Untar untuk Indonesia
Akademisi

Platform akademisi Universitas Tarumanagara guna menyebarluaskan atau diseminasi hasil riset terkini kepada khalayak luas untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

Seberapa Rela Kita Tidak Mudik demi Memutus Pandemi?

Kompas.com - 12/05/2021, 14:47 WIB
Pemudik menggunakan sepeda motor terjebak kemacetan saat melintasi posko penyekatan mudik di Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (10/5/2021). Petugas gabungan memutar balikan ribuan pemudik yang melintasi pos penyekatan perbatasan Bekasi -Karawang, Jawa Barat. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/pras. WAHYU PUTRO APemudik menggunakan sepeda motor terjebak kemacetan saat melintasi posko penyekatan mudik di Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (10/5/2021). Petugas gabungan memutar balikan ribuan pemudik yang melintasi pos penyekatan perbatasan Bekasi -Karawang, Jawa Barat. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/pras.

Kredibilitas dan kepercayaan adalah prasyarat dalam mengkomunikasikan risiko agar berfungsi untuk meningkatkan pemahaman terhadap risiko, perubahan sikap, mendapatkan legitimasi, pengurangan risiko, perubahan perilaku, kesiapsiagaan darurat, juga partisipasi dan keterlibatan publik (Renn & Levine, 1991). Bukan karena menganggap publik tidak memiliki pengetahuan terkait pandemi namun karena banyaknya kesimpangsiuran informasi yang beredar.

Berita palsu dan informasi yang salah (fake news and misinformation) tentang Covid-19 masih tetap beredar melalui berbagai media terutama media sosial hendaknya terus dibantah terutama bagi orang awam, dan perlu didukung oleh influencer kredibel lokal untuk membangun kepercayaan.

Perang terhadap teori konspirasi terutama pada masa pandemi merupakan tantangan besar dan membutuhkan upaya serius terutama bagi kepemimpinan yang efektif yang dapat dipadukan dengan upaya mempersuasi individu dan kelompok untuk menghindari perilaku yang dianggap tidak bertanggung jawab secara sosial.

Reaktansi psikologis sebagai alasan memutuskan untuk mudik sebagaimana dijelaskan sebelumnya, tergantung pada bagaimana larangan dikomunikasikan kepada publik.

Pilihan bahasa yang lebih persuasif sangat mungkin tidak memicu reaktansi. Karenanya, perpaduan antara ketegasan dan persuasi sebaiknya menjadi pilihan dalam mendorong kepatuhan publik terhadap larangan.

Demikian pula, dalam situasi polarisasi politik yang menyebabkan mispersepsi terhadap larangan mudik, diperlukan komunikasi dan informasi lintas partisan.

Penekanan bahwa pandemi ini menyebabkan risiko dan nasib yang sama maka diperlukan tekad yang sama dalam tindakan mengurangi penyebaran Covid-19.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pemahaman tentang Covid-19 dan cara efektif untuk mengurangi penularan sudah berkembang.

Tinggal perubahan dalam perilaku publik, yang sesuai dengan kepentingan terbaik kita masing-masing, yang diharapkan terlepas dari berbagai perbedaan yang ada termasuk perbedaan ideologi dan pilihan politik.

3. Mudik virtual yang menyenangkan

Dengan tidak mudik, berkumpul dengan pertemuan langsung memang menjadi hilang namun peluang interaksi bukan berarti tidak ada. Mudik virtual menjadi pilihan yang dapat dibuat menarik.

Misalnya, dengan merancang kumpul keluarga (family gathering) berisikan permainan-permainan interaktif yang dimediasi oleh teknologi semisal ponsel, komputer jinjing dan sebagainya untuk membuat suasana menjadi menyenangkan.

Namun, rancangan ini akan lebih berhasil jika setiap orang sudah terlebih dahulu menurunkan ekspektasi dan menyesuaikannya dengan keterbatasan dan situasi yang ada.

Mengacu pada pernyataan Roddy dan Muehlbauer (2020) pada kutipan di atas, bagi kita, utamanya di Indonesia, yang dibutuhkan saat ini bukan meniadakan kepentingan diri (self-interest), bukan juga dengan menghambat nya tapi justru meyakinkan setiap orang terutama diri sendiri bahwa melindungi keluarga, kerabat dan masyarakat pada gilirannya akan menguntungkan diri sendiri.

Mudik memang bagian dari kepentingan diri karena memenuhi keinginan antara lain bertemu dengan orangtua, berkumpul dengan keluarga dan kerabat/sanak saudara sekali pun harus mengabaikan himbauan dan larangan, melawan aturan dan peraturan, bahkan mungkin saja dengan menyebabkan kerugian besar atau ongkos sosial yang tinggi, termasuk dengan melakukan sabotase.

Namun, mengacu pada teori reaktansi psikologis, dengan ingin kembali meraih kebebasan karena sudah lama merasa tak berdaya, lelah secara mental, dan kebosanan luar biasa lalu hendak menegaskan kebebasan di atas kepentingan diri untuk berkumpul dengan keluarga, kerabat dan sanak saudara namun dengan risiko yang menyebabkan keterpaparan (exposed) diri sendiri, keluarga, dan masyarakat pada risiko merupakan suatu ironi dan tragedi.

Karenanya, jika meyakinkan seseorang untuk tidak mudik dengan alasan perlu menjaga orangtua, keluarga, kerabat dari terpapar Covid-19 juga penting sebagai tanggung jawab sosial masih sangat sulit maka, sekurang-kurangnya, perlu didorong kesadaran bahwa kepedulian kepada diri sendiri agar tidak tertular sebagai sesuatu yang sangat penting dan terpenting saat ini juga merupakan kepentingan diri.

Dalam hal ini, kepentingan diri (individual) selaras dengan kepentingan kolektif. Lebih jauh, perlu penegasan bahwa tidak mudik, sebagaimana juga kepatuhan kepada protokol kesehatan masa pandemi, sebagai tindakan yang bernilai moral, sesuatu yang benar yang tidak bergantung pada hukum dan sanksi formal bahkan dipandang sebagai perilaku pro-sosial dan altruistik yang patut mendapatkan perhormatan.

Keselarasan kepentingan diri dengan kepentingan bersama toh sudah kita jalankan melalui kepatuhan pada protokol kesehatan.

Penggunaan masker, tidak bersalaman, dan menjaga jarak fisik termasuk dalam rumah tangga yang awalnya terkesan sebagai bentuk egoisme, wujud kepentingan diri, justru dimaksudkan untuk melindungi orang banyak dari potensi tertular.

Secara khusus bagi masyarakat kita yang menganut nilai kolektivistik tinggi, memotivasi orang untuk mematuhi batasan perlu keselarasan antara persepsi ancaman pribadi yang berhubungan dengan niat untuk perlindungan diri pribadi dengan sifat kolektif situasi yakni menekankan risiko yang mungkin dialami orang lain yang rentan (Liekefett & Becker, 2021).

Dengan begitu, semoga semakin banyak orang yang mematuhi larangan bahkan partisipatif untuk mengampanyekan dan membujuk banyak orang agar juga patuh terhadap larangan terlepas dari kesulitan menjalankannya karena godaan untuk memenuhi keinginan.

Dibutuhkan kerelaan setiap orang untuk berpartisipasi dalam memutus rantai penyebaran, sekurang-kurangnya mengurangi risiko penyebaran Covid-19.

Tidak hanya dengan mematuhi semua protokol kesehatan, dan menjalani vaksin, tapi juga dengan menjadikan tidak mudik sebagai bagian dari kepentingan diri agar bisa keluar dari pandemi yang sudah dirasakan melelahkan ini.

Bonar Hutapea
Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara

 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Polri Tindak Pinjol, Puan: Jangan Terhenti di Operator, Harus sampai Bosnya

Polri Tindak Pinjol, Puan: Jangan Terhenti di Operator, Harus sampai Bosnya

Nasional
Ini Syaratnya Mendaftar Jadi Bakal Calon Anggota KPU-Bawaslu 2022-2027

Ini Syaratnya Mendaftar Jadi Bakal Calon Anggota KPU-Bawaslu 2022-2027

Nasional
Pemerintah Diminta Prioritaskan Pembukaan Lapangan Kerja demi Menjauhkan Warga dari Pinjol Ilegal

Pemerintah Diminta Prioritaskan Pembukaan Lapangan Kerja demi Menjauhkan Warga dari Pinjol Ilegal

Nasional
Wapres Imbau Umat Islam yang Mampu untuk Lakukan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui LAZ

Wapres Imbau Umat Islam yang Mampu untuk Lakukan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui LAZ

Nasional
Waketum Golkar Ajak Mantan Kader yang Belum Beruntung Bikin Partai Baru untuk Bergabung Lagi

Waketum Golkar Ajak Mantan Kader yang Belum Beruntung Bikin Partai Baru untuk Bergabung Lagi

Nasional
Golkar Terbuka Berkoalisi dengan Partai Mana Pun, Termasuk Pecahan Partai Golkar

Golkar Terbuka Berkoalisi dengan Partai Mana Pun, Termasuk Pecahan Partai Golkar

Nasional
Jokowi: BUMN Terlalu Sering Kita Proteksi, Enak Sekali

Jokowi: BUMN Terlalu Sering Kita Proteksi, Enak Sekali

Nasional
Wapres Sebut Laznas Yatim Mandiri Telah Salurkan Bantuan Pendidikan untuk 1.000 Anak Yatim Terdampak Pandemi

Wapres Sebut Laznas Yatim Mandiri Telah Salurkan Bantuan Pendidikan untuk 1.000 Anak Yatim Terdampak Pandemi

Nasional
Akbar Tanjung: Kalau 2004 Golkar Pernah Jadi Pemenang, Insya Allah 20 Tahun Kemudian Juga Bisa

Akbar Tanjung: Kalau 2004 Golkar Pernah Jadi Pemenang, Insya Allah 20 Tahun Kemudian Juga Bisa

Nasional
Minta BUMN yang Tak Berkembang Ditutup, Jokowi: Tidak Ada 'Selamet-selametin'

Minta BUMN yang Tak Berkembang Ditutup, Jokowi: Tidak Ada "Selamet-selametin"

Nasional
Jokowi: Kadang Saya Malu, BUMN Sudah 'Dibukain' Pintu tetapi Enggak Ada Respons

Jokowi: Kadang Saya Malu, BUMN Sudah "Dibukain" Pintu tetapi Enggak Ada Respons

Nasional
Wapres Sebut Jumlah Anak Yatim Piatu Mencapai 28.000 Per September 2021

Wapres Sebut Jumlah Anak Yatim Piatu Mencapai 28.000 Per September 2021

Nasional
Enam Orang yang Terjaring OTT Tiba di Gedung Merah Putih KPK

Enam Orang yang Terjaring OTT Tiba di Gedung Merah Putih KPK

Nasional
Jokowi Tekankan soal Transformasi Bisnis dan Adaptasi Teknologi di BUMN

Jokowi Tekankan soal Transformasi Bisnis dan Adaptasi Teknologi di BUMN

Nasional
Anggota DPR Nilai Cara Penagihan Pinjol dengan Teror dan Intimidasi Patut Diberangus

Anggota DPR Nilai Cara Penagihan Pinjol dengan Teror dan Intimidasi Patut Diberangus

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.