pihaknya ke Bareskrim Polri digunakan untuk membuktikan bahwa tudingan ICW pada Moeldoko salah.

Otto mengatakan, semua bukti yang disiapkan tim kuasa hukum Moeldoko sudah cukup guna menunjukan bahwa ICW melakukan fitnah dan pencemaran nama baik pada kliennya.

“Fokusnya untuk membuktikan bahwa betul-betul ada peristiwa tindak pidana dugaan pencemaran nama baik dan fitnah,” jelas Otto.

Baca juga: Pihak Moeldoko Belum Pikirkan Upaya Damai dengan ICW

Ia menegaskan bahwa tudingan ICW bahwa Moeldoko terlibat perburuan rente atau pencarian keuntungan karena memiliki hubungan dengan produsen Ivermectin, PT Harsen Laboratories tidak benar.

Dalam proses selanjutnya, Otto akan berupaya menghadirkan 2 hingga 3 saksi dalam perkara ini.

Otto menerangkan, saksi tersebut penting untuk menunjukan bahwa ICW melakukan pencemaran nama baik pada Moeldoko melalui ranah digital, seperti YouTube dan website.

“Kami juga harus mengajukan saksi-saksi yang membuktikan bahwa siapa saja yang pernah melihat bukti-bukti (pencemaran nama baik) itu, melihat YouTube-nya, websitenya,” kata dia.

Belum pikirkan jalan damai

Otto menegaskan bahwa Moeldoko belum memikirkan upaya damai pada perkara ini.

“Kita kan melapor, karena kita yang melapor tentunya kita tidak ada pemikiran seperti itu,” katanya

Sebab proses hukum masih berjalan dan pihak kepolisian juga belum memanggil saksi dari pihak ICW.

“Karena menurut polisi mereka belum dipanggil juga kan terlapornya. Kita lihat saja nanti bagaimana selanjutnya,” pungkas Otto.

Duduk perkara

Persoalan antara Moeldoko dan dua peneliti ICW bermula dari pernyataan pers yang dibuat oleh organisasi antikorupsi itu bahwa Moeldoko memiliki hubungan dengan PT Harsen Laboratories sebagai produsen Ivermectin melalui seseorang bernama Sofia Koswara.

Peneliti ICW, Egi Primayogha menjelaskan, berdasarkan penelusuran yang dilakukan, Sofia merupakan Wakil Presiden PT Harsen Laboratories.

Dugaan Egi, Sofia juga menjabat sebagai direktur dan pemegang saham di PT Noorpay Perkasa.

Baca juga: Kuasa Hukum Moeldoko Siapkan Beberapa Saksi Terkait Kasus Dugaan Pencemaran Nama Baik

Hubungan Moeldoko dengan PT Harsen awalnya terjalin karena Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) melakukan kerjasama dengan PT Noorpay terkait ekspor beras.

Belakangan ICW menegaskan bahwa dugaan itu misinformasi, sebab yang terjadi kerjasama keduanya terjadi untuk mengirimkan beberapa kader HKTI belajar teknik pertanian di Thailand.

Kemudian Egi mencurigai hubungan Moeldoko juga nampak dari adanya temuan ICW bahwa Joanina Rachman, anak Moeldoko memiliki saham di PT Noorpay.

Pihak Moeldoko kemudian mengajukan tiga kali somasi pada ICW untuk meminta maaf dan mencabut pernyataannya.

Merasa tak direspon, Moeldoko membawa persoalan ini ke ranah hukum.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Korupsi di Lembaga Peradilan, Pukat UGM: Karena Keserakahan

Korupsi di Lembaga Peradilan, Pukat UGM: Karena Keserakahan

Nasional
Suharso Monoarfa Minta Kadernya Pakai Teknologi Dekati Pemilih Muda

Suharso Monoarfa Minta Kadernya Pakai Teknologi Dekati Pemilih Muda

Nasional
Jakarta, Jabar, Banten, Jatim, Bali Sumbang Kasus Covid-19 Harian Terbanyak

Jakarta, Jabar, Banten, Jatim, Bali Sumbang Kasus Covid-19 Harian Terbanyak

Nasional
UPDATE: Tambah 281.161 Total Spesimen Covid-19, Positivity Rate 1,65 Persen

UPDATE: Tambah 281.161 Total Spesimen Covid-19, Positivity Rate 1,65 Persen

Nasional
UPDATE 22 Januari 2022: Vaksinasi Covid-19 Dosis Kedua Capai 59,43 Persen dari Target

UPDATE 22 Januari 2022: Vaksinasi Covid-19 Dosis Kedua Capai 59,43 Persen dari Target

Nasional
Temui Warga Tergusur di Tanjung Priok, Giring Singgung Proyek Firaun

Temui Warga Tergusur di Tanjung Priok, Giring Singgung Proyek Firaun

Nasional
Tingginya Penambahan Covid-19 dalam 3 Hari, Terbaru 3.205 Kasus

Tingginya Penambahan Covid-19 dalam 3 Hari, Terbaru 3.205 Kasus

Nasional
Kemenkes: Dua Pasien Omicron yang Meninggal Dunia Punya Komorbid

Kemenkes: Dua Pasien Omicron yang Meninggal Dunia Punya Komorbid

Nasional
BREAKING NEWS: 2 Pasien Covid-19 Varian Omicron Meninggal Dunia

BREAKING NEWS: 2 Pasien Covid-19 Varian Omicron Meninggal Dunia

Nasional
UPDATE: 16.692 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

UPDATE: 16.692 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

Nasional
Duduk Perkara Dugaan Suap dari Istri Bandar Narkoba yang Sebabkan Kapolrestabes Medan Dicopot

Duduk Perkara Dugaan Suap dari Istri Bandar Narkoba yang Sebabkan Kapolrestabes Medan Dicopot

Nasional
Rekor Lagi, 3.205 Kasus Baru Covid-19 Dalam Sehari, Jakarta Tertinggi

Rekor Lagi, 3.205 Kasus Baru Covid-19 Dalam Sehari, Jakarta Tertinggi

Nasional
Jokowi: Saat Pandemi Terlihat Kita Tidak Siap, Keduluan Penyakitnya

Jokowi: Saat Pandemi Terlihat Kita Tidak Siap, Keduluan Penyakitnya

Nasional
UPDATE 22 Januari 2022: Ada 7.612 Suspek Terkait Covid-19

UPDATE 22 Januari 2022: Ada 7.612 Suspek Terkait Covid-19

Nasional
UPDATE 22 Januari 2022: Tambah 627, Jumlah Kasus Sembuh Covid-19 Jadi 4.122.555

UPDATE 22 Januari 2022: Tambah 627, Jumlah Kasus Sembuh Covid-19 Jadi 4.122.555

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.