Minggu, 26 Oktober 2014

News / Nasional

Peluncuran Buku

Cerita "Blusukan" ala Irjen Suhardi Alius

Selasa, 12 Maret 2013 | 12:55 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi terkenal dengan "hobi"-nya blusukan ke kantong-kantong masalah di Ibu Kota. Ternyata, dari Mabes Polri juga ada cerita blusukan. Kali ini yang punya cerita adalah Inspektur Jenderal Suhardi Alius. Jenderal bintang dua ini punya cerita blusukan sebelum menjabat Kepala Divisi Humas Polri. Menurutnya, hal itu merupakan caranya untuk mengawasi dan membina bawahannya. Dia kerap blusukan sekaligus inspeksi mendadak (sidak) ke beberapa polsek ataupun polres setiap malam untuk mengecek kinerja anggotanya.

"Tengah malam saya ke Polsek Senen. Saya ngecek ruang tahanan, ternyata lampunya mati,” kata Suhardi, saat peluncuran bukunya yang berjudul Mengubah Pelayanan Polri dari Pimpinan ke Bawahan, di Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (11/3/2013).

Ia pun menanyakan langsung kepada tahanan tersebut sejak kapan lampu mati. Tahanan itu menjawab sudah seminggu. Namun, seorang bintara yang ada saat itu menjawab bahwa lampu mati baru satu hari.

Dengan blusukan itu, ia jadi tahu bahwa lampu tahanan dibiarkan mati berhari-hari. Sementara saat menjabat Wakil Kepala Kepolisian Daerah Polda Metro Jaya, ia sempat kaget saat blusukan ke Polsek Makasar, Jakarta Timur. Dia mendapati ruang tahanan yang tidak dijaga satu orang pun. Pria berkumis ini pun menjaga ruang tahanan hingga bertemu anggotanya yang datang.

"Ternyata yang jaga sudah pulang dan yang baru belum datang. Saya menunggu di depan tahanan. Jadilah Wakapolda yang jaga sel itu sampai petugas datang," katanya sambil tertawa.

Suhardi blak-blakan menceritakan kesalahan anggotanya di lapangan. Ia juga pernah mendapati ruang tahanan Polsek Jatinegara yang dipenuhi asap rokok karena exhaust fan tidak berfungsi. Di Polsek Cempaka Putih, lanjutnya, 12 tahanan melarikan diri pada Februari 2012 lalu. Ia terkejut karena tahanan sebanyak itu dapat dengan mudah kabur dan hanya satu yang berhasil diamankan kembali saat itu. Akhirnya, ia menginterogasi langsung seorang tahanan tersebut bagaimana bisa kabur.

"Saya interogasi sendiri akhirnya. Dia bilang, bolongin atap pakai gergaji dari jam 23.00 malam sampai 03.00 pagi. Tapi kenapa enggak kedengaran. Ternyata ada suara keran bocor di situ, jadi tidak kedengaran. Dijadikan kamuflase, sedangkan yang jaga satu orang," kata pria kelahiran Jakarta, 10 Mei 1962, ini.

Saat menjabat Kapolres Jakarta Barat pada 2004, ia juga rutin mengunjungi dua polsek setiap malam. Dalam sebulan ia melakukan survei sendiri dari hasil "keluyurannya" di tengah malam. Suhardi mengaku, aksi tersebut berhasil menurunkan angka kriminalitas hingga 30 persen. Sebab, para kapolsek menjadi termotivasi dan selalu melek untuk menjaga keamanan sekitar.

Dengan blusukan, ia mengaku jadi lebih mengerti dinamika di lapangan. Menurutnya, ujung tombak pelayanan Polri ada pada para bintara yang terjun langsung di lapangan. Aktivis Usman Hamid yang menghadiri acara peluncuran buku itu menilai, gaya yang dilakukan Suhardi tak jauh beda dengan Gubernur DKI Jakarta Jokowi.

"Kalau di pemerintahan daerah ada Jokowi, kalau di Polri ada Suhardi," kata Usman.

Penyamaran

Cerita Suhardi yang tak pernah disorot media ini tak berhenti sampai di situ. Ia juga pernah nekat melakukan blusukan sambil menyamar ke Polsek Menteng. Tidak datang mengenakan seragam coklat dengan bintang dua di pundaknya, Suhardi datang mengenakan kaus, celana jeans, dan sandal jepit. Mobilnya diparkir jauh dari Polsek Menteng. Ia menyamar menjadi warga biasa yang hendak melaporkan tindak kejahatan. Penyamaran Suhardi rupanya berhasil. Ia bertemu seorang bintara yang menganggapnya sebagai warga biasa. Saat dihampiri, bintara itu dengan nada yang tidak ramah menanyakan kedatangan Suhardi.

“Adik saya kena hipnotis,” jawab Suhardi saat ditanya bintara itu.

Bintara itu lantas menyarankan Suhardi lapor ke pos polisi (pospol). Dia kesal lantaran petugas polsek itu tidak mau menerima laporannya. Ia pun meminta sang bintara mengantarnya ke pospol. Dilihatnya banyak mobil patroli yang nganggur di situ. Namun, bintara tersebut tidak mau mengantar sang jenderal yang sedang menyamar itu. Setibanya di pospol, ia bertemu bintara yang senior. Saat Suhardi datang, rupanya bintara di pospol sudah mengetahui maksud kedatangannya karena telah diberitahu bintara sebelumnya.

“Ternyata ada positifnya. Ternyata bintara tadi telepon ke pospol. Terus dia bilang, 'Saya keliling enggak ada yang hipnotis'. Ya, memang saya laporan palsu. Terus saya diantar sampai keluar,” ujarnya disambut gelak tawa yang lain.

Suhardi mencatat nama bintara di pospol. Setelah itu, pria berdarah Minang ini bertandang ke Polsek Gambir. Di Polsek Gambir, ia mendapat perlakuan yang ramah dari seorang polisi berpangkat inspektur dua (ipda). Ia dirangkul dan langsung dilayani. Ia mengatakan, adiknya dihipnotis di depan Hotel Millenium, Jakarta. Namun, ternyata Suhardi salah alamat. Ipda tersebut menjelaskan, daerah itu masuk wilayah hukum Polsek Tanah Abang. Ipda tersebut bahkan menawarkan untuk mengantar Suhardi ke Tanah Abang, tetapi Suhardi menolak.

“Saya catat lagi namanya. Ini luar biasa. Ini kualitas,” katanya.

Keesokan paginya, Suhardi langsung menghubungi Kapolres Jakarta Pusat yang saat itu dijabat Komisaris Besar Hamidin. Hamidin pun bingung mengapa Suhardi meminta seorang bintara di Pos Polisi Menteng dan ipda di Polsek Gambir ke ruangannya. Ia memberikan apresiasi terhadap dua orang itu. Sementara untuk polisi di Polsek Menteng yang setengah hati melayani masyarakat ditegurnya.

“Kita bukan nyari kesalahan, tapi memberikan motivasi kepada mereka. Nyatanya, dengan sidak di situ kelihatan pelayanan anak buah kita,” ujar bapak tiga anak ini.

Mendengarkan kisah Suhardi, pengamat komunikasi publik Effendi Gazali yang hadir saat itu mengatakan bahwa Suhardi selangkah lebih maju ketimbang Jokowi. Sebab, Suhardi sampai pernah menyamar untuk melihat situasi di lapangan yang sebenarnya.

 "Ini selangkah lebih maju dari Jokowi. Jokowi blusukan belum bisa menyamar," kata Effendi.

Pada kesempatan itu, Suhardi juga menceritakan bahwa ia tak menyangka kini menjabat Kadiv Humas Polri. Ia mengaku bukan orang yang biasa tampil di depan sorot kamera. Dalam setiap kesempatan wawancara, Suhardi selalu menyerahkannya kepada Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal (Pol) Boy Rafli Amar atau Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Komisaris Besar Agus Rianto.

Ia pun awalnya tidak mau bukunya diluncurkan secara resmi. Peluncuran buku itu atas inisiatif dari penerbit buku itu sendiri. Buku itu ditulisnya setelah mengalami sendiri pelayanan Polri kepada masyarakat yang diakuinya belum maksimal. Untuk itu, ia berharap jajaran pemimpin mulai dari kepala unit, satuan, kapolsek, kapolres, juga kapolda mampu memberi contoh kepada bawahan.


Penulis: Dian Maharani
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary