Dinilai Seksi, Kursi Ketua MPR Jadi Kunci Berlaga pada Pilpres 2024

Kompas.com - 30/07/2019, 16:05 WIB
Direktur Pusat Kajian Pancasila dan Konstitusi Universitas Jember Bayu Dwi Anggoro berbicara dalam sebuah diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (30/7/2019). KOMPAS.com/Ardito Ramadhan DDirektur Pusat Kajian Pancasila dan Konstitusi Universitas Jember Bayu Dwi Anggoro berbicara dalam sebuah diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (30/7/2019).
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Jabatan ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat dinilai sebagai jabatan strategis yang dapat menjadi pintu masuk bagi elite partai-partai politik yang mengincar kursi presiden dan wakil presiden pada Pemilu 2024 mendatang.

Direktur Pusat Kajian Pancasila dan Konstitusi Universitas Jember Bayu Dwi Anggoro menyatakan, jabatan ketua MPR merupakan jabatan yang memungkinkan elite partai politik berada dalam posisi sejajar dengan presiden.

"Ketua umum partai politik atau elite-elite partai politik pasti akan merasa lebih nyaman menjadi ketua MPR karena dia setiap saat akan berinteraksi langsung dengan presiden dan posisinya seperti equal," kata Bayu dalam sebuah diskusi di Cikini, Selasa (30/7/2019).

Baca juga: Riza Patria: Jika Diberi Kursi Ketua MPR, Gerindra Anggap Itu Kehormatan


Bayu menyampaikan, posisi ketua MPR itu lebih "seksi" dibanding menteri. Sebab, posisi sebagai menteri yang merupakan pembantu presiden menunjukkan elite partai politik berada di bawah presiden.

Ia juga menyampaikab, posisi sebagai ketua MPR membuat elite partai politik mendapat sorotan media yang lebih besar.

Apalagi, bila wacana amandemen UUD 1945 benar terlaksana pada MPR periode mendatang karena ketua MPR pasti akan memimpin sidang tersebut.

"Jangan lupa, citra itu memimpin sidang perubahan undang-undang dasar dan seluruh partai politik akan melobi ketua MPR untuk kepentingannya bisa masuk dalam perubahan undang-undang dasar itu adalah citra yang sangat bagus untuk kepentingan elektoral 2024," ujar Bayu.

Koordinator Divisi Sosial Politik Indonesia Corruptor Watch Donal Fariz mengamini pernyataan Bayu.

Menurut dia, jabatan ketua MPR tak ubahnya jalan tol bagi elite politik untuk menjadi presiden atau wakil presiden mendatang.

Namun, Donal menambahkan, kewenangan MPR melakukan amandemen juga menjadi salah satu daya tarik yang membuat kursi ketua MPR menjadi seksi.

"Posisi ini menjadi sangat strategis karena akan mempengaruhi konstelasi politik ke depannya, menjadi kira-kira salah satu remote untuk mengatur ke mana arah politik akan bergerak," ujar Donal.

Baca juga: Soal Calon Ketua MPR, Cak Imin: Sudah Saling Tahu, Tinggal Cocok-cocokan

Menurut Donal dan Bayu, faktor-faktor itulah yang membuat perebutan ketua MPR periode 2019-2024 terasa lebih ketat bila dibandingkan pada periode sebelumnya.

Seperti diketahui, kursi ketua MPR diperebutkan oleh sejumlah partai politik di Senayan. Partai-partai yang telah menyatakan tertarik mengisi kursi ketua MPR antata lain Partai Gerindra, Golkar, dan Partai Kebangkitan Bangsa.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X