Kompas.com - 10/06/2020, 18:51 WIB
Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri Judha Nugraha. KOMPAS.com/SANIA MASHABIDirektur Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri Judha Nugraha.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) mengaku sudah melakukan berbagai upaya agar isu ekspolitasi anak buah kapal (ABK) Indonesia di kapal ikan China Long Xing 629 dibahas pada tingkat bilateral.

"Untuk mengangkat isu ini di level bilateral kedua negara, pertama kita sudah memanggil duta besar RRT (Republik Rakyat Tiongkok) yang ada di Jakarta," kata Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia Kemenlu, Judha Nugraha melalui telekonferensi, Rabu (10/6/2020).

Baca juga: Kemenlu: Moratorium ABK Indonesia di Kapal Ikan Asing Tak Selesaikan Masalah

Menurut Judha, pihaknya juga sudah mengirimkan nota diplomatik terkait beberapa kasus ABK di kapal ikan berbendera China, termasuk kasus kapal Long Xing.

Bahkan, Duta Besar Indonesia untuk China sudah bertemu dengan pejabat Kementerian Luar Negeri China untuk membahas kasus tersebut.

"Kami sudah mendapatkan konfirmasi bahwa otoritas RRT sedang melaksanakan penyidikan atas beebagai kasus yang menimpa awak kapal Indonesia," ujarnya.

"Namun kami belum mendapatkan update lebih lanjut mengenai hasil penyeledikan tersebut," ucap Judha.

Baca juga: Tiga Agen ABK WNI Kapal Long Xing 629 Jadi Tersangka Perdagangan Orang

Beberapa waktu lalu dikabarkan ada ABK Indonesia yang diduga mengalami eksploitasi dan dilarung dari kapal ikan Long Xing 629.

Dalam video yang ditayangkan media Korea Selatan MBC, ada kesaksian ABK Indonesia yang bekerja di kapal tersebut.

Dalam video itu, kanal MBC Korea Selatan memberikan tajuk Eksklusif, 18 jam sehari kerja. Jika jatuh sakit dan meninggal, lempar ke laut.

Seorang awak kapal Indonesia mengungkapkan, dia merasa pusing karena tidak biasa meminum air laut dan mengaku seperti ada dahak yang keluar dari tenggorokan.

Ia juga menyebutkan, mereka bekerja sehari selama 18 jam, di mana dia pernah berdiri selama 30 jam.

Kemudian mereka mendapat enam jam untuk makan, di mana pada waktu inilah saksi mengungkapkan mereka memanfaatkannya untuk duduk.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X