Rupiah Menguat, Sandiaga Apresiasi Pemerintah

Kompas.com - 01/02/2019, 10:31 WIB
Calon Wakil Presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno (tengah) memberikan motivasi kepada peserta Dialog Sandiaga Uno dengan Pengusaha, Pedagang, Pelaku UMKM, dan Mahasiswa di Jambi, Jumat (25/1/2019). Dialog tersebut juga sekaligus mengumpulkan aspirasi dan harapan pelaku usaha dan mahasiswa di Provinsi Jambi. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/aww. Wahdi SeptiawanCalon Wakil Presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno (tengah) memberikan motivasi kepada peserta Dialog Sandiaga Uno dengan Pengusaha, Pedagang, Pelaku UMKM, dan Mahasiswa di Jambi, Jumat (25/1/2019). Dialog tersebut juga sekaligus mengumpulkan aspirasi dan harapan pelaku usaha dan mahasiswa di Provinsi Jambi. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/aww.

JAKARTA, KOMPAS.com - Calon Wakil Presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno mengapresiasi penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

Menurut dia, kinerja pemerintah tetap patut diapresiasi ihwal penguatan rupiah meskipum bisa jadi hal tersebut dipengaruhi faktor eksternal.

"Itu tentunya rupiah naik turun itu kemarin kita lihat eksternal. Keadaan eksternal tentunya apakah ini karena eksternal atau karena modal masuk tentunya rupiah menguat harus kita apresiasi," kata Sandiaga di Media Center Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kebayoran Baru, Jakarta, Kamis (31/1/2019).

Baca juga: Tunggu Data Inflasi, Penguatan Rupiah Diprediksi Terus Berlanjut

Namun, ia mengingatkan pemerintah agar tak terlena dengan penguatan rupiah. Ia meminta pemerintah terus menjaga tren positif tersebut.

Sebab jika tidak, maka hal tersebut akan mengganggu industri dan pengusaha yang mengimpor bahan bakunya dari luar negeri.

Ia berharap ke depannya rupiah bisa terus menguat dan jauh lebih stabil sehingga membawa kepastian bagi dunia usaha.

Baca juga: Jokowi: Anak Muda Jangan Banyak Mengeluh, Jangan Pesimis

"Jangan sampai stabilitas melorot lagi ke angka Rp 14.000 lebih. Ini yang memberatkan untuk UKM karena kalau UKM itu sudah order (bahan baku) harga dengan Rp 14.500 tiba-tiba (dollar) menguat dia akhirnya tidak bisa melakukan pricing ke harga-harga pokoknya," ujar dia.

"Kita tentunya syukuri kalau rupiah kita menguat dan pastikan ke depan akan lebih jauh stabil," lanjut Sandiaga.

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS berhasil menguat di awal perdagangan Senin (28/1/2019). Mengutip Bloomberg, di pasar spot rupiah menguat ke posisi Rp 14.032 per dollar AS atau naik 0,39 persen dari posisi akhir pekan lalu.

Baca juga: Didoakan Said Aqil Menang Pilpres, Ini Respons Jokowi

Nilai tukar rupiah diprediksi terus melanjutkan penguatan. Ini sejalan dengan pergerakan Mata Uang Garuda yang meninggalkan level Rp 14.000 per dollar AS.

Pada Kamis (31/1/2019) kemarin, nilai tukar rupiah menyentuh level tertinggi dalam 7 bulan. Hal ini disebabkan pelemahan nilai tukar dollar AS setelah bank sentral Federal Reserve yang memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan Fed Fund Rate.

Adapun berdasarkan data spot Bloomberg, Jumat (1/2/2019), pukul 09.52, rupiah bertengger pada level Rp 13.790 per dollar AS. Rupiah dibuka pada level Rp 13.945 per dollar AS. 

Pada penutupan perdagangan kemarin, rupiah berada pada level Rp 13.792 per dollar AS. Pergerakan rupiah berada pada kisaran Rp 13.945-13.895 per dollar AS.

Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Fraksi PKS Isyaratkan Setuju Wacana Amendemen Terbatas UUD 1945

Fraksi PKS Isyaratkan Setuju Wacana Amendemen Terbatas UUD 1945

Nasional
Menhan Prabowo: ASEAN Harus Bisa Jadi Penyeimbang di Indo-Pasifik

Menhan Prabowo: ASEAN Harus Bisa Jadi Penyeimbang di Indo-Pasifik

Nasional
Pilkada Langsung Disebut Berbiaya Tinggi, Pakar: Masalahnya Ada di Parpol

Pilkada Langsung Disebut Berbiaya Tinggi, Pakar: Masalahnya Ada di Parpol

Nasional
Soal Sertifikasi Nikah, Pemerintah Diminta Tak Campuri Urusan Rakyat Terlalu Jauh

Soal Sertifikasi Nikah, Pemerintah Diminta Tak Campuri Urusan Rakyat Terlalu Jauh

Nasional
Akar Persoalan 'Mati Satu Tumbuh Seribu' Pelaku Terorisme

Akar Persoalan "Mati Satu Tumbuh Seribu" Pelaku Terorisme

Nasional
DPR Diminta Libatkan Seluruh Kalangan Bahas Pasal RKUHP yang Bermasalah

DPR Diminta Libatkan Seluruh Kalangan Bahas Pasal RKUHP yang Bermasalah

Nasional
Jamin Kebebasan Beragama, Pemerintah Diminta Perbaiki Kualitas Kebijakan dan Penegakan Hukum

Jamin Kebebasan Beragama, Pemerintah Diminta Perbaiki Kualitas Kebijakan dan Penegakan Hukum

Nasional
PDI-P Minta Aparat Tindak Tegas Kelompok Intoleran

PDI-P Minta Aparat Tindak Tegas Kelompok Intoleran

Nasional
Imparsial Catat 31 Pelanggaran Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan Sepanjang 2019

Imparsial Catat 31 Pelanggaran Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan Sepanjang 2019

Nasional
Sejumlah Tokoh Akan Gugat UU KPK ke MK, tapi Tetap Dorong Perppu

Sejumlah Tokoh Akan Gugat UU KPK ke MK, tapi Tetap Dorong Perppu

Nasional
Imparsial: Intoleransi Masih Jadi Masalah yang Terus Berulang di Indonesia

Imparsial: Intoleransi Masih Jadi Masalah yang Terus Berulang di Indonesia

Nasional
Hari Toleransi Internasional, Negara Diharap Perkuat Jaminan Hak Beragama dan Berkeyakinan

Hari Toleransi Internasional, Negara Diharap Perkuat Jaminan Hak Beragama dan Berkeyakinan

Nasional
Erupsi, Status Gunung Merapi Waspada

Erupsi, Status Gunung Merapi Waspada

Nasional
Tim Advokasi: Bukan Dipulihkan, Novel Baswedan Justru Kembali Jadi Korban

Tim Advokasi: Bukan Dipulihkan, Novel Baswedan Justru Kembali Jadi Korban

Nasional
Pasca-Bom Medan, BNPT Minta Ada Koordinasi soal Aturan Kunjungan Napi Terorisme

Pasca-Bom Medan, BNPT Minta Ada Koordinasi soal Aturan Kunjungan Napi Terorisme

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X