Survei Populi Center: Elektabilitas Jokowi dan Prabowo Turun

Kompas.com - 28/02/2018, 14:24 WIB
Presiden Joko Widodo berbincang dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Senin (16/10/2017).Agus Suparto/Fotografer Kepresidenan Presiden Joko Widodo berbincang dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Senin (16/10/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Hasil survei Populi Center terkait bursa pemilihan Presiden 2019, elektabilitas Presiden Joko Widodo masih unggul atas Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Secara top of mind, elektabilitas Jokowi berada pada angka 52,8 persen. Kemudian Prabowo sebesar 15,4 persen.

"Tren dari empat survei terakhir, Jokowi masih berkutat di angka 50 persenan," kata Peneliti Populi Center Hartanto Rosojati di kantornya, Jakarta, Rabu (28/2/2018).

(Baca juga : Ini Kriteria PDI-P untuk Cawapres Jokowi pada Pilpres 2019)

Hartanto menjelaskan, hasil survei justru menunjukkan elektabilitas keduanya cenderung menurun.

Pada Desember 2017, elektabilitas Jokowi berada pada angka 54,9 persen. Sedangkan Prabowo 18,9 persen.

Selain itu, elektabilitas Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono sebesar 0,9 persen, mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo 0,7 persen.

(Baca juga : PDI-P Umumkan Nama Pendamping Jokowi pada Pilpres 2019 Sebelum Lebaran)

Tokoh lain, Agus Harimurti Yudhoyono 0,7 persen, Wakil Presiden Jusuf Kalla 0,5 persen, mantan Presiden RI ke-3 Baharuddin Jusuf Habibie 0,4 persen.

Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok 0,4 persen, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri 0,3 persen, dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD 0,3 persen.

Survei Populi Center digelar pada 7-16 Februari 2018, dengan melibatkan 1200 responden di 120 desa/kelurahan yang tersebar di 120 kecamatan dan di 34 provinsi se-Indonesia.

Survei menggunakan metode acak bertingkat atau multistage random sampling dengan margin of error 2,899 persen, pada tingkat kepercayaan 95 persen dan menggunakan pendanaan internal.



Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Close Ads X