Api dan Asap Berkurang, Hujan Buatan Tetap Dilakukan

Kompas.com - 02/10/2019, 17:19 WIB
Awan tebal menggelayut di kawasan Minas, Kabupaten Siak, Riau, sebelum hujan deras mengguyur, Kamis (1/9). Satuan Tugas Siaga Darurat Kebakaran Lahan dan Hutan Provinsi Riau menebar 41,24 ton garam dalam proses modifikasi cuaca untuk hujan buatan yang diharapkan bisa mempercepat operasi pemadaman kebakaran di Riau. Kompas/Hendra A SetyawanAwan tebal menggelayut di kawasan Minas, Kabupaten Siak, Riau, sebelum hujan deras mengguyur, Kamis (1/9). Satuan Tugas Siaga Darurat Kebakaran Lahan dan Hutan Provinsi Riau menebar 41,24 ton garam dalam proses modifikasi cuaca untuk hujan buatan yang diharapkan bisa mempercepat operasi pemadaman kebakaran di Riau.

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi ( BPPT) akan tetap melakukan teknologi modifikasi cuaca (TMC) meski titik api dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan sudah jauh berkurang.

Demikian diungkapkan Peneliti Utama UPT Hujan Buatan BPPT Edvin Aldrian dalam acara Forum Merdeka Barat (FMB) 9 di Gedung BNPB, Rabu (02/10/2019).

"Selama bulan Oktober (2019), operasi penyemaian garam dari udara tetap dilakukan oleh gabungan BPPT, BMKG dan TNI AU," ujar Edvin.

Baca juga: Hujan Buatan Dinilai Berhasil Atasi Karhutla Kalimantan dan Sumatera


Ia mengakui, TMC yang dilakukan beberapa pekan terakhir telah sukses menurunkan hujan di daerah terdampak karhutla.

Beberapa daerah yang dimaksud, yakni Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Jambi.

Bersama BMKG dan pemerintah daerah (pemda) setempat, BPPT juga membuka posko TMC di daerah-daerah tersebut, kecuali Jambi.

"Rencananya kami akan menyemai garam NaCl dengan jumlah lebih besar ke wilayah terdampak karhutla dengan menggunakan pesawat Hercules C-130," kata dia.

Sejauh ini, dari total 45 armada udara yang dikerahkan BNPB dan TNI AU, sebanyak 41 di antaranya menggunakan helikopter untuk pelaksanaan water bombing dan patroli.

Baca juga: BPPT Sebut Hujan Buatan di Kalbar Signifikan Kurangi Asap

Kemudian, 4 pesawat CN 219 dan Casa 212-200 khusus untuk operasi rekayasa hujan TMC.

"Kami sudah melakukan penyemaian kapur tohor (CaO) di pagi hari untuk mengurangi kepekatan asap dan memudahkan pertumbuhan awan potensial di sejumlah wilayah karhutla," terang dia.

Selanjutnya pada sore hari, penyemaian dengan menggunakan garam NaCL untuk menurunkan hujan pun dilakukan. 

 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tak Jadi Larang Eks Koruptor Maju Pilkada, Perludem Sebut KPU Dilema

Tak Jadi Larang Eks Koruptor Maju Pilkada, Perludem Sebut KPU Dilema

Nasional
Jokowi Tak Hadiri Acara Hari Antikorupsi Sedunia di KPK, Nasdem Membela

Jokowi Tak Hadiri Acara Hari Antikorupsi Sedunia di KPK, Nasdem Membela

Nasional
Hakim Cabut Hak Politik Eks Bupati Talaud untuk Dipilih Selama 5 Tahun

Hakim Cabut Hak Politik Eks Bupati Talaud untuk Dipilih Selama 5 Tahun

Nasional
Pemerintah Masih Bernegosiasi Bebaskan WNI yang Disandera Abu Sayyaf

Pemerintah Masih Bernegosiasi Bebaskan WNI yang Disandera Abu Sayyaf

Nasional
Mantan Bupati Talaud Sri Wahyumi DivonisĀ 4,5 Tahun Penjara

Mantan Bupati Talaud Sri Wahyumi DivonisĀ 4,5 Tahun Penjara

Nasional
RUU Perlindungan Tokoh dan Simbol Agama Masuk Prolegnas Prioritas 2020, PKS Apresiasi

RUU Perlindungan Tokoh dan Simbol Agama Masuk Prolegnas Prioritas 2020, PKS Apresiasi

Nasional
ICW Sebut Dampak UU KPK Baru Sudah Terasa di Hari Antikorupsi Sedunia

ICW Sebut Dampak UU KPK Baru Sudah Terasa di Hari Antikorupsi Sedunia

Nasional
Menteri Agama Tegaskan Pendataan Majelis Taklim Tak Wajib

Menteri Agama Tegaskan Pendataan Majelis Taklim Tak Wajib

Nasional
Minta Waktu Ungkap Kasus Novel Baswedan, Polri Janji Tak Sampai Berbulan-bulan

Minta Waktu Ungkap Kasus Novel Baswedan, Polri Janji Tak Sampai Berbulan-bulan

Nasional
Upaya Sri Mulyani Cegah Korupsi dari Internal Kemenkeu...

Upaya Sri Mulyani Cegah Korupsi dari Internal Kemenkeu...

Nasional
Soal Restu Maju Caketum, Kubu Zulkifli Hasan Tak Mau Dibenturkan dengan Amien Rais

Soal Restu Maju Caketum, Kubu Zulkifli Hasan Tak Mau Dibenturkan dengan Amien Rais

Nasional
Di Depan Hakim MK, Agus Rahardjo dkk Mengaku Tak Dilibatkan dalam Revisi UU KPK

Di Depan Hakim MK, Agus Rahardjo dkk Mengaku Tak Dilibatkan dalam Revisi UU KPK

Nasional
Soal 'Industri Hukum', Mahfud Sebut Perlu Optimalkan Fungsi Pengawasan di Polri dan Kejaksaan

Soal "Industri Hukum", Mahfud Sebut Perlu Optimalkan Fungsi Pengawasan di Polri dan Kejaksaan

Nasional
Anggota Komisi VI DPR: Kasus Garuda seperti Puncak Gunung Es, BUMN Lain Harus Diteliti

Anggota Komisi VI DPR: Kasus Garuda seperti Puncak Gunung Es, BUMN Lain Harus Diteliti

Nasional
Komnas HAM: RUU Masyarakat Adat Dibutuhkan untuk Pemenuhan Hak Azasi

Komnas HAM: RUU Masyarakat Adat Dibutuhkan untuk Pemenuhan Hak Azasi

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X