Kompas.com - 05/10/2021, 19:00 WIB
Sabam Sirait (tengah) dan istri, Sondang Sirait Sidabutar (kanan), menyambut Megawati Soekarnoputri yang menghadiri Syukuran Ulang Tahun Ke-75 Sabam Sirait di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Kamis (13/10/2011). WISNU WIDIANTORO Sabam Sirait (tengah) dan istri, Sondang Sirait Sidabutar (kanan), menyambut Megawati Soekarnoputri yang menghadiri Syukuran Ulang Tahun Ke-75 Sabam Sirait di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Kamis (13/10/2011).

TIDAK banyak politisi yang bisa berpolitik bersama 7 presiden Indonesia. Almarhum Sabam Sirait, yang meninggal dunia 29 September 2021 lalu, salah satunya.

Sabam memiliki pengalaman politik yang kaya. Ia berpolitik bersama Soekarno, Soeharto, Habibie, Megawati, Gus Dur, SBY, dan Jokowi.

Hebatnya, Sabam bukan sekedar eksis di 7 orde politik yang berbeda. Ia juga memiliki rekam jejak politik yang relatif baik.

Satu catatan penting tentang Sabam adalah soal kedekatannya dengan Megawati Soekarnoputri. Jika tak ada Sabam, barangkali kita tidak akan melihat sosok Megawati di panggung politik nasional.

Sampai dengan 1987, masyarakat tidak pernah mendengar nama Megawati.  Baca: Perjalanan Politik Megawati, dari Pengusaha Pom Bensin hingga Penguasa Medan Merdeka Utara

Cornelis Lay, dalam pengantar buku Sabam Sirait, Berpolitik bersama 7 Presiden menjelaskan mengapa Sabam Sirait bisa demikian sebagai politisi: loyal pada prinsip, lentur dalam bermanuver.

Ya, Sabam memiliki political wisdom: tak mudah patah memperjuangan prinsip sekaligus bisa berdamai dengan real politic yang membutuhkan kompromi.

Memakai bahasa kitab suci Kristiani yang menjadi keyakinan Sabam Sirait, ia menghidupi imperatif Yesus Kristus: hidup cerdik seperti ular namun tulus seperti merpati.

Kombinasi kecerdikan dan ketulusan itulah yang membuatnya berhasil mewarnai kancah politik nasional melalui keterlibatannya dalam peristiwa -peristiwa politik penting di republik ini.

Berikut 6 prinsip politik Sabam Sirait yang bisa dijadikan inspirasi untuk kehidupan politik negeri ini, yang bersumber dari narasi dalam buku Sabam Sirait: Berpolitik bersama 7 Presiden.

1. Pentingnya integritas.

Sabam Sirait menarik pelajaran penting dari kepercayaan Soekarno kepada Johannes Leimena. Om Jo- sapaan Sabam kepada Leimena- adalah satu satunya menteri yang menjabat selama 21 tahun tanpa jeda.

Ia masuk dalam 18 kabinet yang berbeda (1946-1966). Soekarno juga tujuh kali mengangkat Leimena menjadi pejabat Presiden setiap kali ia melawat ke luar negeri.

Menurut Sabam, Soekarno demikian percaya kepada Leimena karena integritas Leimena.

Panggilan Soekarno kepada Leimena adalah domine, yang berarti Pendeta. Soekarno melihat Leimena memiliki jiwa pendeta sebab selalu memikirkan kepentingan rakyat kecil dan bekerja dengan tulus.

Legacy Leimena adalah Pusat Kesehatan Masyarakat(Puskesmas). Ia membuat Puskesmas karena ingin masyarakat kecil memiliki kesehatan yang baik.

Di tengah kepercayaan publik yang rendah kepada politisi dan institusi politik, integritas dan kecintaan kepada rakyat kecil adalah kualitas yang mestinya hadir dalam diri politisi saat ini.

2. Menyuarakan kebenaran dan keadilan tanpa merendahkan

Sabam salah satu tokoh yang dianggap “lawan politik” Soeharto. Sabam mengaku kalau rasa keadilannya kerap terusik ketika melihat kekuasaan Orde Baru yang otoriter.

Ia membela petani di desa Sei Priok, Tebing Tinggi, yang tanahnya digusur demi kepentingan investor perkebunan.

Bersama aktivis ekstra parlemen seperti Arif Budiman, Sabam menentang pembangunan TMII di penghujung tahun 1971.

Menurutnya, biaya yang dibutuhkan untuk membangun TMII bisa digunakan untuk membangun puluhan ribu gedung sekolah dasar di negeri ini.

Menurut Sabam, kritik yang ia sampaikan adalah bentuk keperdulian kepada rakyat. Dan itulah makna sesungguhnya dari politik. Baginya, politik itu suci: perjuangan mewujudkan kebenaran dan keadilan untuk rakyat.

Menariknya, Sabam terus bertahan sebagai politisi di era Orde baru. Ia bahkan menjadi Dewan Pertimbangan Agung (1983-1993) yang tugasnya memperikan nasihat kepada presiden Soeharto.

Mengapa ini terjadi? Sebab kritik yang disampaikan Sabam untuk kepentingan rakyat bukan untuk menyakiti Soeharto atau kepentingan sendiri.

Dalam mengkritik, Sabam berusaha tidak merendahkan martabat orang yang dikritiknya.

Di tengah praktik politik yang merendahkan martabat lawan politik dan mengesampingkan kesantunan, kecerdikan dan kesantunan Sabam dalam mengritik perlu ditiru oleh para politisi.

3. Sabar dalam memperjuangkan prinsip

Sabam kerap merasa kesepian karena perasaan politik yang ia rasakan. Beberapa kali aspirasi politiknya tidak mendapat tempat yang wajar.

Ia juga berkali-kali menangis karena kekuasaan dapat dengan mudah membungkam suara kritis yang berbeda.

Beberapa orang menyebut suara kritis Sabam di masa Orde baru adalah kesia-siaan. Namun, ia terus gigih berjuang sampai akhirnya Soeharto lengser di tahun 1998.

Resiliensi dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan dalam politik sangat diperlukan di tengah-tengah pragmatisme dan kompromi politik yang didemonstrasikan secara telanjang oleh sebagian besar politisi.

Saat ini sulit menemukan politisi yang berjuang karena prinsip sebab sebagian besar terkesan berjuang hanya demi kekuasaaan.

4. Berbeda pandangan politik namun bersahabat

Sabam secara terbuka mengungkapkan ketidaksetujuannya kepada Gus Dur terkait sikap politik Gus Dur yang bersedia dicalonkan menjadi Presiden RI dalam Sidang Umum MPR 1999.

Mestinya, saat itu yang lebih berhak menjadi calon Presiden adalah Megawati sebab PDI P menjadi pemenang Pemilu.

Meski Gus Dur tetap maju dan terpilih menjadi Presiden menggantikan Habibie, Sabam tetap bersahabat dengan Gus Dur.

Baca juga: Sinta Wahid Kenang Persahabatan Gus Dur dan Sabam Sirait

 

Mereka berdua bahkan saling berjanji akan saling mengantarkan jenazah salah satu dari mereka yang meninggal lebih dulu.

Persahabatan Sabam dengan Gus Dur menunjukkan bahwa pemeo “tidak ada kawan dan lawan abadi dalam politik yang ada kepentingan abadi” tidak selamanya benar.

5. Kemanusiaan di atas sekat primordial

Sabam adalah politisi Kristen yang terang-terangan menentang agresi Israel di Palestina. Ia beberapa kali ikut demonstrasi bersama salah satu partai Islam dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

Sabam secara terang-terangan menyebut agresi Israel sebagai praktik kolonialisme. Ia tidak ragu kehilangan dukungan dari orang Kristen yang sebagian (besar?) lebih berpihak kepada Israel.

Bagi Sabam, kolonialisme itu adalah musuh kemanusiaan, bukan hanya musuh umat Islam.

Sikap politiknya ini seakan menegaskan apa yang pernah Gus Dur sampaikan: yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.

6. Semangat belajar dan memperluas wawasan

Menurut Sabam, politisi wajib terus belajar dan memperluas wawasan. Membaca adalah keharusan agar politisi tidak asal bicara.

Nampaknya, prinsip ini bertolak dari pengalaman Sabam yang mendapatkan banyak hal berharga dari kebiasaan membaca.

Sejak masih duduk di bangku sekolah Dasar, Sabam hobi membaca, entah itu surat kabar atau buku-buku di perpustakaan.

Sabam bukan hanya belajar dari buku. Ia juga belajar dari praktik politik, termasuk dari tokoh politik. Ia mengaku belajar banyak dari Soekarno.

Meski pun hanya bertemu dua kali dengan Soekarno, tetapi Sabam merasa roh, inspirasi dan pemikiran Bung karno masih hidup dan layak dipraktikkan dalam kehidupan politik.

Semangat belajar dan wawasan yang luas mestinya menjadi kualitas yang hadir dalam diri para politisi.

Negeri ini membutuhkan politisi cerdas dan berwawasan luas bukan politisi yang hanya mengandalkan uang dan popularitas dalam menarik simpati rakyat dalam pemilu.

Sabam Sirait, pendiri PDI Perjuangan yang mendapat penghargaan bintang Mahaputera Utama itu telah tiada secara jasmani. Baca juga: Upacara Militer Iringi Prosesi Pemakaman Sabam Sirait di TMP Kalibata

Kepergiannya, mengutip Nelson Mandela- is something inevitable. When a man has done what he considers to be his duty to his people and his country, he can rest in peace.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Anggota Komisi II: Fit and Proper Test Calon Anggota KPU-Bawaslu 7-9 Februari 2022

Anggota Komisi II: Fit and Proper Test Calon Anggota KPU-Bawaslu 7-9 Februari 2022

Nasional
Pekan Depan, Kejagung Periksa Purnawirawan TNI Terkait Kasus Satelit Kemenhan

Pekan Depan, Kejagung Periksa Purnawirawan TNI Terkait Kasus Satelit Kemenhan

Nasional
DPR, KPU, dan Bawaslu Disebut Akan Bahas Aturan Kampanye Pemilu di Ruang Digital

DPR, KPU, dan Bawaslu Disebut Akan Bahas Aturan Kampanye Pemilu di Ruang Digital

Nasional
Mahfud Sebut TNI di Papua Kini Bersifat Defensif, Bukan Ofensif

Mahfud Sebut TNI di Papua Kini Bersifat Defensif, Bukan Ofensif

Nasional
Mahfud Tegaskan Tak Ada Unsur SARA pada Bentrokan di Pulau Haruku

Mahfud Tegaskan Tak Ada Unsur SARA pada Bentrokan di Pulau Haruku

Nasional
18 Pegawai KPK yang Terpapar Covid-19 Jalani Isolasi Mandiri

18 Pegawai KPK yang Terpapar Covid-19 Jalani Isolasi Mandiri

Nasional
Soal Korupsi di Bawah Rp 50 Juta Cukup Kembalikan Kerugian Negara, Kejagung: Bukan Impunitas dan Masih Wacana

Soal Korupsi di Bawah Rp 50 Juta Cukup Kembalikan Kerugian Negara, Kejagung: Bukan Impunitas dan Masih Wacana

Nasional
18 Pegawai Terpapar Covid-19, KPK Atur Proporsi Kerja

18 Pegawai Terpapar Covid-19, KPK Atur Proporsi Kerja

Nasional
Kritik Wacana Jaksa Agung soal Korupsi di Bawah Rp 50 Juta, ICW: Menambah Semangat Para Pelaku

Kritik Wacana Jaksa Agung soal Korupsi di Bawah Rp 50 Juta, ICW: Menambah Semangat Para Pelaku

Nasional
Perjalanan Rahasia Soeharto: Menginap Rumah Warga hingga Bekal Beras dan Tempe

Perjalanan Rahasia Soeharto: Menginap Rumah Warga hingga Bekal Beras dan Tempe

Nasional
KPK Umumkan 18 Pegawai Positif Covid-19

KPK Umumkan 18 Pegawai Positif Covid-19

Nasional
Mengenal Weighted Vest, 'Rompi Militer' yang Dipakai AHY Berolahraga

Mengenal Weighted Vest, "Rompi Militer" yang Dipakai AHY Berolahraga

Nasional
Jokowi Ajak Pasien Covid-19 Bergejala Ringan Manfaatkan Telemedisin

Jokowi Ajak Pasien Covid-19 Bergejala Ringan Manfaatkan Telemedisin

Nasional
Kisah Cinta Soeharto-Ibu Tien, Perjodohan, dan Kesedihan di TMII

Kisah Cinta Soeharto-Ibu Tien, Perjodohan, dan Kesedihan di TMII

Nasional
ICW Pertanyakan Dasar Hukum Jaksa Agung Terkait Rencana Penindakan Koruptor di Bawah Rp 50 Juta

ICW Pertanyakan Dasar Hukum Jaksa Agung Terkait Rencana Penindakan Koruptor di Bawah Rp 50 Juta

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.