Kompas.com - 09/01/2015, 08:13 WIB
Tim penyelam dari Basarnas menyiapkan perlengkapan selam di atas kapal SAR KN101 Purworejo, di tengah perairan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Jumat (2/1/2015). Pencarian kembali mengalami kendala akibat ketinggian ombak mencapai hingga lima meter. KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZESTim penyelam dari Basarnas menyiapkan perlengkapan selam di atas kapal SAR KN101 Purworejo, di tengah perairan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Jumat (2/1/2015). Pencarian kembali mengalami kendala akibat ketinggian ombak mencapai hingga lima meter.
EditorLaksono Hari Wiwoho

Oleh: Iwan Santosa dan Dwi Bayu Radius

KOMPAS.com - Misi pencarian korban dan pesawat AirAsia QZ 8501 menjadi bukti, negara-negara sahabat mampu menanggalkan beban historis dan ego kebangsaan. Bergandeng tangan, mereka bekerja bersama melakukan pencarian dan evakuasi, mengatasi keletihan, hingga berbincang hangat.

Komandan Divisi Ke-6 Pengawalan Pasukan Bela Diri Maritim Jepang (JMSDF) Kapten Tsutomu Okawa tersenyum saat ditanyakan kondisi awak kapalnya. "Sebelum ke Indonesia, kami beroperasi di perairan Somalia menangani bajak laut empat bulan. Awak kapal tentu lelah," katanya.

Namun, serdadu Jepang bersungguh-sungguh mencari korban dan pesawat AirAsia QZ 8501. Jepang mengerahkan dua kapal perang tipe perusak (destroyer), yakni JS Takanami dan JS Ohnami. Di kapal JS Ohnami yang sedang berlayar di Laut Jawa, Rabu (7/1), prajurit Jepang terlihat bekerja dengan serius.

Awak JS Ohnami terus mengamati laut untuk mencari jenazah atau bagian pesawat. Di anjungan kapal, tiga awak yang memegang teropong hampir tak pernah melepaskan alat itu.

Di ruang pengendalian, mata para awak terpaku melihat layar-layar monitor. Awak JS Ohnami sejauh ini telah menemukan satu jenazah, Selasa (6/1), dan satu jaket, Minggu (4/1). Dalam melakukan pencarian, armada Jepang dilengkapi tiga helikopter Seahawk.

Batas waktu melakukan pencarian belum ditetapkan. Lama pencarian tergantung dari hasil pembicaraan Pemerintah Jepang dengan Indonesia. "Untuk melepaskan stres, kami makan makanan enak, berolahraga, dan meregangkan otot," tutur Okawa tertawa.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Itu belum termasuk cuaca buruk yang kerap membayangi kru Jepang. Hambatan itu antara lain angin serta arus kencang, gelombang tinggi, dan hujan deras. "Jarak pandang yang sangat penting bisa berkurang kalau hujan turun. Angin kencang bisa tiba-tiba berembus," ujarnya.

Kapal JS Takanami dan JS Ohnami yang masing-masing berarti ombak tinggi dan ombak besar adalah kapal dengan fungsi menangkal serangan kapal selam. Gelombang tinggi tak menjadi masalah.

"Kami bekerja keras bersama Indonesia dengan erat. Kapal-kapal Jepang saling kontak dengan Basarnas (Badan SAR Nasional)," ujar Okawa.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Polri Tindak Pinjol, Puan: Jangan Terhenti di Operator, Harus sampai Bosnya

Polri Tindak Pinjol, Puan: Jangan Terhenti di Operator, Harus sampai Bosnya

Nasional
Ini Syaratnya Mendaftar Jadi Bakal Calon Anggota KPU-Bawaslu 2022-2027

Ini Syaratnya Mendaftar Jadi Bakal Calon Anggota KPU-Bawaslu 2022-2027

Nasional
Pemerintah Diminta Prioritaskan Pembukaan Lapangan Kerja demi Menjauhkan Warga dari Pinjol Ilegal

Pemerintah Diminta Prioritaskan Pembukaan Lapangan Kerja demi Menjauhkan Warga dari Pinjol Ilegal

Nasional
Wapres Imbau Umat Islam yang Mampu untuk Lakukan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui LAZ

Wapres Imbau Umat Islam yang Mampu untuk Lakukan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui LAZ

Nasional
Waketum Golkar Ajak Mantan Kader yang Belum Beruntung Bikin Partai Baru untuk Bergabung Lagi

Waketum Golkar Ajak Mantan Kader yang Belum Beruntung Bikin Partai Baru untuk Bergabung Lagi

Nasional
Golkar Terbuka Berkoalisi dengan Partai Mana Pun, Termasuk Pecahan Partai Golkar

Golkar Terbuka Berkoalisi dengan Partai Mana Pun, Termasuk Pecahan Partai Golkar

Nasional
Jokowi: BUMN Terlalu Sering Kita Proteksi, Enak Sekali

Jokowi: BUMN Terlalu Sering Kita Proteksi, Enak Sekali

Nasional
Wapres Sebut Laznas Yatim Mandiri Telah Salurkan Bantuan Pendidikan untuk 1.000 Anak Yatim Terdampak Pandemi

Wapres Sebut Laznas Yatim Mandiri Telah Salurkan Bantuan Pendidikan untuk 1.000 Anak Yatim Terdampak Pandemi

Nasional
Akbar Tanjung: Kalau 2004 Golkar Pernah Jadi Pemenang, Insya Allah 20 Tahun Kemudian Juga Bisa

Akbar Tanjung: Kalau 2004 Golkar Pernah Jadi Pemenang, Insya Allah 20 Tahun Kemudian Juga Bisa

Nasional
Minta BUMN yang Tak Berkembang Ditutup, Jokowi: Tidak Ada 'Selamet-selametin'

Minta BUMN yang Tak Berkembang Ditutup, Jokowi: Tidak Ada "Selamet-selametin"

Nasional
Jokowi: Kadang Saya Malu, BUMN Sudah 'Dibukain' Pintu tetapi Enggak Ada Respons

Jokowi: Kadang Saya Malu, BUMN Sudah "Dibukain" Pintu tetapi Enggak Ada Respons

Nasional
Wapres Sebut Jumlah Anak Yatim Piatu Mencapai 28.000 Per September 2021

Wapres Sebut Jumlah Anak Yatim Piatu Mencapai 28.000 Per September 2021

Nasional
Enam Orang yang Terjaring OTT Tiba di Gedung Merah Putih KPK

Enam Orang yang Terjaring OTT Tiba di Gedung Merah Putih KPK

Nasional
Jokowi Tekankan soal Transformasi Bisnis dan Adaptasi Teknologi di BUMN

Jokowi Tekankan soal Transformasi Bisnis dan Adaptasi Teknologi di BUMN

Nasional
Anggota DPR Nilai Cara Penagihan Pinjol dengan Teror dan Intimidasi Patut Diberangus

Anggota DPR Nilai Cara Penagihan Pinjol dengan Teror dan Intimidasi Patut Diberangus

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.