Sabtu, 1 November 2014

News / Nasional

Kapolda Jabar Diganti, Terkait Susno?

Sabtu, 8 Juni 2013 | 14:45 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pergantian Kepala Polda Jawa Barat oleh Polri dinilai aneh. Pasalnya, Inspektur Jenderal Tubagus Anis Angkawijaya belum satu tahun menjabat sebagai Kapolda Jabar.

"Khusus untuk Jabar, pergantiannya tergolong aneh karena Kapoldanya baru menjabat, belum ada setahun. Bandingkan dengan Kapolda Sumatera Utara dan Jawa Timur yang sudah dua tahun lebih," kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane di Jakarta, Sabtu (8/6/2013).

Seperti diketahui, Polri melakukan mutasi 76 perwira menengah dan tinggi. Sebanyak 11 di antaranya merupakan mutasi jabatan kapolda, salah satunya Jabar. Kapolda Jabar akan dijabat Irjen Suhardi Alius yang saat ini menjabat Kepala Divisi Humas Polri, sedangkan Tubagus akan menjabat Kadiv TI Polri.

Neta mengaitkan pergantian Kapolda Jabar tersebut dengan kasus yang melibatkan terpidana Komjen (Purn) Susno Duadji. Kapolda Jabar dikritik berbagai pihak lantaran dinilai melindungi Susno ketika hendak dieksekusi kejaksaan untuk menjalani pidana penjara selama tiga tahun enam bulan.

Neta juga menyoroti pergantian Kapolda Jatim dari Irjen Hadiatmoko kepada Irjen Unggung Cahyono. Menurut Neta, kemungkinan pergantian itu dalam rangka mengantisipasi keamanan dan ketertiban masyarakat menjelang Pilgub Jatim dan Pemilu 2014.

Terkait pergantian Kapolda Riau dari Brigjen (Pol) Suedi Husen kepada Brigjen (Pol) Condro Kirono, menurut Neta, kemungkinan berkaitan dengan maraknya perjudian di Riau. Bahkan, belum lama ini justru tim Mabes Polri yang melakukan penggerebekan lokasi perjudian di Riau.

Menyangkut mutasi secara keseluruhan, Neta melihat Polri lebih banyak menempatkan perwira muda untuk memegang wilayah atau menjadi kapolda. Kepala Polri Jenderal (Pol) Timur Pradopo, kata dia, sepertinya ingin mempersiapkan perwira mudanya untuk mengantisipasi pemilu dan Pilpres 2014.

Begitu pula terkait dimunculkannya perwira-perwira dari lembaga pendidikan Polri untuk memegang wilayah, menurut Neta, Kapolri sepertinya ingin balas jasa kepada mereka yang sudah sekian lama mengabdi di lembaga pendidikan.

"Sehingga diberi kesempatan untuk memegang jabatan strategis. Strategi ini juga untuk menepis asumsi bahwa lembaga pendidikan adalah 'tempat pembuangan'. IPW memberi apresiasi kepada Kapolri yang telah melakukan mutasi besar-besaran. Para kapolda baru diharapkan bekerja profesional," pungkas Neta.


Penulis: Sandro Gatra
Editor : Hindra