Jokowi Instruksikan Tembak di Tempat jika Bandar Narkoba Melawan

Kompas.com - 03/10/2017, 13:55 WIB
Presiden Joko Widodo menghadiri Pencanangan Aksi Nasional Pemberantasan Obat Ilegal dan Penyalahgunaan Obat, di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, Selasa (3/9/2017). KOMPAS.com/IHSANUDDINPresiden Joko Widodo menghadiri Pencanangan Aksi Nasional Pemberantasan Obat Ilegal dan Penyalahgunaan Obat, di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, Selasa (3/9/2017).
Penulis Ihsanuddin
|
EditorBayu Galih

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo meminta jajaran kepolisian dan Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk bertindak tegas terhadap pengedar dan bandar narkoba.

Jika diperlukan, Jokowi meminta aparat untuk tidak ragu melakukan penembakan di tempat.

"Ya kalau melawan saya kira SOP (prosedur operasional standar) di Polri dan BNN sudah jelas," kata Jokowi usai menghadiri Aksi Nasional Pemberantasan Obat Ilegal dan Penyalahgunaan Obat, di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, Selasa (3/9/2017).

"Kalau melawan dan membahayakan, jangan diberi toleransi. Tegas itu harus kita sampaikan," ujar dia.

Jokowi menegaskan bahwa penyalahgunaan obat-obatan terlarang saat ini sudah menjadi ancaman besar bagi bangsa Indonesia.

(Baca juga: Jokowi Tanya Kabareskrim, "Gimana Kalau Bandar Narkoba Kita Gebuki?")

Oleh karena itu, Kepala Negara meminta seluruh kementerian dan lembaga terkait, mulai dari Badan Pengawas Obat dan Makanan, Kementerian Kesehatan, Polri hingga BNN untuk bersinergi.

"Jangan menganganggap enteng urusan yang berkaitan dengan obat ilegal dan penyalahgunaan obat," kata Jokowi.

Saat berpidato dalam acara tersebut, Jokowi juga menekankan bahwa sekat-sekat birokrasi antar-kementerian dan lembaga harus dihilangkan.

"Jangan sampai perlindungan nyawa anak, nyawa generasi muda Indonesia dikalahkan hanya untuk urusan-urusan birokrasi dan prosedur, dikalahkan urusan surat menyurat, urusan kertas, urusan pengelolaan pos anggaran," kata Jokowi.

(Baca juga: Jokowi: Jangan Sampai Nyawa Anak Dikalahkan Urusan Birokrasi)

Sebelumnya, Amnesty International mengungkap bahwa peristiwa tembak yang menewaskan orang yang diduga sebagai pelaku kejahatan naik empat kali lipat tahun ini.

Hingga September 2017, lanjut Basuki, sudah 80 orang terduga pengedar narkotika yang tewas ditembak aparat. Sebagai perbandingan, selama 2016 ada 18 orang.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X