Humanisme Transendental, Cita-cita Jakob Oetama dalam Memperjuangkan Kukuhnya Indonesia

Kompas.com - 09/09/2020, 15:17 WIB
[ARSIP] Pemimpin Umum Harian Kompas, Jacob Oetama hadir pada perayaan syukuran dan peluncuran buku HUT Ke-50 Harian Kompas di Bentara Budaya Jakarta, Minggu (28/6/2015). Pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama (88) meninggal dunia di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (9/9/2020). KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO[ARSIP] Pemimpin Umum Harian Kompas, Jacob Oetama hadir pada perayaan syukuran dan peluncuran buku HUT Ke-50 Harian Kompas di Bentara Budaya Jakarta, Minggu (28/6/2015). Pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama (88) meninggal dunia di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (9/9/2020).
Penulis Dani Prabowo
|

"Kami ingin membangun Indonesia kecil. Rohnya Indonesia kecil. Semangat yang mendasari humanisme transendental," - Jakob Oetama.

JAKARTA, KOMPAS.com - Tulisan tersebut dapat dilihat secara jelas bila ada tamu yang masuk ke dalam ruangan kantor redaksi Kompas.com yang berada di Lantai 5 Gedung Kompas Gramedia Jalan Palmerah Selatan Nomor 22-28, Jakarta.

Tulisan tersebut merupakan cita-cita Jakob dan PK Ojong, pendiri Kompas Gramedia, yang memperjuangkan kukuhnya Indonesia yang majemuk dan menjunjung tinggi kemanusiaan universal.

Baca juga: Mengenang Jakob Oetama, Pendiri Kompas Gramedia yang Bercita-cita Menjadi Guru

Rohaniawan Jesuit, Sindhunata, yang pernah bekerja di Harian Kompas pada kurun 1977-1980, pernah menjelaskan bahwa humanisme transendental bukan hanya berarti keterarahan manusia kepada Yang Transenden.

Keterbukaan akan Tuhan perlu dimengerti dengan keterbukaan pada dunia. Bahkan, dalam memahami Tuhan, manusia ditentukan oleh keterkaitannya pada dunia, yang membatasinya pada suatu saat dan sejarah tertentu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Istilah humanisme transendental awalnya memang selalu digunakan oleh tokoh pers Indonesia itu. Namun, pada tahun 2000-an, Jakob lebih sering menggunakan kata 'kemanusiaan yang beriman'. Keduanya memiliki makna yang sama, manusia yang berpusat pada yang ilahi.

Baca juga: Cerita Fahri Hamzah Gemar Kliping Artikel Jakob Oetama...

Agama setiap orang mungkin berbeda, tetapi kemanusiaan itu satu. Sejatinya, setiap agama memperjuangan kemaslahatan umat manusia.

Oleh karena itu, saling menghormati dalam kemajemukan perlu dijaga agar setiap tradisi religius bisa mengembangkan perjuangan kemanusiaannya yang akan memperkaya hidup manusia.

Diketahui, Jakob Oetama meninggal dunia pada usia 88 tahun di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (9/9/2020).

Jakob tutup usia pada pukul 13.05 WIB setelah menjalani perawatan lantaran mengalami gangguan multiorgan.

Rencananya, Jakob Oetama akan disemayamkan di Gedung Kompas Gramedia untuk memberikan kesempatan kepada para karyawan, mantan karyawan, serta pihak-pihak yang mengenalnya untuk memberikan penghormatan terakhir.

Baca juga: Jenazah Jakob Oetama Akan Disemayamkan di Gedung Kompas Gramedia

Selanjutnya, Jakob akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata pada Kamis (10/9/2020) esok.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.