Strategi Prabowo Atasi Krisis Energi, Kurangi Ketergantungan hingga Konversi Energi

Kompas.com - 09/02/2019, 12:06 WIB
Anggota Tim Ekonomi, Penelitian dan Pengembangan BPN, Harryadin Mahardika, saat ditemui di Media Center Prabowo-Sandi, Jakarta Selatan, Jumat (11/1/2019). KOMPAS.com/Devina Halim Anggota Tim Ekonomi, Penelitian dan Pengembangan BPN, Harryadin Mahardika, saat ditemui di Media Center Prabowo-Sandi, Jakarta Selatan, Jumat (11/1/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Harryadin Mahardika mengungkap strategi pasangan capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam mengatasi persoalan krisis energi.

Harryadin mengatakan, pasangan Prabowo-Sandiaga menyiapkan strategi dorongan besar terkait masalah itu.

Dalam rencana jangka pendeknya, Prabowo akan menginstruksikan untuk mengurangi ketergantungan pada bensin, solar, dan batu bara.

Baca juga: Di Depan Ibu-ibu, Prabowo Janji Turunkan Harga Daging dan Telur dalam 100 Hari Pertama

"Pak Prabowo punya beberapa pemikiran, dalam jangka pendek yang akan beliau instruksikan adalah harus segera kurangi ketergantungan kepada bensin dan solar dan batu bara. Mungkin kita tidak defisit, tapi kita pikirkan tentang dampak lingkungannya," ujar Harryadin dalam sebuah diskusi di media center Prabowo-Sandiaga, Jalan Sriwijaya I, Jakarta Selatan, Jumat (8/2/2019).

Harryadin mengatakan, salah satu konsumen terbesar dari bahan bakar minyak adalah kendaraan bermotor.

Untuk mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi fosil, Prabowo akan memberikan insentif bagi kendaraan yang menggunakan bahan bakar alternatif serta melakukan konversi bahan bakar untuk kendaraan bermotor.

"Di era SBY pernah ada wacana konversi energi untuk kendaraan bermotor. Namun saat itu belum sepakat siapa yang akan membangun converter. Langkah ini adalah satu cara yang bisa lebih cepat sehingga subsidi bisa diarahkan, bukan hanya untuk subsidi harga, tapi untuk converter," kata Harryadin.

Sementara itu, untuk solusi jangka panjang, Prabowo akan membangun industri biofuel.

Menurut Harryadin, konsep industri biofuel ala Prabowo bertumpu pada visi menjadikan Indonesia sebagai negara penghasil bioetanol terbesar di dunia.

Sebagai negeri agraris, Indonesia dinilai memiliki modal utama untuk mewujudkan industri tersebut.

Baca juga: Prabowo Sebut Anggaran Bocor, Ini Kata Ketum Golkar

"Kita punya lahan. Menurut data, ada 10 juta hektare lahan tidak produktif. Prabowo menargetkan 2 juta hektare dikonversi ke bioetanol estate dengan skema public private people partnership. Jadi rakyat atau petani, pengusaha dan negara terlibat dalam industri ini," tutur dia.

"Inilah yang akan menjadi satu dorongan besar untuk energi. Petani akan mendapat kepastian lahan, sudah ada pembelinya yaitu pabrik, pemerintah juga mendapat bagian dari itu," ujar Harryadin.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X