Kompas.com - 01/03/2017, 16:34 WIB
Mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar, seusai diperiksa sebagai tersangka di Gedung KPK Jakarta, Jumat (17/2/2017). KOMPAS.com/ABBA GABRILLINMantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar, seusai diperiksa sebagai tersangka di Gedung KPK Jakarta, Jumat (17/2/2017).
|
EditorSabrina Asril

JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar diperiksa oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Rabu (1/3/2017).

Ia diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Direktur Utama PT Mugi Rekso Abado, Soetikno Soedarjo. Emirsyah selesai menjalani pemeriksaan sekitar pukul 15.39 WIB.

Menggunakan kemeja berwarna biru laut lengan panjang dipadu celana bahan hitam, Emirsyah melenggang keluar lobi KPK. Namun, Emirsyah irit bicara.

Tak banyak ucapan yang keluar saat pewarta menanyakan seputar kasus suap yang diduga terjadi dalam tentang tahun 2005-2014.

"Saya hadir sebagai saksi untuk Pak Soetikno. Saya mau kooperatif," kata Emirsyah.

(Baca: Selain Emirsyah, KPK Dalami Oknum Lain yang Diduga Menerima Uang)

Pernyataan koorperatif yang dilontarkan Emirsyah senada pasca pemeriksaan pada Jumat (17/2/2017) lalu. Saat itu, Emirsyah berkeinginan kasus tersebut tidak mengganggu kinerja Garuda sebagai maskapai penerbangan nomor satu di Indonesia.

"Inilah yang kami inginkan dan tentunya kami harapkan ini tidak mengganggu Garuda sendiri ya," ujar Emir di Gedung KPK Jakarta," ujar Emirsyah.

Emirsyah telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dengan dugaan menerima suap dari Rolls-Royce dalam bentuk transfer uang dan aset.

(Baca: Soetikno Soedarjo Merasa Tak Punya Hubungan Bisnis dengan Emirsyah)

Nilai suap diduga lebih dari 4 juta dollar AS, atau setara dengan Rp 52 miliar dari perusahaan asal Inggris Rolls-Royce. Soetikno yang merupakan beneficial owner Connaught International Pte Ltd diduga merupakan perantara suap. Soetikno telah ditetapkan sebagai tersangka.

KPK menduga suap tersebut terkait pengadaan mesin Rolls-Royce untuk pesawat Airbus milik Garuda Indonesia pada periode 2005-2014.

Uang dan aset yang diberikan kepada Emir diduga diberikan Rolls-Royce agar perusahaan asal Inggris tersebut menjadi penyedia mesin bagi maskapai penerbangan nomor satu di Indonesia.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X