Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Polisi Periksa 12 Saksi Terkait Pelemparan Bom Molotov di Rumah Wakil Ketua KPK

Kompas.com - 10/01/2019, 16:26 WIB
Reza Jurnaliston,
Inggried Dwi Wedhaswary

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan, penyidik telah memeriksa 12 saksi terkait kasus pelemparan bom molotov di Rumah Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif di Jalan Kalibata Selatan Nomor 42, Jakarta Selatan, Rabu (9/1/2019).

Dedi mengatakan, dari 12 saksi, dua diantaranya diperiksa di Polda Metro Jaya. Sementara, 10 saksi diperiksa di tempat kejadian perkara (TKP).

“Di Laode sudah ada 12 saksi yang dimintai keterangan. Ada 2 saksi yang dimintai keterangan di Polda Metro Jaya, 10 saksi dimintai keterangan di lokasi yang mengetahui kejadian tersebut,” kata Dedi di Gedung Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (10/1/2019).

Baca juga: Polisi: Benda Mencurigakan di Rumah Ketua KPK Agus Rahardjo Berisi Bom Palsu

Dedi mengatakan, dari sebagian saksi yang telah dimintai keterangan menyimpulkan tidak secara spesifik melihat kejadian pelemparan yang diduga bom molotov.

“Hanya melihat sedikit percikan api, kemudian suara seperti botol dilempar pecah,” kata Dedi.

Terkait benda mencurigakan di rumah Ketua KPK Agus Rahardjo, polisi melakukan analisa dan menyisir rekaman CCTV yang terpasang di dekat area rumah yang berlokasi di Perumahan Graha Indah, Blok A9/15 RT 004/014, Kelurahan Jatimekar, Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Saat ini, penyidik masih mendalami empat CCTV.

“Saat ini didalami empat CCTV di sepanjang jalur menuju kediaman Beliau. Tim akan berusaha maksimal dalam rangka mengungkap untuk kasus tersebut,” kata Dedi.

Baca juga: Teror terhadap KPK, Novel Baswedan Minta Presiden Bentuk TGPF

Dedi mengatakan, dari hasil pemeriksaan Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri, benda mencurigakan di dalam tas yang digantung di pagar kediaman Agus Rahardjo dipastikan bukan bom.

“Kalau di Bekasi (Rumah Agus Rahardjo), dari hasil Labfor adalah fake bomb yang semula dicurigai di dalam tas berisi pipa paralon, sekring, kabel, paku, dan serbuk putih yang dicurigai sebagai serbuk bahan peledak. Ternyata setelah dilakukan uji labfor adalah senyawa semen putih,” kata Dedi.

Dedi menambahakan, Ketua KPK Agus Rahardjo belum dimintai keterangan lantaran kesibukannya.

"Pak Agus belum (diminta keterangan). Masih banyak kegiatan Beliau. Kami tidak melayangkan surat panggilan, tapi dari Beliau sendiri apabila nanti ingin memberikan keterangan pada tim, di mana saja tim akan pro aktif mendatangi Pak Agus,” kata Dedi.

Baca juga: Polisi: Bom di Rumah Ketua KPK adalah Fake Bomb

Diberitakan, dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yaitu Agus Rahardjo dan Laode M Syarif mendapatkan teror bom pada hari yang sama, Rabu (9/1/2019).

Rumah Ketua KPK Agus yang berada di Perumahan Graha Indah, Jatiasih, Kota Bekasi mendapat teror berupa benda mirip bom paralon yang disangkutkan ke pagar rumah pada pukul 05.30 WIB.

Sedangkan rumah Wakil Ketua KPK Laode yang berada di Jalan Kalibata Selatan, Jakarta Selatan dilempar dua bom molotov pada Rabu dini hari.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

[POPULER NASIONAL] Prabowo Minta yang Tak Mau Kerja Sama Jangan Ganggu | Yusril Sebut Ide Tambah Kementerian Bukan Bagi-bagi Kekuasaan

[POPULER NASIONAL] Prabowo Minta yang Tak Mau Kerja Sama Jangan Ganggu | Yusril Sebut Ide Tambah Kementerian Bukan Bagi-bagi Kekuasaan

Nasional
Tanggal 13 Mei 2024 Memperingati Hari Apa?

Tanggal 13 Mei 2024 Memperingati Hari Apa?

Nasional
Kesiapan Infrastruktur Haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina Sudah 75 Persen

Kesiapan Infrastruktur Haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina Sudah 75 Persen

Nasional
Cek Pelabuhan Ketapang, Kabaharkam Pastikan Kesiapan Pengamanan World Water Forum 2024

Cek Pelabuhan Ketapang, Kabaharkam Pastikan Kesiapan Pengamanan World Water Forum 2024

Nasional
Prabowo Sebut Soekarno Milik Bangsa Indonesia, Ini Respons PDI-P

Prabowo Sebut Soekarno Milik Bangsa Indonesia, Ini Respons PDI-P

Nasional
Ganjar Serahkan ke PDI-P soal Nama yang Bakal Maju Pilkada Jateng

Ganjar Serahkan ke PDI-P soal Nama yang Bakal Maju Pilkada Jateng

Nasional
Prabowo Minta Pemerintahannya Tak Diganggu, Ini Kata Ganjar

Prabowo Minta Pemerintahannya Tak Diganggu, Ini Kata Ganjar

Nasional
Bertemu Calon-calon Kepala Daerah, Zulhas Minta Mereka Tiru Semangat Jokowi dan Prabowo

Bertemu Calon-calon Kepala Daerah, Zulhas Minta Mereka Tiru Semangat Jokowi dan Prabowo

Nasional
7 Jenis Obat-obatan yang Disarankan Dibawa Jamaah Haji Asal Indonesia

7 Jenis Obat-obatan yang Disarankan Dibawa Jamaah Haji Asal Indonesia

Nasional
Visa Terbit, 213.079 Jemaah Haji Indonesia Siap Berangkat 12 Mei

Visa Terbit, 213.079 Jemaah Haji Indonesia Siap Berangkat 12 Mei

Nasional
Soal Usulan Yandri Susanto Jadi Menteri, Ketum PAN: Itu Hak Prerogatif Presiden

Soal Usulan Yandri Susanto Jadi Menteri, Ketum PAN: Itu Hak Prerogatif Presiden

Nasional
Di Australia, TNI AU Bahas Latihan Bersama Angkatan Udara Jepang

Di Australia, TNI AU Bahas Latihan Bersama Angkatan Udara Jepang

Nasional
BPK Buka Suara usai Auditornya Disebut Peras Kementan Rp 12 Miliar

BPK Buka Suara usai Auditornya Disebut Peras Kementan Rp 12 Miliar

Nasional
Chappy Hakim: Semua Garis Batas NKRI Punya Potensi Ancaman, Paling Kritis di Selat Malaka

Chappy Hakim: Semua Garis Batas NKRI Punya Potensi Ancaman, Paling Kritis di Selat Malaka

Nasional
Prabowo Diminta Cari Solusi Problem Rakyat, Bukan Tambah Kementerian

Prabowo Diminta Cari Solusi Problem Rakyat, Bukan Tambah Kementerian

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com