Jika Khilafah Berdiri, Apakah Pancasila Tetap Ada?

Kompas.com - 12/06/2017, 07:46 WIB
AFP PHOTO / TIMUR MATAHARI Anggota Hizbut Tahrir Indonesia menolak penyelenggaraan kontes Miss World dengan berunjuk rasa di Kota Bandung, 4 September 2013. Indonesia menjadi tuan rumah kontes kecantikan dunia Miss World untuk pertama kalinya di Bali dan Bogor pada 1-14 September.

“Jadi inilah bendera HTI ?” saya bertanya.
“Bukan, ini adalah bendera perjuangan, HTI dan Hizbut Tahrir tidak memiliki bendera,” jelas Ismail.

Saya pun melihat ke pojok ruangan. Jika sebelumnya saya melihat bendera berkalimat Tauhid berwarna putih dengan tulisan hitam, kali ini terbalik, bendera hitam dengan tulisan putih.

“Apa perbedaan bendera putih dan hitam ini?” tanya saya.

“Jika putih adalah bendera pergerakan, maka bendera hitam adalah bendera perang,” jawab Ismail.

Sedikit tersenyum sambil terkejut, saya kembali bertanya, “jadi sekarang di Indonesia, gunakan bendera yang mana?”

Ismail tak menjawab. Ia hanya tertawa.

Jika Khilafah berdiri, apakah Pancasila tetap ada?

Saya kembali menelusuri ruangan demi ruangan di kantor DPP HTI Jakarta. Sampailah saya pada lantai 4 di bagian kantor ini.

Cukup terkejut saya. HTI memiliki ruangan studio layaknya ruangan studio televisi profesional yang dimiliki stasiun stasiun televisi swasta.

Di sinilah saya tanyakan untuk apa ruangan dan perlengkapan sebanyak itu, layaknya milik stasiun TV profesional.

Di ruangan ini pula saya berdialog dengan Ismail, soal ide khilafah dan kaitannya dengan Bangsa Indonesia.

Saya tanyakan, “apakah jika cita-cita HTI akan berdirinya khilafah, lalu menafikan Pancasila?”

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorHeru Margianto
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X