Dinas Lingkungan Hidup Kalteng Tak Temukan Pencemaran Limbah Anak Usaha Sinarmas

Kompas.com - 30/01/2019, 14:52 WIB
Pejabat Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (30/1/2019). KOMPAS.com/ABBA GABRILLINPejabat Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (30/1/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Kalimantan Tengah, Arianto mengatakan, anak usaha Sinarmas yakni PT Binasawit Abadi Pratama (BAP) tak terbukti melakukan pencemaran lingkungan.

Hal itu dikatakan Arianto saat bersaksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu (30/1/2019).

Dia bersaksi untuk tiga pejabat Sinarmas yang didakwa menyuap anggota DPRD Kalimantan Tengah.

"Ada banyak parameter, tapi sebagian besar menunjukkan kualitas air masih di atas bakumutu lingkungan. Jadi kalau dari hasil penelitian masih belum dikatakan tercemar," ujar Arianto.


Baca juga: Pemprov Kalteng Akui Belum Ada Rekomendasi Izin Anak Usaha Sinarmas

Menurut Arianto, awalnya Dinas LH membaca berita surat kabar mengenai dugaan pencemaran limbah sawit di Danau Sembuluh, Seruyan, Kalteng. Ada 7 perusahaan yang diduga terlibat, salah satunya PT BAP.

Menindaklanjuti berita itu, Arianto ditugaskan kepala dinas untuk mengecek langsung kondisi danau dan mengambil sampel air untuk diuji di laboratorium.

Arianto kemudian meninjau lokasi bersama kepala seksi pemantauan kualitas lingkungan dan kepala seksi pengendalian pencemaran lingkungan.

"Kami ketemu Pak Camat dan kami dipinjami speed boat untuk ambil sampel di muara, di dekat desa dan satu di danau. Jadi ada 3 titik," kata Arianto.

Baca juga: Bersaksi di Sidang, Anggota DPRD Kalteng Mengaku Tidur Saat Kunjungan ke Lahan Sinarmas

Menurut Arianto, mereka juga mewawancarai camat dan nelawan serta penambak ikan yang ditemui saat mengambil sampel air.

Para nelayan mengatakan bahwa jumlah ikan yang mati di danau tak sebanyak yang ditulis di dalam surat kabar.

Masyarakat juga tidak bisa memastikan penyebab ikan-ikan yang mati. Sebab, saat musim kemarau, menurut Arianto, warga sering memancing dengan alat yang sebenarnya tidak diperbolehkan.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X