Politisi PDI-P: Sudah Sepantasnya Presiden Beri Amnesti untuk Nuril

Kompas.com - 19/11/2018, 16:34 WIB
Politisi PDI Perjuangan Eva Kusuma Sundari saat diundang sebagai narasumber sebuah diskusi di Rumah Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (29/11/2016).KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA Politisi PDI Perjuangan Eva Kusuma Sundari saat diundang sebagai narasumber sebuah diskusi di Rumah Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (29/11/2016).

JAKARTA, KOMPAS.com - Politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari meminta Presiden Joko Widodo memberi amnesti bagi Baiq Nuril Maqnun, korban pelecehan seksual yang justru divonis bersalah oleh Mahkamah Agung.

"Sudah layak dan sepantasnya jika Presiden memberikan amnesti dan kemudian juga rehabilitasi kepada Ibu Nuril," kata Eva dalam keterangan tertulisnya, Senin (19/11/2018).

Eva mengatakan, putusan MA atas kasus Baiq Nuril jelas menjauhkan penanganan kasus hukum dari keadilan. Nuril yang merupakan korban pelecehan seksual dari mantan atasannya justru dinyatakan bersalah atas tindakan yang bukan perbuatannya.

Apalagi, Pengadilan Negeri Mataram dan Pengadilan Tinggi Lombok sebelumnya telah melihat bahwa Nuril bukanlah pelaku penyebarluasan rekaman telepon yang dipersoalkan. PN Mataram dan PT Lombok membebaskan Nuril dari dakwaan jaksa penuntut umum.

Baca juga: Komnas Perempuan Minta Kejaksaan Tunda Eksekusi Baiq Nuril

"Putusan MA harusnya hanya menelaah putusan-putusan pengadilan di bawahnya yaitu PN atau PT. Jadi tidak malah bikin putusan atas perkaranya sendiri yang itu jadi wewenang hakim PN n PT," kata anggota DPR dari fraksi PDI-P ini.

Eva menilai, majelis kasasi MA yang mengadili kasus ini bukan hanya melampaui kewenangan, tapi sekaligus tidak menunjukkan keteladanan dalam berperikemanusiaan.

Hal ini menurut dia bertentangan dengan Peraturan Mahkamah Agung RI nomor 3 tahun 2017 tentang Pedoman Hakim mengadili Kasus Perempuan Berhadapan dengan Hukum.

Aturan itu menyatakan bahwa dalam pemeriksaan perkara hakim agar mempertimbangkan kesetaraan gender dan non diskriminasi dengan mengidentifikasi fakta persidangan.

"MA harus melakukan koreksi diri terhadap kinerja para hakim yang menurut berbagai riset menjadi lembaga yang integitasnya rendah karena korupsi dan diskriminatif terhadap perempuan yang lemah," kata Eva.

Sekelompok aktivis yang tergabung dalam Koalisi Save Ibu Nuril mendatangi Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (19/2018) siang. Mereka meminta Presiden Jokowi memberi amnesti kepada Baiq Nuril Maqnun, korban pelecehan seksual yang justru divonis bersalah oleh Mahkamah Agung.

Presiden Jokowi sendiri tidak berada di Istana karena tengah melakukan kunjungan kerja ke Jawa Timur. Sebagai gantinya, mereka diterima oleh Staf Ahli Deputi V Kantor Staf Presiden (KSP) Ifdhal Kasim.

Pertemuan berlangsung tertutup dan masih berlangsung saat berita ini diturunkan.

Baca juga: Presiden Diharapkan Beri Amnesti untuk Baiq Nuril Sebelum Eksekusi

Dalam pertemuan itu, koalisi reakan menyerahkan surat yang berisi permohonan agar Presiden Jokowi memberi pengampunan pada Nuril. Selain itu, mereka juga membawa hasil petisi #AmnestiUntukNuril yang sudah digalang lewat situs change.org.

Hingga berita ini diturunkan, petisi itu sudah ditandatangani oleh lebih dari 100.000 warganet.

Di Lamongan, Presiden Jokowi menyatakan mendukung proses hukum yang dihadapi Baiq Nuril. Jokowi berharap agar peninjauan kembali nantinya bisa memberikan keadilan bagi Nuril.

Jika Nuril nantinya masih juga belum mendapat keadilan, Presiden mempersilakannya untuk langsung mengajukan grasi kepada dirinya.



PenulisIhsanuddin
EditorKrisiandi

Terkini Lainnya

Kisah Sedih Anggota KPPS Lahat, Harus Kehilangan Bayi Akibat Kelelahan

Kisah Sedih Anggota KPPS Lahat, Harus Kehilangan Bayi Akibat Kelelahan

Regional
Kyai Rofiq, Merawat Akar Tradisi dan Identitas Jawa

Kyai Rofiq, Merawat Akar Tradisi dan Identitas Jawa

Regional
Soal Banjir, Anies: Kalau Hanya Bereskan yang di Jakarta, Tak ada Artinya

Soal Banjir, Anies: Kalau Hanya Bereskan yang di Jakarta, Tak ada Artinya

Megapolitan
TKN: BPN Minta C1 ke Bawaslu Jangan-jangan Baru Mau Bikin 'War Room'

TKN: BPN Minta C1 ke Bawaslu Jangan-jangan Baru Mau Bikin "War Room"

Nasional
Dianggap Ngebut, Sopir Ambulans Bawa Jenazah Dipukul Hingga Hidungnya Patah

Dianggap Ngebut, Sopir Ambulans Bawa Jenazah Dipukul Hingga Hidungnya Patah

Regional
Dua Petugas Pemilu 2019 di Pati Gugur, Belasan Sakit dan 1 Keguguran

Dua Petugas Pemilu 2019 di Pati Gugur, Belasan Sakit dan 1 Keguguran

Regional
Tersangka Perantara Suap di Bakamla, Erwin Arief, Ditahan KPK

Tersangka Perantara Suap di Bakamla, Erwin Arief, Ditahan KPK

Nasional
PKK Jabar: Perencanaan Kehamilan Jadi Kunci Tekan Angka Stunting

PKK Jabar: Perencanaan Kehamilan Jadi Kunci Tekan Angka Stunting

Regional
Di Jatim, Tenaga Pemilu yang Meninggal Dapat Santunan Rp15 Juta dan Piagam Penghargaan

Di Jatim, Tenaga Pemilu yang Meninggal Dapat Santunan Rp15 Juta dan Piagam Penghargaan

Regional
'Spoiler' Film Avengers: Endgame, Pria di Hong Kong Ini Dihajar di Luar Bioskop

"Spoiler" Film Avengers: Endgame, Pria di Hong Kong Ini Dihajar di Luar Bioskop

Internasional
Rumah Ambruk di Johar Baru Timpa Mikrolet dan Ojek Online

Rumah Ambruk di Johar Baru Timpa Mikrolet dan Ojek Online

Megapolitan
Di Jateng, Petugas Pemilu yang Meninggal Dapat Santunan Rp 10 Juta

Di Jateng, Petugas Pemilu yang Meninggal Dapat Santunan Rp 10 Juta

Regional
Bertemu Jokowi di Istana, Ini Penjelasan Presiden KSPI Said Iqbal

Bertemu Jokowi di Istana, Ini Penjelasan Presiden KSPI Said Iqbal

Nasional
Ini Kata Kim Jong Un soal Trump Saat Bertemu dengan Putin

Ini Kata Kim Jong Un soal Trump Saat Bertemu dengan Putin

Internasional
BNN Sumut Bongkar Jaringan Narkoba Internasional yang Dikendalikan Napi dari Dalam Lapas Tanjung Gusta

BNN Sumut Bongkar Jaringan Narkoba Internasional yang Dikendalikan Napi dari Dalam Lapas Tanjung Gusta

Regional

Close Ads X