Kompas.com - 21/02/2022, 17:56 WIB

Jakarta, KOMPAS.com - Nama Ibnu Sutowo ramai diperbincangkan usai rumah cucu menantunya, artis peran Dian Sastro menyebar di media sosial. Berbagai kisah Direktur Utama (Dirut) pertama Pertamina itu pun kini jadi sorotan.

Ibnu Sutowo merupakan kakek dari Maulana Indraguna Sutowo, suami dari Dian Sastro. Ayah Maulana, pengusaha Adiguna Sutowo adalah putra bungsu Ibnu Sutowo.

Nama Ibnu Sutowo masuk dalam jajaran orang penting di era Orde Baru. Selain posisinya sebagai jenderal TNI, ia punya jabatan mentereng di kabinet Presiden Soeharto.

Berawal dari pengangkatannya sebagai Direktur PT Permina (Perusahaan Minyak Nasional) yang kemudian berubah nama menjadi Perusahaan Negara (PN) Permina pada tahun 1957, karir Ibnu Sutowo terus melejit. Permina merupakan cikal bakal Pertamina.

Setelahnya, Ibnu Sutowo diangkat sebagai Menteri Urusan Minyak dan Gas Bumi (1966), Menteri Migas (1967), hingga kemudian ditunjuk sebagai Direktur PT Pertamina (1968-1976).

Baca juga: Kisah Ibnu Sutowo Dipecat Soeharto dan Korupsi Pertamina yang Nyaris Bangkrutkan Negara

Ibnu Sutowo berhasil membangun Pertamina dari perusahaan kecil tak dikenal menjadi perusahaan minyak raksasa dan skala dunia. Dengan konsep production sharing, ia mampu membawa Pertamina menjadi perusahaan minyak besar.

Apalagi pada tahun 1973, harga minyak dunia melonjak hingga 400 persen.

Namun ia terjerat dalam skandal dugaan korupsi besar-besaran di tubuh Pertamina. Manajemen yang buruk bahkan sempat membuat Pertamina limbung di bawah kepemimpinan Ibnu Sutowo.

Belum lagi karena Ibnu Sutowo mengembangkan sejumlah proyek yang tidak berkaitan dengan inti bisnis Pertamina, termasuk pengadaan kapal tanker Samudera. Kasus tersebut sempat membuat geger.

Ibnu Sutowo bahkan terlibat skandal pemerasan dan penipuan untuk mendirikan sebuah restoran di New York, Amerika Serikat, bernama Ramayana.

Komisi Saham dan Bursa Amerika Serikat (SEC) menyatakan Ibnu memeras 54 perusahaan dan sejumlah individu di AS sebesar 1,2 juta Dolar AS atau saat itu setara Rp 456,5 juta.

Baca juga: Ibnu Sutowo dan Skandal Restoran Ramayana

Menurut laporan SEC, Ibnu 'memalak' sejumlah perusahaan asing itu dengan mengontak perwakilan mereka melalui telepon dengan 'mengancam' akan mengutak-atik konsesi daerah tambang minyak mereka di Indonesia. Alhasil, para perusahaan itu terpaksa membeli saham restoran Ramayana.

SEC menyatakan Ibnu Sutowo dan Pertamina tidak mendaftarkan saham usaha restoran itu ke lembaga mereka, yang menurut undang-undang di AS adalah hal yang wajib dilakukan. Mereka kemudian membawa perkara itu ke pengadilan federal.

Ibnu lantas dipanggil ke New York untuk menghadiri persidangan di pengadilan federal pada 2 Agustus 1977. Di depan hakim Ibnu mengakui semua tuduhan SEC.

Presiden Soeharto akhirnya mencopot Ibnu Sutowo dari jababtannya sebagai Dirut Pertamina pada 1976. Hanya saja, pria yang mengawali karirnya sebagai dokter tersebut tak pernah diadili atas dugaan korupsi hingga tutup usia.

Tetap dihormati dan dianggap pahlawan

Lepas dari karir pemerintahan, Ibnu Sutowo kemudian fokus mengembangkan bisnisnya.

Di tahun 1973, Ibnu Sutowo mendirikan produk air mineral dengan merek Aqua bersama bawahannya, Tirto Utomo.

Setelah sukses mengembangkan Aqua, pria kelahiran Grobogan 1914 itu kemudian mengelola Petronas, perusahaan minyak dan gas Malaysia.

Kesuksesan Ibnu Sutowo lewat berbagai lini bisnisnya diwariskan dan dikembangkan oleh tujuh anaknya, termasuk almarhum Adiguna Sutowo, pemilik dan pendiri MRA Group.

Baca juga: Ibnu Sutowo dan Amputasi yang Melejitkan Kariernya

Mengutip pemberitaan Harian Kompas, Senin (21/02/2022), Ibnu Sutowo meninggal dunia di umur 86 tahun di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) karena usia lanjut pada 12 Januari 2001.

Putra keduanya, Pontjo Nugro Susilo Sutowo mengatakan Ibnu Sutowo tak mengidap penyakit serius menjelang tutup usia.

Sekalipun menjadi sosok kontroversi, Ibnu Sutowo tetap mendapat penghargaan dari negara dan dianggap sebagai pahlawan.

Hal tersebut terbukti dengan dikebumikannya jenazah Ibnu Sutowo di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.

Tak sedikit petinggi yang datang melayat Ibnu Sutowo di rumah dukanya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Baca juga: Saat Ibnu Sutowo Menjadi Tahanan Rumah...

Bahkan Megawati Soekarnoputri yang saat itu menjabat sebagai wakil presiden (wapres) hadir memberikan penghormatan terakhirnya untuk Ibnu Sutowo. Ketum PDI-P tersebut datang bersama suaminya, almarhum Taufik Kiemas.

Selain itu, Prabowo Subianto yang merupakan mantan Pangkostrad ikut pula melayat Ibnu Sutowo, seniornya di TNI. Kini Prabowo menjabat sebagai Menteri Pertahanan (Menhan).

Tokoh penting lain yang datang untuk mengantar kepergian Ibnu Sutowo di antaranya Wakil Presiden Sudharmono, mantan Menteri Sekretaris Negara Moerdiono, dan mantan Wakil Panglima TNI Jenderal Fachrul Razy.

Kemudian ada juga putra Soeharto, Bambang Trihatmodjo dan Purnomo Yusgiantoro yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.

Sumber:

Harian Kompas edisi 13 Januari 2001: Ibnu Sutowo Tutup Usia

Kompas.com

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.