Ingin Kenakan Pajak, Indonesia Tunggu Perubahan Izin Prinsip Facebook - Kompas.com

Ingin Kenakan Pajak, Indonesia Tunggu Perubahan Izin Prinsip Facebook

Fabian Januarius Kuwado
Kompas.com - 25/07/2017, 19:17 WIB
Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara dalam sebuah diskusi bertajuk Bedah Fatwa MUI #MuamalahMedsosiah di Galeri Nasional, Jakarta Pusat, Jumat (9/6/2017). KOMPAS.com/Kristian Erdianto Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara dalam sebuah diskusi bertajuk Bedah Fatwa MUI #MuamalahMedsosiah di Galeri Nasional, Jakarta Pusat, Jumat (9/6/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Indonesia masih membutuhkan waktu untuk mengenakan pajak terhadap penyedia jejaring sosial asal Amerika Serikat, Facebook.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menjelaskan bahwa perusahaan milik Mark Zuckerberg itu sebenarnya telah mengantongi izin prinsip pada Maret 2017 lalu.

Namun, hingga kini pemerintah belum dapat menjaring pajaknya. Sebab, usaha yang didaftarkan Facebook di dalam izin prinsip itu berjenis manajemen konsultasi consulting management.

Sementara, penghasilan Facebook didominasi oleh periklanan digital.

"Jadi, izin prinsipnya itu masuknya ke consulting management, itu kan bukan sesuai dengan bisnisnya, yaitu periklanan," ujar Rudiantara di Kompleks Istana Presiden, Selasa (25/7/2017).

Rudiantara mendorong Facebook untuk segera mendaftarkan ke Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) jenis periklanan agar pajak bisa segera diterapkan.

"Kami minta ke mereka untuk pindah (ke periklanan). Nanti pasti saya bantu. Pihak Kominfo dan BPS kan sudah buka KBLI baru (KBLI Periklanan)," ujar Rudiantara.

(Baca juga: Menkeu Beberkan Status Facebook, Google, dan Twitter di Indonesia)

Ia mengingatkan, prinsip pajak periklanan berlaku surut. Artinya, saat sudah mendaftarkan diri ke KBLI yang sesuai, pajak yang dikenakan Facebook dihitung sejak perusahaan itu menerima pemasukan pertama kali dari periklanan.

Oleh sebab itu, sebelum nilai pajak terus naik, Rudiantara menyarankan agar Facebook segera mengurus izin tersebut.

"Kalau memang enggak segera diurus ya berarti numpuk saja terus pajaknya," ujar Rudiantara.

Kompas TV Makin banyaknya pengguna internet yang nonton video dan melihat foto di Facebook berhasil mendongrak pemasukan perusahaan 50 persen lebih tinggi. Di triwulan terakhir 2016 lalu, pemasukan Facebook mencapai 8,8 Miliar Dollar. Keuntungan perusahaan malah meroket lebih dari 130 persen. Hobi nonton video di Facebook membuat perusahaan bisa memasukkan lebih banyak slot iklan. Kebalikan dari kinerja Facebook yang sangat kinclong, kinerja si burung biru Twitter malah makin suram. Sepanjang 2016, Twitter Inc cuma bisa menambah dua juta pengguna jadi total 319 juta pengguna Twitter. Pemasukan yang cuma tumbuh satu persen membuat Twitter Inc menderita kerugian 167 juta dollar di triwulan empat 2016. Chief Operating Officer Twitter, Anthony Noto beralasan, lambatnya pemasukan karena Twitter sedang berinvestasi membuat fitur baru yang kedepannya bakal mendatangkan uang.

PenulisFabian Januarius Kuwado
EditorBayu Galih
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM