545 Dokter Gugur, Tingginya Kasus Covid-19 yang Membuat Beban Kerjanya Meningkat...

Kompas.com - 19/07/2021, 09:43 WIB
Dua orang tenaga kesehatan beristirahat sejenak saat menunggu pasien di ruang isolasi Covid-19 Rumah Sakit Umum (RSU) Dadi Keluarga, Kabupetan Ciamis, Jawa Barat, Senin (14/6/2021). RSU tersebut menambah ruang isolasi untuk pasien Covid-19 menjadi 22 kamar serta menambah jumlah tenaga medis sekaligus memperpanjang jam shift kerja, untuk mengantisipasi lonjakan karena Ciamis masuk dalam zona merah Covid-19 dan Jabar masuk kategori sinyal bahaya penularan Covid-19 dari Kemenkes. ANTARA FOTO/ADENG BUSTOMIDua orang tenaga kesehatan beristirahat sejenak saat menunggu pasien di ruang isolasi Covid-19 Rumah Sakit Umum (RSU) Dadi Keluarga, Kabupetan Ciamis, Jawa Barat, Senin (14/6/2021). RSU tersebut menambah ruang isolasi untuk pasien Covid-19 menjadi 22 kamar serta menambah jumlah tenaga medis sekaligus memperpanjang jam shift kerja, untuk mengantisipasi lonjakan karena Ciamis masuk dalam zona merah Covid-19 dan Jabar masuk kategori sinyal bahaya penularan Covid-19 dari Kemenkes.


JAKARTA, KOMPAS.com - Jumlah dokter di Indonesia yang gugur akibat Covid-19 sudah melewati 500 orang selama lebih dari 500 hari pandemi berlangsung.

Data Tim Mitigasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) hingga 17 Juli 2021 menunjukkan, terdapat 545 orang dokter di Indonesia yang meninggal dunia akibat Covid-19.

Ketua Pelaksana Harian Tim Mitigasi Dokter IDI Mahesa Paranadipa mengatakan, atas kondisi tersebut pihaknya mengkhawatirkan terjadinya fasilitas kesehatan yang kolaps.

"Data per 17 Juli 2021, total 545 kematian dokter di Indonesia. Kami khawatir kita masuk dalam potensi kolaps jika melihat data kematian dokter saja," kata Mahesa dalam Update Kondisi Dokter dan Strategi Upaya Mitigasi Risiko mencegah Kolapsnya Fasilitas Kesehatan, Minggu (18/7/2021).

Baca juga: IDI: 545 Dokter Gugur akibat Covid-19, Faskes Berpotensi Kolaps

Mahesa menuturkan, pada Juli saja, angka kematian dokter akibat Covid-19 mencapai 114 dokter. Angka tersebut sudah lebih dari 100 persen dari jumlah kematian yang terjadi pada Juni 2021.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Ini baru data yang sudah dilaporkan karena kemungkinan masih ada data yang belum dilaporkan," kata dia.

Berdasarkan data yang masuk, angka kematian dokter akibat Covid-19 tersebut paling banyak tercatat di Jawa Timur yang menembus angka 110 orang.

Disusul oleh DKI Jakarta sebanyak 83 orang, Jawa Tengah 81 orang, Jawa Barat 76 orang, dan Sumatera Utara 38 orang.

Baca juga: IDI: Angka Kematian Dokter akibat Covid-19 Paling Tinggi di Jawa Timur

Data juga menunjukkan bahwa dokter laki-laki paling banyak yang meninggal dunia akibat Covid-19 tersebut.

"Karena tugas-tugas yang banyak dikerjakan dokter laki-laki di area isolasi Covid-19, walaupun banyak juga dokter perempuan bertugas. Ini terus kami pantau kondisinya ke depan," kata dia.

Sementara dari spesialisasi, kata dia, paling banyak yang menjadi korban adalah dokter umum, spesialis kandungan dan kebidanan, penyakit dalam, anak, bedah, anestesi, dan THT.

Mahesa mengatakan, IDI fokus memantau kondisi para dokter karena jumlah yang meninggal dunia saat ini merupakan tulang punggung pelayanan kesehatan.

"Tidak semua dokter spesialis turun ke isolasi karena mempertimbangkan faktor risiko komorbid, dan lainnnya," ucap dia.

Baca juga: Dewan Penasihat IDI Ingatkan Pasien Covid-19, Isolasi Mandiri Harus atas Penilaian Dokter

Tenaga medis ruang rawat Pinere Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Meuraxa memakai kostum Alat Pengaman Diri (APD) COVID-19 di Banda Aceh, Aceh, Senin (3/5/2021). Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Kesehatan pada 2 Mei 2021 jumlah kasus COVID-19 meningkat dari 1.672.880 kasus pada 1 Mei 2021 menjadi  1.677.274 kasus atau terjadi peningkatan 4.394 kasus dalam satu hari. ANTARA FOTO / Irwansyah Putra/aww.ANTARA FOTO/IRWANSYAH PUTRA Tenaga medis ruang rawat Pinere Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Meuraxa memakai kostum Alat Pengaman Diri (APD) COVID-19 di Banda Aceh, Aceh, Senin (3/5/2021). Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Kesehatan pada 2 Mei 2021 jumlah kasus COVID-19 meningkat dari 1.672.880 kasus pada 1 Mei 2021 menjadi 1.677.274 kasus atau terjadi peningkatan 4.394 kasus dalam satu hari. ANTARA FOTO / Irwansyah Putra/aww.

Kelebihan beban kerja

Mahesa mengatakan, lonjakan pasien Covid-19 yang cukup tinggi belakangan ini menyebabkan para dokter kelebihan beban kerja.

Meski sebagian besar dokter sudah divaksinasi Covid-19, kata dia, tidak berarti bahwa dokter akan terhindar dari paparan Covid-19.

"Walaupun (dokter) sudah divaksinasi, hampir sebagian besar sudah divaksin, tapi karena lonjakan pasien yang cukup tinggi menyebabkan overload beban kerja," ujar Mahesa.

Mahesa mengatakan, dalam waktu lama, lonjakan pasien tersebut dikhawatirkan membuat para dokter kelelahan. Kondisi itu menyebabkan imunitas kesehatan para dokter menurun.

"Walaupun terbukti vaksinasi kepada tenaga kesehatan efektif, tapi lonjakan (kasus Covid-19) dari hari ke hari, daya imun dokter-dokter di lapangan terus mengalami permasalahan," ujar dia.

Baca juga: Jumlah Pasien Covid-19 Melonjak, Dokter Disebut Kelebihan Beban Kerja

Walaupun di daerah sudah banyak dokter yang ditarik untuk ditempatkan di fasilitas-fasilitas kesehatan seperti di Jakarta, kata dia, kondisi itu harus dipantau.

Dia berharap tidak terjadi lonjakan kasus Covid-19 di daerah yang tenaga kesehatannya ditarik ke wilayah lain.

Oleh karena itu, edukasi kepada masyarakat untuk menjalankan protokol kesehatan dengan disiplin harus dilakukan.

Kemudian, yang paling penting, kata dia, adalah kebijakan pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19 untuk melindungi dan menyelamatkan masyarakat.

Faktor tingginya kematian

Hal senada juga disampaikan Ketua Pengurus Besar IDI Adib Khumaidi. Adib mengatakan, melonjaknya kasus Covid-19 dan pekerjaan yang berlebih (overload) menjadi salah satu faktor tingginya kematian tenaga medis.

"Dengan tingginya kasus, overload-nya pekerjaan yang saat ini dihadapi menjadi salah satu faktor tingginya kematian pada tenaga medis," ujar Adib.

Baca juga: IDI: Disiplin Prokes Rendah Jadi Salah Satu Sebab Kenaikan Kasus Covid-19

Meskipun sudah divaksin, kata dia, tetapi hal tersebut tidak dapat dihindari karena ada banyak faktor penyebab kematian yang bisa dianalisis.

Salah satunya tingginya kasus yang berdampak pada berlebihnya beban kerja para tenaga medis tersebut dan mempengaruhi kesehatan mereka.

Saat ini, kata dia, pihaknya masih memperbaharui kondisi masalah vaksinasi dan data komorbid lain yang dialami para tenaga medis.

"Karena kalau kita lihat, dengan peningkatan angka kematian (medis) Juni-Juli, bahkan Juli sudah melebih puncaknya saat Januari, ini memang banyak faktor yang bisa dianalisis," kata Adib.

Baca juga: Dewan Penasihat IDI Usul Dokter Puskesmas Ditetapkan Jadi Manajer Kesehatan Wilayah

Pada bulan Februari 2021, IDI sudah mengasumsikan kematian tenaga kesehatan, termasuk dokter dianggap sudah melaksanakan vaksin pada Januari.

Saat itu, kata dia, data Februari hingga 24 Juni 2021 menunjukkan ada 86 dokter yang meninggal.

"Sebanyak 24 persennya sudah divaksin. Kemudian 41 persen itu belum divaksin, sisanya perlu dikonfirmasi," ujar dia.

Oleh karena itu, apabila penyebaran virus corona tidak dihentikan maka akan menyebabkan tingginya kasus.

Baca juga: Wapres: Jangan Sampai Penyelenggaraan Ibadah Idul Adha Timbulkan Klaster Covid-19

Tingginya kasus memicu tingginya kasus aktif, tingginya kesembuhan, tingginya kematian, tingginya beban rumah sakit, tingginya tenaga kesehatan yang kelelahan, dan tingginya kematian tenaga kesehatan.

"Kondisi kita sekarang inline dari overload kenaikan kasus yang berdampak pada paparan yang lebih tinggi dan tingkat kematian yang tinggi baik pada dokter maupun tenaga kesehatan lain," kata dia.

Adib mengatakan, saat kasus meninggi maka perawatan pasien Covid-19 pun akan penuh yang membuat pasien menumpuk dan mengakibatkan tenaga kesehatan banyak ikut terpapar.

Hal tersebut juga berarti bahwa fasilitas pelayanan kesehatan bagi pasien non Covid-19 pun akan ikut turun.

Baca juga: UPDATE: Kasus Covid-19 Turun, tetapi Testing Juga Anjlok

Sementara itu, Dokter Spesialis Paru sekaligus Dewan Penasehat Tim Mitigasi IDI Menaldi Rasmin mengusulkan agar dokter puskesmas di setiap daerah ditetapkan menjadi manajer kesehatan wilayah.

Oleh karena itu, dia meminta IDI agar para dokter di puskesmas dibebaskan dari kewajiban tugas merawat inap pasien Covid-19 maupun pasien lainnya.

"Dokter di puskesmas saya minta untuk diwacanakan agar diangkat, ditetapkan menjadi manajer kesehatan wilayah yang mengatur, mengedukasi kesehatan, dan bertanggung jawab atas vaksinasi," kata Menaldi.

Menurut Menaldi, harus ada dokter di suatu wilayah yang bertugas mengendalikan penyakit dan menjaga masyarakat wilayah tersebut. Dengan menetapkan dokter tersebut menjadi manajer, risikonya tertular akan lebih sedikit.

"Tapi kalau dokternya jadi pelaku langsung, berhadapan langsung dengan penyakit, maka dokternya berhadapan dengan risiko ikut sakit," kata dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tiga Tersangka Kasus Dugaan Korupsi di Perum Perindo Ditahan Terpisah

Tiga Tersangka Kasus Dugaan Korupsi di Perum Perindo Ditahan Terpisah

Nasional
Kunjungan Kerja, Wapres Puji Mal Pelayanan Publik Banyuwangi

Kunjungan Kerja, Wapres Puji Mal Pelayanan Publik Banyuwangi

Nasional
KSAL: TNI AL Harus Siap Hadapi Ancaman Konvensional dan Nonkonvensional

KSAL: TNI AL Harus Siap Hadapi Ancaman Konvensional dan Nonkonvensional

Nasional
Novel Baswedan Laporkan Pimpinan KPK Lili Pintauli ke Dewas

Novel Baswedan Laporkan Pimpinan KPK Lili Pintauli ke Dewas

Nasional
Kejagung Ungkap Peran 3 Tersangka Kasus Dugaan Korupsi di Perum Perindo

Kejagung Ungkap Peran 3 Tersangka Kasus Dugaan Korupsi di Perum Perindo

Nasional
Salah Satu Saksi Kasus Dugaan Korupsi Perum Perindo Meninggal Dunia saat Hendak Diperiksa Kejagung

Salah Satu Saksi Kasus Dugaan Korupsi Perum Perindo Meninggal Dunia saat Hendak Diperiksa Kejagung

Nasional
Muzani: Gerindra Ingin Belajar dari Loyalitas Santri kepada Kiai

Muzani: Gerindra Ingin Belajar dari Loyalitas Santri kepada Kiai

Nasional
Saksi Sebut Sarana Jaya Awalnya Ajukan Anggaran Rp 5,5 Triliun Dalam Penyertaan Modal Daerah

Saksi Sebut Sarana Jaya Awalnya Ajukan Anggaran Rp 5,5 Triliun Dalam Penyertaan Modal Daerah

Nasional
Kejagung Tetapkan 3 Tersangka Kasus Korupsi Perum Perindo

Kejagung Tetapkan 3 Tersangka Kasus Korupsi Perum Perindo

Nasional
Naik Pesawat ke Wilayah Level 3 dan 4 Non Jawa-Bali Juga Wajib Tes PCR

Naik Pesawat ke Wilayah Level 3 dan 4 Non Jawa-Bali Juga Wajib Tes PCR

Nasional
Kemenkes Klaim Indonesia Jadi Negara Non Produsen Vaksin Covid-19 yang Capaian Vaksinasinya Terbaik

Kemenkes Klaim Indonesia Jadi Negara Non Produsen Vaksin Covid-19 yang Capaian Vaksinasinya Terbaik

Nasional
3 Orang dan 1 Korporasi Tersangka Kasus Pengadaan Lahan di Munjul Segera Disidang

3 Orang dan 1 Korporasi Tersangka Kasus Pengadaan Lahan di Munjul Segera Disidang

Nasional
Sebaran 15.594 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia pada 21 Oktober 2021

Sebaran 15.594 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia pada 21 Oktober 2021

Nasional
UPDATE 21 Oktober: Ada 4.336 Kasus Suspek Covid-19

UPDATE 21 Oktober: Ada 4.336 Kasus Suspek Covid-19

Nasional
Pengacara Sebut Luhut Tak Datang Mediasi Atas Permintaan Penyidik

Pengacara Sebut Luhut Tak Datang Mediasi Atas Permintaan Penyidik

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.