Stafsus Presiden: Kalau Hadapi Orang Papua, Penanganannya Beda - Kompas.com

Stafsus Presiden: Kalau Hadapi Orang Papua, Penanganannya Beda

Fabian Januarius Kuwado
Kompas.com - 13/10/2017, 22:06 WIB
Staf Khusus Presiden Kelompok Kerja Papua, Lenis Kogoya saat ditemui di Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Jakarta Pusat, Senin (4/9/2017). KOMPAS.com/Kristian Erdianto Staf Khusus Presiden Kelompok Kerja Papua, Lenis Kogoya saat ditemui di Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Jakarta Pusat, Senin (4/9/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Staf Khusus Presiden, Lenis Kagoya, menyayangkan peristiwa perusakan Kantor Kementerian Dalam Negeri yang dilakukan oleh massa pendukung salah satu calon kepala daerah di Tolikara, Papua.

Namun, Lenis berpendapat bahwa peristiwa itu sebenarnya tak perlu terjadi jika pihak Kemendagri menerima massa dengan baik dan menjelaskan duduk persoalan dengan baik pula.

"Mereka itu ingin diterima dengan baik. Setelah selesai pembahasan, pastinya pulang. Jadi kalau menghadapi orang Papua, penanganannya beda. Memang harus betul-betul melihat budayanya," ujar Lenis di kantornya, Jumat (13/10/2017).

Laporan yang ia terima, massa mengamuk setelah tak diizinkan untuk bertemu dengan Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo. Massa malah dihadapkan pada dua direktur jenderal.

Massa pun tidak mendapatkan penjelasan yang baik tentang keberadaan Mendagri. Alhasil, massa yang merasa diulur-ulur marah dan mengamuk.

Sebagai contoh, di kantornya sendiri. Lenis mengaku, banyak orang Papua yang sering datang ke kantornya dengan segala persoalan. Ia selalu menerima mereka dengan baik.

"Coba di sini, orang Papua itu antre ingin menemui saya. Mereka marah-marah juga, sama. Jadi memang mereka itu harus diterima lalu diberikan penjelasan persoalannya apa. Setelah diberi arahan, baru mereka pasti pulang. Namanya juga pemerintah, kan memang harus melayani mereka," ujar Lenis.

(Baca juga: Mendagri Minta Usut Aktor Penyerangan Kantor Kemendagri)

Sebelumnya, massa yang mengaku sebagai pendukung salah satu calon bupati Kabupaten Tolikara, Papua, menyerang dan merusak kantor Kementerian Dalam Negeri, Rabu (11/10/2017).

Awalnya, massa yang berjumlah sekitar 30 orang menggelar aksi unjuk rasa di Kantor Kemendagri sejak Rabu pagi. Mereka menuntut Mendagri mengesahkan John Tabo-Barnabas Weya.

Pada Rabu sore, sekitar pukul 15.00 WIB, Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum dan Dirjen Otonomi Daerah menerima massa. Namun, massa menolak.

Mereka meminta langsung dipertemukan dengan Mendagri Tjahjo Kumolo. Padahal, saat itu Tjahjo tidak berada di kantor.

(Baca: Kronologi Saat Massa Merusak Kantor Kemendagri)

Di saat yang sama, sejumlah orang yang hendak diterima oleh Dirjen kembali lagi kepada massa yang berada di luar gedung Kemendagri sambil berteriak. Teriakan itu kemudian memprovokasi massa merangsek ke dalam gedung.

Sontak, massa masuk ke dalam area Kantor Kemendagri. Mereka membawa batu dan melemparkannya secara asal-asalan.

"Ada empat mobil, satu bus, rusak. Kaca beberapa gedung pecah, lalu beberapa pot bunga pecah. Satu kamera wartawan juga rusak karena kena batu," ujar Dirjen Otda Sumarsono, usai kejadian.

(Baca juga: Penjelasan Menteri Tjahjo soal Penyerangan terhadap Kantor Kemendagri)

Kompas TV Ada sembilan pegawai Kemendagri yang jadi korban serangan kelompok massa asal Tolikara.

PenulisFabian Januarius Kuwado
EditorBayu Galih
Komentar

Terkini Lainnya

Setya Novanto dan Para Loyalisnya yang Mulai 'Berguguran'...

Setya Novanto dan Para Loyalisnya yang Mulai "Berguguran"...

Nasional
Kadishub DKI Rayu Sopir Angkot Tanah Abang Ikut OK Otrip

Kadishub DKI Rayu Sopir Angkot Tanah Abang Ikut OK Otrip

Megapolitan
Kepala SMK Kaget Dua Siswanya Bunuh Sopir Taksi 'Online'

Kepala SMK Kaget Dua Siswanya Bunuh Sopir Taksi "Online"

Regional
Cegah Wabah Berulang, Jokowi Janji Bangun Infrastruktur di Asmat

Cegah Wabah Berulang, Jokowi Janji Bangun Infrastruktur di Asmat

Nasional
100 Hari Kerja Anies-Sandi, Terbentuknya Komite Pencegahan Korupsi dan Harmonisasi Regulasi

100 Hari Kerja Anies-Sandi, Terbentuknya Komite Pencegahan Korupsi dan Harmonisasi Regulasi

Megapolitan
'Saya Tanam Jambu agar Warga yang Lewat Bisa Makan, Saya Dapat Pahala'

"Saya Tanam Jambu agar Warga yang Lewat Bisa Makan, Saya Dapat Pahala"

Regional
Diduga Edarkan Narkoba, Oknum Polisi Riau dan Istrinya Ditangkap

Diduga Edarkan Narkoba, Oknum Polisi Riau dan Istrinya Ditangkap

Regional
Jakarta Selatan dan Timur Berpotensi Hujan Deras Disertai Petir dan Angin Kencang

Jakarta Selatan dan Timur Berpotensi Hujan Deras Disertai Petir dan Angin Kencang

Megapolitan
Gempa 4,9 Magnitudo Guncang Pulau Seram, Warga Berhamburan Keluar Rumah

Gempa 4,9 Magnitudo Guncang Pulau Seram, Warga Berhamburan Keluar Rumah

Regional
Jusuf Kalla: Kalau Sekjen Golkar Sekarang Jenderal, Itu Tak Lepas dari Masa Lalu

Jusuf Kalla: Kalau Sekjen Golkar Sekarang Jenderal, Itu Tak Lepas dari Masa Lalu

Nasional
Tabrakan Pesawat dan Helikopter di Jerman, Empat Tewas

Tabrakan Pesawat dan Helikopter di Jerman, Empat Tewas

Internasional
Satu Orang Meninggal akibat Gempa, Pangdam Siliwangi Kerahkan Bantuan Pasukan

Satu Orang Meninggal akibat Gempa, Pangdam Siliwangi Kerahkan Bantuan Pasukan

Regional
Sejumlah Warga Nunukan Nekat Berfoto dengan Buaya Liar

Sejumlah Warga Nunukan Nekat Berfoto dengan Buaya Liar

Regional
Lion Air Bebaskan Biaya Tiket Pesawat untuk Peserta Kongres HMI di Ambon

Lion Air Bebaskan Biaya Tiket Pesawat untuk Peserta Kongres HMI di Ambon

Regional
Dilaporkan Hilang, Potongan Tubuh Perempuan Ditemukan di Dalam Panci

Dilaporkan Hilang, Potongan Tubuh Perempuan Ditemukan di Dalam Panci

Internasional

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM