[POPULER NASIONAL] Mayoritas Kasus Kematian Covid-19 Non-lansia | Awal Mula Warga Wadas Tolak Bendungan Bener

Kompas.com - 10/02/2022, 05:30 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Artikel mengenai mayoritas kasus kematian Covid-19 di tengah badai varian Omicron merupakan pasien kelompok non-lansia menjadi pemberitaan yang ramai dibaca di Kompas.com pada Rabu (9/2/2022).

Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga menyebut pasien Covid-19 yang meninggal dunia banyak datang dari kelompok tanpa penyakit penyerta atau komorbid.

Selain itu, berita soal Indonesia mendatangkan tukang las dari China untuk pengerjaan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung juga banyak menarik minat pembaca.

Kemudian, informasi soal konflik antara warga di Desa Wadas, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, dengan aparat buntut penolakan Bendungan Bener ikut masuk dalam jajaran berita terpopuler.

Berikut ulasan selengkapnya:

1. Mayoritas Pasien Covid-19 yang Meninggal Dunia Non-lansia dan Tanpa Komorbid

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merilis data kumulatif pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit selama periode 21 Januari sampai 6 Februari 2022.

Berdasarkan data tersebut, dari total 36.885 orang pasien Covid-19 dirawat di rumah sakit, sebanyak 30 persen atau 11.210 pasien tanpa gejala dan 40 persen atau 14.923 pasien bergejala ringan.

Kemudian, sebanyak 15.292 orang masih menjalani perawatan, 21.237 orang sudah dinyatakan sembuh dan 356 orang meninggal dunia.

Data yang sama menunjukkan bahwa mayoritas pasien Covid-19 yang meninggal dunia merupakan kelompok non-lansia yaitu sebanyak 56 persen. Sementara persentase angka kematian pada lansia sebanyak 44 persen.

Kemenkes juga menyatakan, , pasien Covid-19 yang meninggal dunia sebagian besar belum mendapatkan vaksinasi lengkap yaitu sebanyak 69 persen dan 31 persen sudah divaksinasi.

Selanjutnya, sebagian besar pasien Covid-19 yang meninggal dunia merupakan kelompok tanpa penyakit penyerta atau komorbid sebanyak 58 persen, dan angka kematian Covid-19 dengan komorbid sebanyak 42 persen.

Selengkapnya Baca juga: Mayoritas Pasien Covid-19 yang Meninggal Dunia Non-lansia dan Tanpa Komorbid

2. Tukang Las Rel Kereta Cepat dari China, KCIC: Pengelasan Rel Kereta Cepat Menggunakan Teknologi

Corporate Secretary PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Rahadian Ratry mengungkap alasan mendatangkan tukang las rel dari China untuk bekerja di proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

Dia menjelaskan, dalam proses pengerjaan rel kereta cepat, dibutuhkan teknologi yang saat ini belum bisa dilakukan oleh tenaga kerja lokal.

Sebab, Proses pengelasannya menggunakan peralatan serta metode khusus yang harus dilakukan dengan pendampingan tenaga ahli.

Hal ini berkaitan dengan jenis bahan yang akan disambungkan untuk menjadi rel Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

"Harus dilihat secara cermat pengerjaan pengelasan yang memang bisa dilakukan oleh tenaga kerja lokal dan mana kegiatan pengelasan yang membutuhkan skill karena menggunakan teknologi yang tidak manual," jelas Rahadian kepada Kompas.com, Rabu (9/2/2022).

Selengkapnya Baca juga: Tukang Las Rel Kereta Cepat dari China, KCIC: Pengelasan Rel Kereta Cepat Menggunakan Teknologi

3. Awal Mula Warga Wadas Melawan, Tolak Tambang Batu Andesit untuk Proyek Bendungan Bener

Konflik antara aparat gabungan TNI dan Polri dengan warga di Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, menjadi sorotan.

Kuasa hukum warga Desa Wadas, Julian Dwi Prasetya mengatakan, ada sekitar 60 warga yang ditangkap aparat dalam peristiwa itu.

Konflik antara aparat dengan warga di Desa Wadas berangkat dari rencana pembangunan Bendungan Bener di Kabupaten Purworejo.

Bendungan Bener merupakan salah satu Proyek Strategis nasional (PSN) yang akan memasok sebagaian besar kebutuhan air ke Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta.

Proyek Bendungan Bener ini memerlukan pasokan batuan andesit sebagai material pembangunan. Oleh pemerintah, kebutuhan batuan ini diambil dari Desa Wadas.

Dari laman petisi terungkap, luas lahan di Desa Wadas yang akan dikeruk untuk penambangan andesit mencapai 145 hektare.

Sebagian warga pun menolak rencana penambangan tersebut. Sebab, hal itu dikhawatirkan akan merusak 28 titik sumber mata air warga desa.

Rusaknya sumber mata air akan berakibat pada kerusakan lahan pertanian dan lebih lanjut warga kehilangan mata pencaharian. Penambangan tersebut juga dikhawatirkan menyebabkan Desa Wadas semakin rawan longsor.

Selengkapnya Baca juga: Awal Mula Warga Wadas Melawan, Tolak Tambang Batu Andesit untuk Proyek Bendungan Bener

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bersiap Safari Politik, Puan Maharani Bentuk 'Tim Advance'

Bersiap Safari Politik, Puan Maharani Bentuk "Tim Advance"

Nasional
Ketua Komisi III Angkat Suara soal Mahfud yang Sebut DPR Diam soal Kasus Brigadir J

Ketua Komisi III Angkat Suara soal Mahfud yang Sebut DPR Diam soal Kasus Brigadir J

Nasional
Ramai Spekulasi Motif Ferdy Sambo, Anggota DPR: Jangan Kembangkan Narasi Apa Pun di Ruang Publik

Ramai Spekulasi Motif Ferdy Sambo, Anggota DPR: Jangan Kembangkan Narasi Apa Pun di Ruang Publik

Nasional
Tanggapi Jawaban soal 'Legal Standing', Kuasa Hukum Pelapor Suharso: KPK Gagal Paham

Tanggapi Jawaban soal "Legal Standing", Kuasa Hukum Pelapor Suharso: KPK Gagal Paham

Nasional
KPK Yakin Hakim PN Jaksel Tolak Gugatan Nizar Dahlan soal Suharso Monoarfa

KPK Yakin Hakim PN Jaksel Tolak Gugatan Nizar Dahlan soal Suharso Monoarfa

Nasional
Komnas HAM Terima 5 'Digital Video Recorder' Ter6kait Kasus Pembunuhan Brigadir J

Komnas HAM Terima 5 "Digital Video Recorder" Ter6kait Kasus Pembunuhan Brigadir J

Nasional
Peneliti UGM Sarankan KPK Buka Kembali Kasus Mega Korupsi, dari E-KTP hingga Bansos

Peneliti UGM Sarankan KPK Buka Kembali Kasus Mega Korupsi, dari E-KTP hingga Bansos

Nasional
Jokowi 4 Kali Sentil Kasus Brigadir J, Pengamat: Presiden Tahu Ada Masalah Lebih Kritis

Jokowi 4 Kali Sentil Kasus Brigadir J, Pengamat: Presiden Tahu Ada Masalah Lebih Kritis

Nasional
Benny Mamoto Ungkap Kenapa Kronologi Kasus Kematian Brigadir J Berubah

Benny Mamoto Ungkap Kenapa Kronologi Kasus Kematian Brigadir J Berubah

Nasional
Tingkatkan SDM Kelautan dan Perikanan, Kementerian KP Kembangkan Ocean Institute of Indonesia

Tingkatkan SDM Kelautan dan Perikanan, Kementerian KP Kembangkan Ocean Institute of Indonesia

Nasional
Tarif Ojol Naik, Ketua Komisi V: Jangan Hanya Untungkan Perusahaan Aplikasi

Tarif Ojol Naik, Ketua Komisi V: Jangan Hanya Untungkan Perusahaan Aplikasi

Nasional
Soal Motif Sambo Bunuh Brigadir J, Kabareskrim: Jangan Kepo, Pernyataan Pak Mahfud Lebih Bijak

Soal Motif Sambo Bunuh Brigadir J, Kabareskrim: Jangan Kepo, Pernyataan Pak Mahfud Lebih Bijak

Nasional
Irjen Ferdy Sambo Tersangka, Anggota Komisi III DPR Singgung 'Equlity Before The Law'

Irjen Ferdy Sambo Tersangka, Anggota Komisi III DPR Singgung "Equlity Before The Law"

Nasional
Sindir Mahfud, Ketua Komisi III: Dia Menteri Koordinator Bukan Komentator

Sindir Mahfud, Ketua Komisi III: Dia Menteri Koordinator Bukan Komentator

Nasional
Mahfud Sebut DPR Diam dalam Kasus Brigadir J, Pimpinan Komisi III: Kita Lagi Reses

Mahfud Sebut DPR Diam dalam Kasus Brigadir J, Pimpinan Komisi III: Kita Lagi Reses

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.