Membaca Sinyal dari Istana, Ini Cawapres di Saku Jokowi - Kompas.com

Membaca Sinyal dari Istana, Ini Cawapres di Saku Jokowi

Kompas.com - 16/07/2018, 06:07 WIB
Presiden Joko Widodo menyampaikan sambutan dalam pembukaan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Demokrat tahun 2018 di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (10/03/2018) .Partai Demokrat menggelar Rapimnas selama dua hari 10-11 Maret 2018 untuk membahas strategi Pemilu 2018 serta Pemilu Legislatif dan Pilpres 2019.  KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELI Presiden Joko Widodo menyampaikan sambutan dalam pembukaan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Demokrat tahun 2018 di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (10/03/2018) .Partai Demokrat menggelar Rapimnas selama dua hari 10-11 Maret 2018 untuk membahas strategi Pemilu 2018 serta Pemilu Legislatif dan Pilpres 2019.

PROGRAM "Aiman", yang terbiasa menelusuri dan menggali informasi dari setiap fenomena yang terjadi dan menyita perhatian masyarakat, mencoba menerjemahkan sinyal dari Istana.

Siapa nama bakal calon wakil presiden untuk Joko Widodo, yang akan berlaga di Pemilu Presiden 2019 serentak dengan Pemilu Legislatif tahun depan?

Nama-nama itu akan tampak pada tulisan ini, dan saya prediksi kecil kemungkinan keluar dari perkiraan, kecuali ada sesuatu yang luar biasa dalam dunia politik (dan juga ekonomi) yang terjadi di depan.

Sinyal dari Istana


Belakangan marak gestur Jokowi diperbincangkan terkait dengan adanya pengerucutan nama cawapres Jokowi, dari 10 menjadi 5 sosok.

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ali Mochtar Ngabalin, Rabu (11/7/2018) pekan lalu, mengatakan, "Sebenarnya teman-teman ini bisa melihat gestur-gestur yang beliau tampakkan, dan sejumlah pilihan kata, pertemuan-pertemuan terakhir akan memberikan banyak kawan, sahabat."

Namun, seketika, pernyataan Ngabalin dibantah kader partai pengusung Jokowi. "Tanyakan ke Pak Ngabalin, gestur yang mana? Kami bukan pembaca gestur, nama sudah dikonsultasikan," jawab Eva Kusuma Sundari, salah satu kader senior PDI-P.

Gestur atau apa pun namanya memang menarik dicermati jelang pekan–pekan di mana kontestasi pesta demokrasi terbesar di seluruh Indonesia bakal digelar.

Akan terjadi penentuan tonggak, apakah kekuasaan akan tetap atau  berpindah. Apalagi setelah gerakan #2019GantiPresiden diklaim memengaruhi suara pemilih pada sebagian Pulau Jawa sebagai daerah dengan jumlah pemilih pemilu terbanyak di Indonesia.

Jumlah pemilih Pulau Jawa dibanding daerah lain di Indonesia mencapai sekitar 57 persen. Jawa masih menjadi kunci kemenangan dan sebagian telah difoto pada pilkada kemarin. Doktor komunikasi politik Effendi Gazali mengungkapkan, Jokowi tak boleh salah pilih wakil.

Persaingan menuju Pemilu 2019 memang semakin ketat, terutama akibat gerakan-gerakan yang diinisiasi lewat media sosial di dunia maya dan berkembang ke dunia nyata. Lalu, bagaimana kemungkinan cawapres Jokowi?

Sampai sekarang, jika diperhatikan, seolah tidak ada hal yang serius yang ditampakkan Jokowi. Dalam menjawab setiap pertanyaan kepada wartawan soal calon wakilnya, Jokowi selalu menjawab dengan diiringi canda-tawa.

Namun, sesungguhnya ada sinyal di sana dan dikuatkan dengan pernyataan Jokowi.

Pertengahan pekan lalu, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) antarpesantren diiringi canda-tawa bersama sejumlah acara lain yang serupa. Pada saat itu, pertama kali pula, Mars Nahdlatul Ulama (NU) diperdengarkan di Istana.

Saat itu Jokowi berseloroh, 4 tahun berada di Istana, baru kali ini diperdengarkan Mars NU di Istana. Apakah ini sebuah pertanda?

Setidaknya, pemerintahan Jokowi berjibaku dengan tiga masalah utama. Pertama, ekonomi, kedua polarisasi politik identitas terkait agama, dan ketiga masalah politik, hukum, dan keamanan.

Yang ketiga ini biasa, selalu terjadi siapa pun presidennya. Adapun yang pertama dan kedua bersifat situasional, termasuk juga terjadi dari efek yang terjadi akibat aksi-reaksi politik dalam negeri, yang juga punya pengaruh dari kondisi geo-politik luar negeri.

Bocoran nama cawapres dari Rommy

Atas hal ini, saya menanyakan kepada salah satu kandidat yang kabarnya masuk ke dalam bursa cawapres Jokowi, yakni Romahurmuziy.

Romy, sapaan Ketua Umum PPP ini, mengiyakan bahwa cawapres Jokowi mengerucut pada salah satu tokoh dan bisa saja dikaitkan dengan kalangan nahdliyin. Saat ditanya siapa saja 10 kandidat cawapres (yang akhirnya mengerucut menjadi lima), Rommy berkeberatan.

Namun, belakangan pada wawancara saya di Program "Aiman" dengannya, Rommy membocorkan kepada media untuk kali pertama melalui saya tentang nama-nama yang masuk ke dalam 10 bakal cawapres Jokowi.

Romy mengatakan, nama ini pernah ditunjukkan Jokowi kepadanya. Kesepuluh nama itu meliputi pengusaha Chairul Tanjung dari kalangan profesional, Menteri Keuangan Sri Mulyani, serta Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Susi baru saja lulus kejar Paket C setingkat SMA sehingga masuk persyaratan cawapres yang mensyaratkan pendidikan minimal SMA sederajat.

Ada pula tokoh agama, Ketua MUI dan juga Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Ma'ruf Amin, anggota Dewan Pengarah Unit Kerja Presiden untuk Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP) sekaligus mantan Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, anggota Dewan Pengarah UKP PIP dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, serta Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko.

Ada pula tiga ketua umum parpol, yakni Airlangga Hartarto dari Golkar, Muhaimin Iskandar dari PKB, dan Romahurmuziy dari PPP.

Bagaimana dengan TGB?

Saya menanyakan tentang ketiadaan nama kader Demokrat yang juga masih menjabat Gubernur Nusa Tenggara Barat KH Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (SGB) dalam daftar nama itu. Sepekan ini, nama TGB menjadi topik utama pembicaraan di banyak media, termasuk dunia maya.

Rommy mengatakan, "Tidak ada." Itulah "isi kertas" cawapres Jokowi yang ditunjukkan kepadanya.

Lalu, siapa lima nama cawapres yang telah mengerucut? Tidak ada yang bisa menjelaskan. Namun, jika ada "sinyal" bahwa kalangan NU yang akan dipinang Jokowi, maka tampak nama–nama di atas yang bisa dikaitkan dan belakangan ini nama Mahfud MD tampak semakin menguat.

Program "Aiman" mewawancarai khusus Mahfud MD terkait hal ini. Apakah Mahfud, Ketua Mahkamah Konstitusi 2008-2013 dan sekarang bersama dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menjadi Dewan Pengarah UKP PIP, bakal dipilih Jokowi?

Apakah Jusuf Kalla (JK) masih berpeluang? Hanya Tuhan yang tahu. Bukan tidak mungkin nama Wakil Presiden RI tersebut kembali mengisi daftar cawapres Jokowi.

Pada akhir Juni lalu, Mahkamah Konstitusi sebetulnya sudah menolak uji materi dari kelompok yang menginginkan JK maju kembali sebagai cawapres pada Pilpres 2019.

Namun, Selasa (10/7/2018) pekan lalu, Partai Perindo yang dipimpin Taipan Hary Tanoesoedibjo mengajukan gugatan ke MK terkait larangan menjadi cawapres periode ketiga tidak berurutan untuk JK.

Jika gugatan ke MK ini berhasil dan diumumkan sebelum 10 Agustus 2018 atau masa akhir pendaftaran capres-cawapres Pemilu 2019, semua calon yang telah dibeberkan di atas bisa buyar karena JK memiliki peluang paling besar menjadi cawapres Jokowi.

Saya Aiman Witjaksono,

Salam.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Terkini Lainnya

Seorang Siswi SD Tewas Diterkam Buaya di Belakang Rumahnya

Seorang Siswi SD Tewas Diterkam Buaya di Belakang Rumahnya

Regional
Semarang 10K, Lomba Lari Santai dengan Trek Penuh Kejutan

Semarang 10K, Lomba Lari Santai dengan Trek Penuh Kejutan

Regional
Bawa Kabur Motor Tetangga, Ibu Muda Ditangkap Setelah Aksi Kejar-kejaran

Bawa Kabur Motor Tetangga, Ibu Muda Ditangkap Setelah Aksi Kejar-kejaran

Regional
Palestina Kecam Keputusan Australia soal Status Yerusalem Barat

Palestina Kecam Keputusan Australia soal Status Yerusalem Barat

Internasional
Atribut Demokrat Dirusak, Jokowi Imbau Jangan Ada yang Memanas-Manasi

Atribut Demokrat Dirusak, Jokowi Imbau Jangan Ada yang Memanas-Manasi

Nasional
Pasca-banjir Bandang, Warga di Simalungun Manfaatkan Sungai Kecil untuk Minum

Pasca-banjir Bandang, Warga di Simalungun Manfaatkan Sungai Kecil untuk Minum

Regional
AHY Mengutuk Perusakan Atribut Demokrat di Pekanbaru

AHY Mengutuk Perusakan Atribut Demokrat di Pekanbaru

Nasional
Reka Ulang Kasus Pembunuhan Istri oleh Suami: Tolak Berhubungan Intim, Sulasmini Tidur di Tikar

Reka Ulang Kasus Pembunuhan Istri oleh Suami: Tolak Berhubungan Intim, Sulasmini Tidur di Tikar

Regional
Kelola Blok Rokan, Jokowi Janji Beri Saham hingga Komisaris untuk Riau

Kelola Blok Rokan, Jokowi Janji Beri Saham hingga Komisaris untuk Riau

Nasional
Surya Paloh Klaim Soekarwo Dukung Jokowi

Surya Paloh Klaim Soekarwo Dukung Jokowi

Nasional
 Kwik Kian Gie Akan Jadi Pembicara pada Haul Gus Dur di Tebuireng

Kwik Kian Gie Akan Jadi Pembicara pada Haul Gus Dur di Tebuireng

Regional
Meski Kenaikan Pajak BBM Telah Batal, Rompi Kuning Kembali Unjuk Rasa

Meski Kenaikan Pajak BBM Telah Batal, Rompi Kuning Kembali Unjuk Rasa

Internasional
Ketua KPU: Kotak Suara Karton Sudah Dipakai Pilpres 2014 dan 3 Pilkada

Ketua KPU: Kotak Suara Karton Sudah Dipakai Pilpres 2014 dan 3 Pilkada

Nasional
Viral Zebra Cross Terhalang Tanaman di GBK, Warga Sulit Menyeberang

Viral Zebra Cross Terhalang Tanaman di GBK, Warga Sulit Menyeberang

Megapolitan
Polemik Deklarasi DPW PAN Sumsel Dukung Jokowi, Dianggap Bukan Kader dan Terancam Dipolisikan

Polemik Deklarasi DPW PAN Sumsel Dukung Jokowi, Dianggap Bukan Kader dan Terancam Dipolisikan

Regional

Close Ads X