Imaji Harapan dan Ancaman di Masa Pandemi

Kompas.com - 03/06/2020, 19:12 WIB
Koordinator Distribusi Posko Merah Putih Kasih Foundation JHL Group Marcelinus Enggala (kanan) menyerahkan bantuan kepada perwakilan Pewarta Foto Indonesia (PFI) Hendra Eka (tengah) di Tangerang, Banten, Minggu (3/5/2020). Merah Putih Kasih Foundation memberikan donasi Alat Pelindung Diri (APD) dan masker kepada jurnalis foto sebagai bentuk kepedulian dan upaya pencegahan penyebaran wabah COVID-19. ANTARA FOTO/FAUZANKoordinator Distribusi Posko Merah Putih Kasih Foundation JHL Group Marcelinus Enggala (kanan) menyerahkan bantuan kepada perwakilan Pewarta Foto Indonesia (PFI) Hendra Eka (tengah) di Tangerang, Banten, Minggu (3/5/2020). Merah Putih Kasih Foundation memberikan donasi Alat Pelindung Diri (APD) dan masker kepada jurnalis foto sebagai bentuk kepedulian dan upaya pencegahan penyebaran wabah COVID-19.

BEBERAPA waktu lalu organisasi profesi jurnalis foto Pewarta Foto Indonesia (PFI) mengadakan diskusi daring tentang optimisme di masa pandemi Covid-19. Dalam diskusi itu dibahas bagaimana jurnalis foto dapat berperan memupuk harapan di masa krisis yang tidak terlihat ujung akhirnya ini.

Di saat krisis seperti ini, jurnalis dibutuhkan untuk tak hanya mewartakan tapi juga menjadi pendukung kemanusiaan. Yaitu dengan mendistribusikan kabar yang akurat, faktual, kredibel, dan mendorong semangat kebangkitan.

Jurnalisme di Tanah Air terutama visual telah terbukti menjadi pendorong kebangkitan tiap kali bencana datang.

Kita tentu ingat bagaimana masyarakat di luar Sumatera bahu membahu menggalang bantuan ketika Tsunami menghantam Aceh pada 2004 silam.

Hal serupa terjadi ketika gempa dan Tsunami meluluh lantakkan Palu dan Donggala pada 2018.

Namun, sekarang jurnalisme menghadapi kondisi bencana yang sama sekali berbeda. Kerja reportase berubah, pertama soal pengumpulan informasi dan kedua soal keamanan diri.

Proses pengumpulan informasi berubah, banyak data hanya disampaikan oleh narasumber secara satu arah dan akses gerak jurnalis juga terbatas.

Adapun soal keamanan, jurnalis dihinggapi kekhawatiran bahwa meski dengan pengaman yang memadai dan kehati-hatian, tak ada jaminan bahwa mereka tidak akan terpapar Covid-19.

Bila di situasi bencana lain fotografer dan korban bencana sebagai narasumber berada di situasi yang berbeda, sekarang fotografer menghadapi risiko berada di situasi yang sama dengan narasumber, yaitu berubah menjadi korban.

Fotografer memutar otak untuk memotret dengan batasan itu. New York Magazine edisi terbaru menggunakan foto sampul depan tanpa fotografer berada langsung di hadapan subyeknya.

Potret penyintas holocaust Marga Greisbach berusia 92 tahun dibuat dengan perantara aplikasi Zoom. Fotografer Christopher Anderson berada di Paris dan narasumber berada di Washington.

Anderson menangkap tampilan layar yang ia arahkan dengan bantuan anak Greisbach, Deborah sebagai asisten fotografer dadakan.

Indonesia kini telah tiga bulan menghadapi corona sejak diumumkan masuk ke Indonesia oleh Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Jakarta, 2 Maret 2020.

Virus corona jenis baru ini telah menghancurkan banyak sendi kehidupan termasuk ekonomi.

Dalam diskusi yang digelar PFI itu digagas, jurnalis foto akan mengambil peran mendorong optimisme.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

KPK Pastikan Status DPO Terhadap Sjamsul Nursalim Tetap Berlaku

KPK Pastikan Status DPO Terhadap Sjamsul Nursalim Tetap Berlaku

Nasional
Pengacara Sjamsul Nursalim Minta Nama Kliennya Dihapus dari DPO KPK

Pengacara Sjamsul Nursalim Minta Nama Kliennya Dihapus dari DPO KPK

Nasional
Akui Unggah Foto Natalis Pigai, Relawan Jokowi-Ma'ruf Amin: Itu Kritik Satire

Akui Unggah Foto Natalis Pigai, Relawan Jokowi-Ma'ruf Amin: Itu Kritik Satire

Nasional
Bertambah 4 Jenazah, Total 53 Korban Sriwjaya Air SJ 182 Teridentifikasi

Bertambah 4 Jenazah, Total 53 Korban Sriwjaya Air SJ 182 Teridentifikasi

Nasional
Mendagri: Vaksin Covid-19 Bukan Obat

Mendagri: Vaksin Covid-19 Bukan Obat

Nasional
Soal Dugaan Rasisme terhadap Natalius Pigai, Polri Imbau Masyarakat Percayakan ke Polisi

Soal Dugaan Rasisme terhadap Natalius Pigai, Polri Imbau Masyarakat Percayakan ke Polisi

Nasional
582 Tenaga Kesehatan di RSD Wisma Atlet Telah Disuntik Vaksin Covid-19

582 Tenaga Kesehatan di RSD Wisma Atlet Telah Disuntik Vaksin Covid-19

Nasional
Anggaran Kemenhub Dipangkas Rp 12,44 Triliun untuk Pengadaan Vaksin Covid-19

Anggaran Kemenhub Dipangkas Rp 12,44 Triliun untuk Pengadaan Vaksin Covid-19

Nasional
PPKM Dinilai Tak Berhasil, Pemerintah Diminta Kembali Terapkan PSBB

PPKM Dinilai Tak Berhasil, Pemerintah Diminta Kembali Terapkan PSBB

Nasional
CISDI: Sulit bagi Pemerintah Cepat Membalik Keadaan Saat Pandemi Covid-19 Jadi Lebih Baik

CISDI: Sulit bagi Pemerintah Cepat Membalik Keadaan Saat Pandemi Covid-19 Jadi Lebih Baik

Nasional
Kasus Suap Bansos, KPK Dalami Pemberian Uang ke Dirjen Linjamsos dan Pihak Lain di Kemensos

Kasus Suap Bansos, KPK Dalami Pemberian Uang ke Dirjen Linjamsos dan Pihak Lain di Kemensos

Nasional
Kemensos: Sesuai Arahan Mensos Risma, Kami Bawa Makanan untuk Korban Banjir Paniai

Kemensos: Sesuai Arahan Mensos Risma, Kami Bawa Makanan untuk Korban Banjir Paniai

Nasional
Mendagri Apresiasi Menkes Budi Gunadi yang Gunakan Data KPU untuk Vaksinasi Covid-19

Mendagri Apresiasi Menkes Budi Gunadi yang Gunakan Data KPU untuk Vaksinasi Covid-19

Nasional
KPK Rampungkan Penyidikan Tersangka Penyuap Wali Kota Cimahi

KPK Rampungkan Penyidikan Tersangka Penyuap Wali Kota Cimahi

Nasional
Perludem: Ambang Batas Parlemen Gagal Sederhanakan Sistem Kepartaian

Perludem: Ambang Batas Parlemen Gagal Sederhanakan Sistem Kepartaian

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X