Kompas.com - 27/04/2020, 05:35 WIB

Kita berdiri di tubir jurang pilihan, antara tetap tegar menghadapi cobaan berat yang melanda seantero bumi, atau menyerah kalah dalam ketidakberdayaan. Itulah kondisi paradoks yang kita hadapi untuk menyambut zaman baru yang gilang gemilang.

Ketidaknyamanan pengurungan ini harus memperteguh kemanusiaan kita dalam mengambil keputusan mengubah kerangka berpikir.

Kita semua mesti menghidupkan segala daya demi melahirkan sebuah revolusi besar, lalu mengeluarkan kita dari sistem bobrok yang menghancurkan makhluk hidup, alam, memperbudak manusia, dan membekap jiwa kita saat ini.

Sebuah sistem gila yang dipaksakan oleh dunia modern yang sedang meringis dan mengancam.

Tujuan revolusi ini jelas, kita harus menghasilkan perubahan mengakar dalam cara hidup, berproduksi, mengonsumsi, bekerja, bermasyarakat, dan berhubungan dengan semesta raya.
Tanda-tanda ke arah itu kini sedang kita jalani, meski dengan berat hati.

Seluruh umat manusia terbangun dari kealpaan dan mulai dipererat oleh bencana. Lihatlah sekarang, mereka yang kaya dan miskin jadi setara dan sama lemahnya. Tingkat pencemaran udara-cahaya menurun drastis. Kota-kota bisa tidur dengan nyenyak. Konflik kemanusiaan dipaksa berhenti total. Setia kawan rasa baru berkembang secara tiba-tiba.

Tengok dan rasakanlah bagaimana kita dan keluarga menemukan kembali momen untuk saling berbicara, bertukar asa. Setiap orang juga mendapatkan lagi waktu yang selama ini hilang darinya untuk menilai kualitas diri sendiri.

Kaca benggala

Epidemi ini tidak berarti apa-apa bagi kita. Toh sudah sejak kita lahir ke dunia, selalu saja ada proses lahir-mati yang silih berganti.

Keyakinan kita merajut kembali harapan berbahagia baru terwujud jika mau mengambil keputusan dan ketegasan untuk kembali keluar rumah guna melibatkan diri dan berjuang sepanjang waktu dengan mengubah cara kita berada dan cara kita hidup.

Jika itu tidak segera disikapi, yang terjadi adalah kita akan terjebak sekali lagi pada ilusi moneter dunia yang akan memaksa manusia masuk dalam kehidupan abnormal, sejak pagi buta hingga dini hari, kita harus berlari tunggang langgang tanpa pangkal dan ujung.

Kita sebenarnya telah terpenjara dalam sebuah sistem masyarakat dan peradaban yang menjadi tidak berperasaan sama sekali. Sistem yang terus memperbudak kita untuk bekerja dan mengonsumsi, yang hanya sibuk membuat kita berfungsi seperti robot pesuruh dan menjadikan kita tetap menyala seperti baterai.

Tak ubahnya ternak yang disuruh membajak dan digemukkan, lantas dimasukkan ke kandang ketika tenaganya diistirahatkan untuk dapat bekerja kembali guna menjamin kenyamanan kasta super kaya yang menyita sebagian kekayaan alam kita untuk kepentingan semu mereka.

Anda yakin bahwa akhir masa pengurungan ini sama dengan kebebasan kita dari pemenjaraan? Apakah dengan keluar rumah lagi, kita akan terlepas dari penjara sebenarnya?

Terlalu naif bila memercayainya!

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kasus Pencabulan Anak Kiai Ponpes Jombang, Kemenag Dukung Polisi Tegakkan Hukum

Kasus Pencabulan Anak Kiai Ponpes Jombang, Kemenag Dukung Polisi Tegakkan Hukum

Nasional
Jokowi Ingatkan Pentingnya Kemandirian Pangan, Minta Lahan Kosong untuk Ditanami

Jokowi Ingatkan Pentingnya Kemandirian Pangan, Minta Lahan Kosong untuk Ditanami

Nasional
Anak Kiai di Jombang Tersangka Pencabulan, Kemenag Akan Bahas Permintaan Pembekuan Izin Ponpes

Anak Kiai di Jombang Tersangka Pencabulan, Kemenag Akan Bahas Permintaan Pembekuan Izin Ponpes

Nasional
Pimpinan MPR Sepakat dan Terima Hasil Kajian PPHN, Pintu Amendemen UUD 1945 Ditutup

Pimpinan MPR Sepakat dan Terima Hasil Kajian PPHN, Pintu Amendemen UUD 1945 Ditutup

Nasional
Kemenag Minta Masyarakat Patuhi Prokes Saat Perayaan Idul Adha

Kemenag Minta Masyarakat Patuhi Prokes Saat Perayaan Idul Adha

Nasional
PDI Perjuangan Ungkap Puan Hingga Kini Belum Temui Parpol Lain untuk Bahas Pemilu 2024

PDI Perjuangan Ungkap Puan Hingga Kini Belum Temui Parpol Lain untuk Bahas Pemilu 2024

Nasional
Jokowi Kenakan Baju Adat Toba Selama Berkegiatan di Medan

Jokowi Kenakan Baju Adat Toba Selama Berkegiatan di Medan

Nasional
Epidemiolog Sebut Penerapan PPKM Jabodetabek Kembali ke Level 1 sebagai Langkah yang Tepat

Epidemiolog Sebut Penerapan PPKM Jabodetabek Kembali ke Level 1 sebagai Langkah yang Tepat

Nasional
Didampingi Bobby Nasution, Jokowi Canangkan Revitalisasi Lapangan Merdeka Medan

Didampingi Bobby Nasution, Jokowi Canangkan Revitalisasi Lapangan Merdeka Medan

Nasional
DPR dan Pemerintah Diminta Tak Abaikan Partisipasi Bermakna dalam Membahas RKUHP

DPR dan Pemerintah Diminta Tak Abaikan Partisipasi Bermakna dalam Membahas RKUHP

Nasional
RUU Pembentukan Provinsi Papua Barat Daya Disetujui Jadi Usul Inisiatif DPR

RUU Pembentukan Provinsi Papua Barat Daya Disetujui Jadi Usul Inisiatif DPR

Nasional
Kabareskrim Imbau Orangtua Murid Pindahkan Anaknya dari Ponpes Shiddiqiyyah

Kabareskrim Imbau Orangtua Murid Pindahkan Anaknya dari Ponpes Shiddiqiyyah

Nasional
Kritisi RKUHP, Pengamat Pertanyakan Cara Penegak Hukum Bedakan Kritik dan Penghinaan

Kritisi RKUHP, Pengamat Pertanyakan Cara Penegak Hukum Bedakan Kritik dan Penghinaan

Nasional
Jokowi: Kita Harus Kerja Keras Turunkan Persentase Stunting

Jokowi: Kita Harus Kerja Keras Turunkan Persentase Stunting

Nasional
Artis Iqlima Kim Datangi Bareskrim Penuhi Panggilan Penyidik sebagai Terlapor

Artis Iqlima Kim Datangi Bareskrim Penuhi Panggilan Penyidik sebagai Terlapor

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.