Menempatkan Anak Muda dalam Partai Politik

Kompas.com - 23/01/2020, 11:29 WIB
Anak muda dan politik KOMPAS/DIDIE SWAnak muda dan politik

Secara keseluruhan, pengawakan dan regenerasi kepemimpinan parpol kepada generasi muda bisa menjadi strategi kunci dalam konstelasi politik masa depan.

Baca juga: Jokowi ke Stafsus Milenial: Kamu Genuine, Tak Ada Conflict of Interest

Anak muda bisa menjadi aset bagi parpol bukan hanya untuk menjaga soliditas dalam demokrasi saat ini melainkan juga untuk memenangkan kontestasi di masa depan.

Sejumlah potensi

Kembali ke konteks hari ini, melihat sebagian besar parpol papan atas memilih melanjutkan status quo kepemimpinan senior, yang seharusnya mengambil momentum untuk menjadikan generasi muda sebagai aset kunci adalah parpol-parpol yang saat ini belum menentukan struktur kepartaian baru; utamanya parpol yang memiliki tokoh-tokoh muda yang bersinar.

Setidaknya ada PAN dengan Bima Arya dan Hanafi Rais, ada Gerindra dengan Sandiaga Uno, serta Partai Demokrat dengan Agus Harimurti Yudhoyono.

Partai-partai ini bisa mengimplementasikan strategi pengawakan anak muda dan regenerasi kepemimpinan secara maksimal, sebagai bekal menghadapi kompetisi politik di depan.

Sebagai contoh, Hanafi Rais dan Bima Arya dari PAN. Melihat kiprah politik mereka di legislatif dan eksekutif, Hanafi dan Bima bisa menjadi pilihan regenerasi kepemimpinan PAN. Jika mereka bisa menghindari cekcok kompetisi meraih kursi ketua umum, kolaborasi keduanya bisa membawa wajah baru yang transformatif bagi PAN.

Baca juga: Formasi DPP Golkar ala Airlangga: Unsur Milenial, 11 Waketum, hingga Tanpa JK

Begitu juga dengan Sandiaga Uno di Gerindra. Meski loyalitas dan perannya dalam organisasi Gerinda masih harus dipertanyakan, potensi gagasan dan pemikirannya perlu dijadikan aset bagi Gerindra.

Jika Sandi selama ini menjadi “wajah milenial” Gerindra, Gerindra ke depan seharusnya juga menggunakan Sandi dan segala potensinya untuk berperan dalam langkah-langkah strategis pembangunan organisasi Gerindra.

Terakhir, yang cukup berbeda juga ada Agus Harimurti Yudhoyono di Demokrat. Pasca-Pilkada 2017, AHY tidak lagi menjadikan Partai Demokrat sebagai alat untuk mengusungnya pada peran-peran formal politik tertentu.

AHY justru fokus memfungsikan dirinya mengurus dan mengkonsolidasikan partai. Ia bahkan menjadi penanggung jawab pemenangan Pemilu Legislatif 2019 bagi Partai Demokrat.

Dengan dedikasinya selama terjun ke dunia politik serta potensi yang ia miliki, AHY merupakan aset Partai Demokrat yang jarang ditemukan di parpol lainnya. Jika Demokrat bisa melihat momentum ini, AHY seharusnya bisa menjadi figur sentral regenerasi kepemimpinan Demokrat ke depan.

Baca juga: Tantangan Indonesia 5 Tahun ke Depan di Mata Staf Khusus Milenial

Namun, di balik semua itu, proses menempatkan anak muda dalam partai politik memang tidak semudah membalik telapak tangan. Ini bukan hanya masalah mencari momentum dan strategi melainkan juga kalkulasi dan pengendalian emosi.

Ini juga soal kebesaran hati dan kedewasaan pemikiran para politisi senior untuk mengetahui momentum bagi dirinya sendiri. Yaitu, memutuskan kapan harus lanjut berjuang atau berhenti dan mendorong dari belakang; sebagai usaha untuk menjawab tantangan zaman.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X