Kompas.com - 28/01/2021, 15:27 WIB
Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron dalam konferensi Kinerja KPK Semester I 2020, Selasa (18/8/2020). Dokumentasi/Biro Humas KPKWakil Ketua KPK Nurul Ghufron dalam konferensi Kinerja KPK Semester I 2020, Selasa (18/8/2020).
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Nurul Ghufron menyatakan, korupsi bukan hanya menjadi beban penegak hukum melainkan beban bagi semua pihak.

Hal ini disampaikan Ghufron menanggapi turunnya indeks persepsi korupsi (IPK) Indonesia yang turun dari 40 menjadi 37 pada 2020 sebagaimana dirilis oleh Transparency International Indonesia (TII).

"KPK menggambarkan bahwa korupsi itu bukan hanya beban KPK, bukan hanya beban penegak hukum lainnya tetapi sesungguhnya beban bangsa kita semua," kata Ghufron dalam diskusi yang disiarkan akun Facebook TII, Kamis (28/1/2021).

Ghufron beralasan, berdasarkan survei TII, korupsi di sektor ekonomi dan investasi, serta politik dan demokrasi dinilai menjadi penyebab turunnya IPK.

Baca juga: Skor Turun, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Setara Gambia dan di Bawah Timor Leste

Sementara, korupsi di sektor penegakan hukum justru memiliki nilai yang meningkat dibanding tahun sebelumnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Karenanya KPK tidak bisa sendiri karena sektor investasi dan ekonomi dan juga sektor politik dan demokrasi itu semuanya adalah sayap-sayap yang tidak kemudian mampu hanya ditopang oleh KPK sendiri," ujar Ghufron.

Ghufron mencontohkan, terkait korupsi di sektor politik, perlu kerja sama dari seluruh pihak mulai dari peserta pemilu, penyelenggara pemilu, hingga masyarakat sebagai pemilik hak suara.

"Ini yang mari kita jadikan momen bahwa sekali lagi sektor baik ekonomi dan investasi, kemudian sektor penegakan hukum, sektor politik maupun demokrasi adalah tiga sektor yang kemudian harus bersih semuanya," kata dia.

Baca juga: Indeks Persepsi Korupsi Indonesia pada 2020 Turun Jadi 37, Peringkat 102 di Dunia

Diberitakan sebelumnya, IPK Indonesai tahun 2020 turun menjadi 37 dari angka 40 apda 2019 lalu.

Secara peringkat, posisi Indonesia juga melorot dari peringkat 85 menjadi peringkat 102 dari 180 negara yang diukur oleh IPK-nya.

"Jika tahun 2019 lalu kita berada pada skor 40 dan ranking 85, ini 2020 kita berada di skor 37 dan ranking 102. Negara yang mempunyai skor dan ranking sama dengan Indonesia adalah Gambia," kata Manajer Departemen Riset TII Wawan Suyatmiko.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.