BNPB: Titik Api di Jambi dan Riau Reda, Pindah ke Lampung

Kompas.com - 02/10/2019, 21:29 WIB
Pelaksana Harian (PLH) Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo di Kantor BNPB, Jakarta Timur Sabtu (3/8/2019). KOMPAS.com/HaryantipuspasariPelaksana Harian (PLH) Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo di Kantor BNPB, Jakarta Timur Sabtu (3/8/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB) Agus Wibowo menyebut, hotspot atau titik api mulai mengarah ke wilayah Lampung.

"Tampilan secara umum, yang naik (hotspot) itu Sumatera bagian bawah, Jambi ke arah Sumatera Selatan yang naik dekat ke bawah lagi, ke Lampung yang mulai ada hotspot-nya juga," kata Agus usai acara Forum Merdeka Barat (FMB) 9 di Kantor BNPB, Jakarta Timur, Rabu (2/10/2019).

Kendati demikian, pihaknya belum mendapat laporan pasti penyebab pergeseran hotspot ke wilayah Lampung tersebut.

Baca juga: Warga Ramai-ramai Berburu Emas dan Perhiasan Harta Karun Kerajaan Sriwijaya di Lokasi Karhutla

Namun dari informasi sementara yang didapatkannya dari Humas Polda Lampung, penyebab munculnya hotspot itu karena cuaca yang terlampau panas di wilayah tersebut.

"Belum ada laporan penyebabnya. Kemarin kontak kepala bagian humas Polda Lampung, bahwa cuaca panas sekali kemungkinan ada titik-titik api," kata dia.

Dia mengatakan, sejauh ini belum ada konfirmasi yang menyatakan apakah titik-titik api tersebut berasal dari kebakaran hutan dan lahan ( karhutla) atau bukan.

Adapun, karhutla yang terjadi di wilayah Sumatera dan Kalimantan saat ini sudah cukup reda.

Data BNPB menunjukkan, di Riau hotspot dan asap sudah lebih sedikit karena sudah memasuki musim hujan.

Hanya saja, sisa asap di Jambi dan Sumatera Selatan masih ada dan mengarah ke wilayah Lampung.

Baca juga: Api dan Asap Berkurang, Hujan Buatan Tetap Dilakukan

Sementara di Kalimantan, kondisinya juga sudah baik terutama di Kalimantan Barat yang hujannya telah merata. Kalimantan Satan terpantau sudah cukup baik walau hujannya belum merata.

Dari data BNPB, di seluruh Indonesia sudah seluas 328.722 hektare lahan yang terbakar per Januari hingga September 2019 dengan jumlah hotspot 809.

"Diharapkan pemerintah daerah mengembalikan kodrat gambut agar tetap basah, berair dan rawa-rawa, melakukan sekat kanal supaya air naik dan gambut terkuasai agar sulit terbakar," pungkas dia. 

 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X