KPU Minta Masyarakat Tak Khawatir dengan Serangan Siber Jelang Pemilu

Kompas.com - 26/11/2018, 19:35 WIB
Komisioner KPU Wahyu SetiawanKOMPAS.com/Fitria Chusna Farisa Komisioner KPU Wahyu Setiawan

JAKARTA, KOMPAS.com - Komisioner Komisi Pemilihan Umum ( KPU) Wahyu Setiawan meminta masyarakat tidak khawatir akan serangan siber yang berpotensi terjadi pada sistem teknologi dan informasi KPU jelang Pemilu 2019.

Menurut Wahyu, dalam penghitungan suara Pemilu nanti pihaknya menggunakan metode konvensional berupa rekapitulasi secara berjenjang. Perolehan suara dalam Pemilu dihitung melalui rapat pleno berjenjang tiap daerah.

"Kita mengantisipasi dari kemungkinan-kemungkinan serangan siber tetapi publik tidak perlu khawatir karena basis penghitungan kita menggunakan metode konvesional yang melalui rapat pleno berjenjang," kata Wahyu di kantor KPU, Menteng, Jakarta, Senin (26/11/2018).

Wahyu mengatakan, penghitungan suara secara konvensional merupakan metode resmi dari KPU.

Baca juga: Fasilitasi Penyandang Disabilitas Mental, KPU Diminta Kerja Sama dengan Banyak Pihak

Adapun kelak sistem IT KPU menampilkan informasi terkait hasil penghitungan suara. Hal itu sebagai wujud komitmen KPU dalam melayani masyarakat. Tujuannya, supaya publik mendapat informasi yang cepat mengenai penghitungan suara yang disajikan melalui sistem IT.

Meski demikian, Wahyu menampik jika pihaknya sama sekali tidak melakukan antisipasi serangan siber.

KPU melakukan sejumlah hal dalam menghadapi ancaman tersebut, seperti misalnya membangun keamanan jaringan internal.

Selain itu, KPU juga bekerja sama dengan pihak lainnya seperti Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo).

"Sudah merapatkan barisan kita secara internal sudah membenahi segala sesuatu dan kita akan berkoordinasi bekerjasama dengan pihak-pihak yang memiliki kewenangan untuk bersama mengantisipasi apabila ada serangan," ujar Wahyu.

Sebelumnya, Deputi Bidang Penanggulangan dan Pemulihan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Asep Chaerudin menyebut, jutaan ancaman terkait server siber berpotensi menyerang Indonesia setiap tahunnya.

Menjelang tahun Pemilu, ancaman siber tersebut juga berpotensi menyerang sistem IT KPU.

Ancaman tersebut muncul dari dalam dan luar negeri. Bentuknya, bisa bermacam-macam, seperti pasmen, dos, malware, hingga trojan.



Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X