Kompas.com - 21/06/2013, 03:01 WIB
Dua belas anggota Kopassus Kandangmenjangan Kartasura, yang menjadi terdakwa kasus penyerangan Lapas Cebongan Sleman, memasuki Pengadilan Militer II-11 Yogyakarta, Kamis (20/6/2013). KOMPAS.com/Yustinus wijaya kusumaDua belas anggota Kopassus Kandangmenjangan Kartasura, yang menjadi terdakwa kasus penyerangan Lapas Cebongan Sleman, memasuki Pengadilan Militer II-11 Yogyakarta, Kamis (20/6/2013).
|
EditorPalupi Annisa Auliani
YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Sidang perdana terhadap 12 terdakwa kasus penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Cebongan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, digelar mulai Kamis (20/6/2013). Dari kronologi yang dibacakan dalam sidang, empat tahanan lapas ini "dieksekusi" dengan pola double attack.

Serda Ucok Tigor Simbolon adalah terdakwa yang diduga sebagai pelaku penembakan keempat tahanan. Senjata AK-47 yang dia pakai disebut sempat macet. Berikut adalah kronologi kasus yang diungkap di dalam persidangan itu.

Tiga hari setelah penganiayaan yang menewaskan Serka Heru Santoso di Hugo's Cafe Yogyakarta pada 19 Maret 2013, Ucok mengajak Serda Sugeng Sumaryanto dan Koptu Kodik untuk mencari pelaku. Para pelaku penganiaya Heru, berdasarkan informasi yang didapat Ucok, juga diduga merupakan pembacok Sertu Sriyono, anggota Kodim Yogyakarta yang juga mantan anggota Kopassus, sehari setelah kematian Heru.

Informasi itu didapatkan Ucok saat mengikuti pelatihan di Gunung Lawu. Saat di kantin, Jumat (22/3/2013), Ucok bertemu Sertu Tri Juwanto dan mengajaknya serta. Kepada Tri, Ucok juga memintanya mengajak teman-teman mereka yang lain.

Pada hari itu juga, pukul 22.00 WIB, mereka berempat bersama Serda Ikhmawan Suprapto, Sertu Anjar Rahmanto, Sertu Suprapto, Sertu Hermawan Siswoyo, dan Sertu Martinus Roberto berangkat ke Yogyakarta dengan menggunakan mobil Avanza dan APV. Di Yogyakarta, mereka berputar-putar di kawasan Lempuyangan dan Malioboro untuk mencari kelompok preman yang menganiaya rekan mereka.

Saat bertanya kepada warga, mereka mendapat informasi bahwa Deki dkk, pelaku pembunuhan Heru dan penganiayaan Sriyono, berada di Lapas Kelas II B Cebongan, Sleman. Sesampainya di Lapas, Kodik membagikan tiga senjata AK-47, dua pucuk replika AK-47, dan satu pistol yang semula disimpan di bagian belakang mobil kepada rekan-rekannya.

Sekitar pukul 00.00 WIB, gerombolan tentara ini masuk ke area Lapas. Sewaktu tiba di depan gerbang, Ucok menggedor pintu dan mengaku aparat dari Polda DIY yang ingin mengebom tahanan atas nama Deki dkk.

Petugas sipir sempat curiga. Tetapi, karena diancam dengan senjata api, pintu akhirnya dibukakan. Gerombolan Kopassus kemudian masuk ke dalam bangunan Lapas. Rombongan ini masuk ke lokasi blok penjara menggunakan kotak kunci yang diambil paksa dari Kepala Keamanan Lapas Cebongan.

Setelah pintu Blok A5 dibuka, Ucok masuk ke dalam blok, sedangkan dua terdakwa lain berjaga di luar. Melihat ada kelompok bersenjata masuk dan mencari Deki dkk, 31 tahanan lain memisahkan diri. Sementara kelompok Deki berdiri di sisi kanan.

Terdakwa Ucok kemudian menembak Hendrik Angel Sahetapi alias Deki (31), menyusul kemudian Yohanes Juan (38) yang saat itu dalam posisi angkat tangan. Melihat tahanan lain, Adrianus Candra Galaja alias Dedi (33) berjalan merangkak ke arah selatan, Ucok kembali merentetkan tembakan.

Setelah itu, senjata yang digunakan Ucok macet. Dia lantas keluar untuk memperbaiki senjata tersebut bersama Sugeng Sumaryanto, tetapi tetap tidak berhasil. Ucok kemudian bertukar senjata dengan Sugeng.

Setelah menukar senjata, Ucok kembali masuk ke ruang tahanan dan bertanya, "Mana pelaku yang satunya lagi?". Puluhan tahanan lain kembali menyingkir dan menyisakan Gameliel Yermianto Rohi Riwu alias Ade (29) yang berdiri di dekat kamar mandi.

Ade pun ditembak sebanyak tiga kali. Seusai mengeksekusi keempat tahanan itu, para pelaku keluar. Sebagian pulang ke markas Kopassus, sedangkan tiga terdakwa kembali ke tenda latihan di Gunung Lawu.

Baca tentang


    Rekomendasi untuk anda
    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    KKB Tembak Mati Sopir Ojek di Kabupaten Puncak Papua

    KKB Tembak Mati Sopir Ojek di Kabupaten Puncak Papua

    Nasional
    Kemendagri Minta Pemprov DKI Susun Rencana Aksi Antisipasi Banjir

    Kemendagri Minta Pemprov DKI Susun Rencana Aksi Antisipasi Banjir

    Nasional
    Eks Pejabat Kemenag Undang Sumantri Segera Disidang

    Eks Pejabat Kemenag Undang Sumantri Segera Disidang

    Nasional
    Mendagri: Kepala Daerah Terpilih Harus Bisa Kendalikan Covid-19 di Wilayah Masing-masing

    Mendagri: Kepala Daerah Terpilih Harus Bisa Kendalikan Covid-19 di Wilayah Masing-masing

    Nasional
    Planas PRB Harap Konsep Konvergensi Cegah Ketidakefisienan Sumber Daya Pencegahan Bencana

    Planas PRB Harap Konsep Konvergensi Cegah Ketidakefisienan Sumber Daya Pencegahan Bencana

    Nasional
    Waketum PKB: Minimal Ada 3 Menteri yang Di-reshuffle

    Waketum PKB: Minimal Ada 3 Menteri yang Di-reshuffle

    Nasional
    Soal Reshuffle Kabinet, Gerindra: Itu Hak Presiden, Kita Tak Ikut Campur

    Soal Reshuffle Kabinet, Gerindra: Itu Hak Presiden, Kita Tak Ikut Campur

    Nasional
    Ilham Saputra Resmi Jadi Ketua KPU Definitif Gantikan Arief Budiman

    Ilham Saputra Resmi Jadi Ketua KPU Definitif Gantikan Arief Budiman

    Nasional
    Polri: Total 31 Tersangka Teroris Terkait Aksi Bom Bunuh Diri Makassar Sudah Ditangkap

    Polri: Total 31 Tersangka Teroris Terkait Aksi Bom Bunuh Diri Makassar Sudah Ditangkap

    Nasional
    Zulkifli Hasan: Persoalan Impor Beras Tak Sesederhana yang Dibayangkan

    Zulkifli Hasan: Persoalan Impor Beras Tak Sesederhana yang Dibayangkan

    Nasional
    Formappi: Pembentukan Satgas BLBI adalah Pengakuan Pentingnya RUU Perampasan Aset

    Formappi: Pembentukan Satgas BLBI adalah Pengakuan Pentingnya RUU Perampasan Aset

    Nasional
    ICW: Komitmen Pemerintah dalam Pemberantasan Korupsi Tak Bisa Dipercaya

    ICW: Komitmen Pemerintah dalam Pemberantasan Korupsi Tak Bisa Dipercaya

    Nasional
    SAFEnet Sebut Kondisi Kebebasan Berekspresi di Indonesia Memburuk pada 2020

    SAFEnet Sebut Kondisi Kebebasan Berekspresi di Indonesia Memburuk pada 2020

    Nasional
    Polri Tangkap Lagi Satu Terduga Teroris Terkait Bom Bunuh Diri di Makassar

    Polri Tangkap Lagi Satu Terduga Teroris Terkait Bom Bunuh Diri di Makassar

    Nasional
    Ramadhan Masih di Tengah Pandemi, Zulkifli Hasan Minta Pemerintah Kendalikan Harga Pangan

    Ramadhan Masih di Tengah Pandemi, Zulkifli Hasan Minta Pemerintah Kendalikan Harga Pangan

    Nasional
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X