Kompas.com - 19/05/2014, 09:34 WIB
Prabowo Subianto (kiri) dan Joko Widodo (kanan). KOMPAS.COM/VITALIS YOGI TRISNA DAN RODERICK ADRIAN MOZESPrabowo Subianto (kiri) dan Joko Widodo (kanan).
EditorPalupi Annisa Auliani
JAKARTA, KOMPAS.com — Dua bakal calon presiden, Senin (19/5/2014), menjadwalkan deklarasi bakal calon wakil presiden pendampingnya. Namun, pilihan lokasi deklarasi mengundang tanda tanya dari sejarawan. Ada kekhawatiran slogan "Jas Merah" telah koyak.

Bakal calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Joko Widodo, memilih Gedong Joang sebagai lokasi deklarasi pada Senin pagi. Adapun bakal calon presiden dari Partai Gerindra, Prabowo Subianto, memilih sebuah rumah di kawasan Bidara Cina sebagai lokasi deklarasi pada Senin siang.

"Ini pilihan yang kentara sekali menunjukkan ketidaktahuan posisi sejarah gedung itu bila dikaitkan dengan Soekarno," kecam sejarawan JJ Rizal, menyorot pilihan lokasi deklarasi Jokowi, Senin pagi.

Gedung Joang, kata Rizal, adalah simbol anti-Soekarno bila merunut sejarah aktivitas di dalamnya. "Padahal selama ini PDI-P selalu mengidentifikasi diri dengan (ajaran) Soekarno," ujar dia sembari menderetkan slogan-slogan semacam "Tri Sakti".

Jejak Soekarno di Gedung Joang, kata Rizal, hanya berupa aktivitas mengajar, dan belakangan berupa pernak-pernik kepresidenan, seperti mobil RI-1 milik proklamator itu yang ditempatkan di sana. "Selebihnya, gedung itu identik dengan aktivitas Partai Murba, partai kecil yang sejarahnya menunjukkan anti-Soekarno."

Murba adalah singkatan dari Musyawarah Rakyat Banyak. Pendirinya adalah golongan pemuda yang memilih jalur perjuangan keras, seperti Tan Malaka dan Sukarni. Adapun Soekarno dan teman-teman seangkatannya cenderung mengambil garis politik lebih lunak.

Penelusuran Kompas.com mendapatkan Partai Murba bahkan pernah dibekukan pada September 1965. Namun dalam masa peralihan pemerintahan ke Soeharto, partai ini direhabilitasi. Pada 1971, Murba ikut pemilu, tetapi pada 1977 melebur ke Partai Demokrasi Indonesia. Pada Pemilu 1999, partai ini muncul kembali, tetapi tak lolos parliamentary threshold (ambang batas parlemen).

"PDI-P selalu mengusung slogan-slogan yang menghidupkan kembali jargon-jargon lama Soekarno, tetapi secara substansi meragukan," kecam Rizal. "Tidak lulus ujian," ujar dia memberikan ibarat. "Gedung ini bukan Soekarno banget. Justru kuat kesan anti-Soekarno." Rizal menegaskan, Murba dalam sejarahnya menunjukkan posisi sebagai lawan Soekarno.

Menurut Rizal, gelagat tak lulus sejarah ini sempat mencuat juga ketika Jokowi menyebutkan adanya kesamaan visi dan misi dengan Partai Golkar, beberapa waktu lalu, saat kemungkinan koalisi masih dibuka untuk partai berlambang pohon beringin tersebut.

Sementara itu, para petinggi PDI-P mengatakan bahwa pilihan atas Gedung Joang bukanlah tanpa pertimbangan. "(Simbol) Orde Perjuangan," sebut Wasekjen PDI-P Hasto Kristiyanto dan Ketua DPP PDI-P Andreas Hugo Pareira, Senin pagi.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wamenkumham Ungkap Tak Mudah Susun KUHP di Negara Multikultural Seperti Indonesia

Wamenkumham Ungkap Tak Mudah Susun KUHP di Negara Multikultural Seperti Indonesia

Nasional
India, Singapura, dan Australia Siap Bantu Pencarian Kapal Selam KRI Nanggala-402

India, Singapura, dan Australia Siap Bantu Pencarian Kapal Selam KRI Nanggala-402

Nasional
Puan Maharani Ajak Generasi Muda Bangun Cerita Baru dari Kisah Hidup Kartini

Puan Maharani Ajak Generasi Muda Bangun Cerita Baru dari Kisah Hidup Kartini

Nasional
Dijdawalkan Bertemu AHY, Presiden PKS Akan Bahas Soal Demokrasi dan Kebangsaan

Dijdawalkan Bertemu AHY, Presiden PKS Akan Bahas Soal Demokrasi dan Kebangsaan

Nasional
Kemhan: Hasil Pengamatan Udara, Ditemukan Tumpahan Minyak di Posisi Awal Hilangnya KRI Nanggala-402

Kemhan: Hasil Pengamatan Udara, Ditemukan Tumpahan Minyak di Posisi Awal Hilangnya KRI Nanggala-402

Nasional
Survei IPS: 35,5 Persen Responden Puas terhadap Kinerja Wapres Ma'ruf Amin

Survei IPS: 35,5 Persen Responden Puas terhadap Kinerja Wapres Ma'ruf Amin

Nasional
Safenet: Situasi Pemenuhan Hak Digital di Indonesia Semakin Mendekati Situasi Otoritarianisme

Safenet: Situasi Pemenuhan Hak Digital di Indonesia Semakin Mendekati Situasi Otoritarianisme

Nasional
Ketua DPP PDI-P: Megawati Bertemu Nadiem sebagai Ketua Dewan Pengarah BPIP

Ketua DPP PDI-P: Megawati Bertemu Nadiem sebagai Ketua Dewan Pengarah BPIP

Nasional
Penyidik KPK yang Diduga Peras Wali Kota Tanjungbalai Ditangkap

Penyidik KPK yang Diduga Peras Wali Kota Tanjungbalai Ditangkap

Nasional
Pemerintah Didesak Hentikan Vaksinasi Kelompok Non-rentan Covid-19

Pemerintah Didesak Hentikan Vaksinasi Kelompok Non-rentan Covid-19

Nasional
Amnesty: Vonis Hukuman Mati Indonesia Tahun 2020 Capai Rekor Tertinggi di Masa Kepemimpinan Jokowi

Amnesty: Vonis Hukuman Mati Indonesia Tahun 2020 Capai Rekor Tertinggi di Masa Kepemimpinan Jokowi

Nasional
Mendagri Harap UU Otsus Bisa Jawab Persoalan SDM di Papua

Mendagri Harap UU Otsus Bisa Jawab Persoalan SDM di Papua

Nasional
Saksi Sebut Bank Garansi Rp 52,3 Miliar Merupakan Komitmen Pengekspor Benih Lobster

Saksi Sebut Bank Garansi Rp 52,3 Miliar Merupakan Komitmen Pengekspor Benih Lobster

Nasional
Kemerdekaan Indonesia dan Toleransi Para Pemimpin Islam

Kemerdekaan Indonesia dan Toleransi Para Pemimpin Islam

Nasional
Oknum KPK Diduga Peras Wali Kota Tanjungbalai, Firli Pastikan Tak Akan Tolerir Penyimpangan

Oknum KPK Diduga Peras Wali Kota Tanjungbalai, Firli Pastikan Tak Akan Tolerir Penyimpangan

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X