BNPB: Bencana Hidrometeorologi Masih Terjadi di Akhir Juni 2020

Kompas.com - 29/06/2020, 07:48 WIB
Warga menyelamatkan ayam ternak di area rumahnya yang terendam banjir di Desa Hagu, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara, Aceh, Selasa (16/6/2020).  Banjir yang disebabkan luapan sungai akibat tingginya intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir menyebabkan ratusan rumah warga, sekolah, dan lahan pertanian di Kecamatan Lhoksukon dan Matangkuli terendam banjir. ANTARA FOTO/Rahmad/hp. ANTARA FOTO/RAHMADWarga menyelamatkan ayam ternak di area rumahnya yang terendam banjir di Desa Hagu, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara, Aceh, Selasa (16/6/2020). Banjir yang disebabkan luapan sungai akibat tingginya intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir menyebabkan ratusan rumah warga, sekolah, dan lahan pertanian di Kecamatan Lhoksukon dan Matangkuli terendam banjir. ANTARA FOTO/Rahmad/hp.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB), Raditya Jati menyebut bencana hidrometeorologi masih terjadi jelang akhir Juni 2020.

Menurut Raditya, Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) BNPB mencatat kejadian banjir dan longsor di beberapa wilayah Indonesia seperti Kalimantan, Sulawesi dan Maluku Utara.

"Kemudian, berdasarkan analisis dasarian ketiga Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), beberapa wilayah masih berpotensi hujan dengan curah hujan menengah hingga tinggi," ujar Raditya sebagaimana dikutip dari siaran pers BNPB, Minggu (28/6/2020).

Beberapa wilayah tersebut yakni Pulau Sulawesi, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat.

Baca juga: Banjir di 5 Kabupaten di Bengkulu, Air Masuk Rumah dan Mobil Ikut Ambles

Bahkan hingga awal Juli 2020, keempat wilayah tadi masih berpotensi hujan dengan intensitas menengah.

Sementara itu, Pusdalops juga mendapatkan laporan kejadian banjir di wilayah Sulawesi pada Sabtu lalu (27/6/2020), seperti di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Provinsi Sulawesi Selatan, Kabupaten Kepulauan Taliabu, Maluku Utara, Kabupaten Boalemo dan Pohuwanto, Gorontalo dan Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah.

Ribuan warga terdampak banjir di wilayah-wilayah tersebut, seperti di Lamandau 723 keluarga, Taliabu 700 keluarga, Bolaang Mongondow Selatan 220 keluarga, Boalemo 125 keluarga dan Pohuwanto 40 keluarga.

Raditya melanjutkan, berdasarkan analisis aplikasi pengkaji potensi banjir, InaRISK, Indonesia memiliki potensi risiko sedang hingga tinggi untuk bahaya banjir.

"Diperkirakan, ada 100 juta penduduk di 34 provinsi yang terpapar bahaya banjir. Adapun luas wilayah yang memiliki potensi terdampak banjir kurang lebih 20 juta hektar," tutur Raditya.

Senentara itu, untuk bahaya longsor, ada 14 juta penduduk yang berada di 33 provinsi yang berpotensi terpapar.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X