Gatot Nurmantyo: Saat Ini Saya Melihat Terlalu Banyak Campur Tangan Partai - Kompas.com

Gatot Nurmantyo: Saat Ini Saya Melihat Terlalu Banyak Campur Tangan Partai

Kompas.com - 24/04/2018, 13:09 WIB
Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo berpose sebelum menjadi narasumber di acara Satu Meja The Forum di studio satu Kompas TV, Menara Kompas, Jakarta, Senin (23/4/2018).KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN MOZES Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo berpose sebelum menjadi narasumber di acara Satu Meja The Forum di studio satu Kompas TV, Menara Kompas, Jakarta, Senin (23/4/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo menyatakan kesiapannya sebagai calon presiden pada Pilpres 2019 setelah pensiun dari dinas kemiliteran.

Meski demikian, ia mengaku hingga saat ini belum ada partai politik yang menyatakan akan mendukung atau mengusung.

Ia mengungkapkan bahwa dirinya tidak akan langsung menerima atau menyepakati seandainya ada sebuah partai yang menyatakan akan mendukung pada Pilpres 2019.

Gatot memilih bernegosiasi lebih dulu terkait pembentukan kabinet bersama partai-partai koalisi pendukung.

Baca juga : Pengakuan Gatot Nurmantyo soal Kedekatannya dengan Tomy Winata dan Logistik Pencapresan

"Saya belum punya partai pengusung, apabila ada partai yang mau mengusung saya tidak langsung mau. Kita negosiasi," ujar Gatot saat menjadi narasumber acara Satu Meja Kompas TV bertajuk 'Jalan Politik Sang Jenderal', Senin (23/4/2018) malam.

"Negosiasi bahwa penentuan kabinet dilakukan sejak sekarang dengan partai koalisi. Dengan perjanjian ada kabinet-kabinet cadangan, kabinet 1, 2, 3 dari partai masing-masing," ucapnya.

Menurut Gatot, negosiasi tersebut harus dilakukan agar pemerintahan bisa berjalan secara efektif dan efisien jika dirinya terpilih sebagai presiden.

Ia mencontohkan perbedaan antara pemerintahan Presiden Joko Widodo dan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Baca juga : Survei Kompas: Gatot dan Anies Teratas Jadi Cawapres bagi Prabowo

Gatot menilai saat ini terlalu banyak campur tangan partai politik sehingga berpengaruh pada efektivitas dan efisiensi roda penerintahan.

Hal berbeda terjadi saat pemerintahan dipegang oleh Presiden SBY. Gatot mengatakan, sebagai pimpinan tertinggi partai pemenang membuat SBY mampu menerapkan secara benar sistem kabinet presidensiil.

"Sekarang ini saya melihat bahwa terlalu banyak campur tangan partai sehingga garis komando ini kadang-kadang tidak efisien," kata Gatot.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Terkini Lainnya


Close Ads X