Datang ke DPR, Rombongan Peneliti Keluhkan Kepala LIPI yang Baru - Kompas.com

Datang ke DPR, Rombongan Peneliti Keluhkan Kepala LIPI yang Baru

Kompas.com - 30/01/2019, 13:53 WIB
Rombongan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengadukan pimpinan mereka yang baru ke Komisi VII DPR, di Kompleks Parlemen, Rabu (30/1/2019). KOMPAS.com/JESSI CARINA Rombongan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengadukan pimpinan mereka yang baru ke Komisi VII DPR, di Kompleks Parlemen, Rabu (30/1/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Rombongan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI) menemui Ketua DPR Bambang Soesatyo dan anggota Komisi VII untuk mengadukan kebijakan Kepala LIPI yang baru Laksana Tri Handoko.

Mereka mengeluhkan kebijakan reorganisasi yang dilakukan Handoko di LIPI. Mereka yang datang mengadu bukan hanya peneliti biasa melainkan juga profesor-profesor seperti Syamsudin Haris, Asvi Warman Adam, dan Hanny Warsilah.

"Ada masalah di dalam kebijakan reorganisasi dan redistribusi di LIPI yang dilakukan oleh kepala LIPI. Masalah-masalah itu diantaranya adalah pembabatan sejumlah satuan kerja, pemecahan eselon II, penghapusan sejumlah eselon III kemudian rencana dirumahkannya ratusan staf pendukung jumlahnya 1.500," ujar Syamsudin Haris di Kompleks Parlemen, Rabu (30/1/2019).

Baca juga: Laksana Tri Handoko Dilantik Jadi Kepala LIPI yang Baru

Syamsudin mengatakan, mereka bukannya menolak reorganisasi, tetapi pegawai LIPI berharap hal itu dilakukan secara bertahap.

Akibat kebijakan ini, banyak pegawai yang kehilangan pekerjaannya.

Syamsudin mengatakan kebijakan yang dilakukan tidak memperhatikan sisi kemanusiaan.

Sementara itu, Asvi Warman Adam menceritakan dia sudah berada di LIPI sekitar 35 tahun.

Baca juga: Alasan LIPI Ajukan Tiga Pidato Soekarno sebagai Warisan Dunia UNESCO

 

LIPI juga tidak asing dengan kebijakan reorganisasi. Namun, biasanya, reorganisasi dilakukan dengan menambah unit-unit tertentu.

Kini reorganisasi di bawah Handoko justru mengurangi unit kerja yang ada.

"Kalau yang sekarang ini kebalikan dari yang semuanya itu, ini bertujuan mengurangi fungsi jumlah tenaga yang diperlukan dan merumahkan demikian banyak orang," kata Asvi.

Kompas TV Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menyebut fenomena tsunami yang terjadi di Selat Sunda merupakan yang pertama kali terjadi di Indonesia. Pasalnya tsunami yang terjadi tanpa didahului gempa dan aktivitas tektonik. Peneliti LIPI, Nugroho Dwi Hananto menyebut dugaan penyebab terjadinya tsunami di Selat Sunda adalah erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengakibatkan aktivitas longsor bawah laut. Kondisi ini diperparah dengan fenomena pasang air laut sehingga menyebabkan gelombang mencapai 2 hingga 3 meter yang melanda pesisir barat Banten hingga berimbas ke Lampung.

 



Close Ads X