Genap 72 Tahun, Ini Perjalanan Politik Megawati Soekarnoputri...

Kompas.com - 23/01/2019, 14:10 WIB
Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri pada acara yang digelar Paguyuban Pimpinan Tinggi Perempuan Indonesia dalam peringatan Hari Ibu, di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (18/12/2018). Dok. PDI-PPresiden kelima RI Megawati Soekarnoputri pada acara yang digelar Paguyuban Pimpinan Tinggi Perempuan Indonesia dalam peringatan Hari Ibu, di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (18/12/2018).

KOMPAS.com - Ketua Umum PDI Perjuangan ( PDI-P) Megawati Soekarnoputri genap berusia 72 tahun hari ini, Rabu (23/1/2019). Sosok yang dikenal sebagai presiden kelima Indonesia ini merupakan anak proklamator dan presiden pertama Indonesia, Soekarno.

Megawati diangkat sebagai presiden menggantikan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang dilengserkan oleh hasil Sidang Istimewa MPR pada 2001. Megawati kemudian berpasangan dengan Hamzah Haz memimpin Indonesia sampai 2004.

Nama Megawati sendiri sudah dikenal sebelum reformasi bergulir. Saat itu, Megawati bahkan diharapkan dapat berkiprah lebih luas sebagai oposisi di era Presiden Soeharto, saat ditunjuk menjadi ketua umum Partai Demokrasi Indonesia (cikal bakal PDI-P).

Sosok Megawati kemudian berganti rupa menjadi simbol perlawanan terhadap Orde Baru, terutama setelah kepemimpinannya digoyang Pemerintah Soeharto.

Baca juga: Begini Cara Megawati Merayakan Ultah Ke-72...

Saat itu, Orde Baru tak mengakui kepemimpinan Megawati, dan mengesahkan kepemimpinan Soerjadi, pasca-terjadi dualisme di partai berlambang banteng.

Dualisme partai itu berujung tragedi, saat terjadi Peristiwa Sabtu Kelabu pada 27 Juli 1996 yang menewaskan dan menghilangkan sejumlah pendukung Megawati.

Meski begitu, saat Megawati berperan sebagai presiden, kasus 27 Juli 1996 dianggap banyak pihak belum juga tuntas. Sejumlah orang yang dituduh bertanggung jawab dalam kasus itu tak tersentuh hukum.

Lalu bagaimana, kiprah Megawati Soekarnoputri dalam perpolitikan Tanah Air? Berikut perjalanannya:

1. Lahir di Yogyakarta

Sebagai seorang Presiden Indonesia, Soekarno memikul tugas dan tanggung jawab yang berat terhadap negara. Dia pernah ditangkap dan diasingkan oleh Belanda berkali-kali ke berbagai tempat.

Megawati Soekarnoputri adalah putri kedua Soekarno dengan Fatmawati, gadis yang dijumpainya ketika di pengasingan Bengkulu.

Megawati dilahirkan pada 23 Januari 1947 di kampung Ledok Ratmakan, dekat Kali Code, Yogyakarta. Momen kelahirannya bertepatan dengan Agresi Militer Belanda dan ketika itu ayahnya sedang diasingkan di Pulau Bangka.

Setelah Indonesia mendapatkan kemerdekaan secara penuh, Megawati kecil bertolak ke Jakarta dan tumbuh besar di sana. Dia menempuh pendidikan dan pengalaman berbagai organisasi di Ibu Kota.

2. Membangun keluarga

Ketum PDI-P Megawati Soekarnoputri di peringatan HUT ke-46 PDI-PIstimewa Ketum PDI-P Megawati Soekarnoputri di peringatan HUT ke-46 PDI-P
Pada 1 Juni 1968, Megawati menikah dengan Letnan Satu AURI Surindro Supjarso. Dilansir dari Harian Kompas yang terbit pada 29 Mei 1968, resepsi pernikahan berlangsung di kediaman Fatmawati di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Sebelumnya, Soekarno juga hadir untuk melihat prosesi pernikahan putri keduanya tersebut.

Setelah menikah dengan perwira AURI, dia dikarunia dua orang anak yaitu Mohammad Rizki Pratama dan Mohammad Prananda. Megawati tinggal bersama keluarga di Madiun, Jawa Timur.

Akan tetapi, suaminya mengalami kecelakaan penerbangan ketika pesawat yang dikendalikannya Skyvan T-701 terempas di laut sekitar perairan Pulau Biak, Irian Jaya. Peristiwa ini terjadi sehari sebelum ulang tahun Megawati ke-23.

Setelah itu, Megawati menikah dengan diplomat Mesir yang kala itu sedang bertugas di Jakarta, yang bernama Hassan Gamal Ahmad Hasan. Namun, kondisinya hanya berlangsung tiga bulan karena terjadi permasalahan.

Pernikahannya yang ketiga adalah dengan Taufiq Kiemas, temannya semasa jadi aktivis di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Bersama dengan Taufiq Kiemas, Megawati kemdian ikut andil dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI) hingga berubah menjadi PDI-P.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Analisis dan Catatan BMKG soal Gempa Majene, Rentetan Sejarah, hingga Potensi Gempa Susulan

Analisis dan Catatan BMKG soal Gempa Majene, Rentetan Sejarah, hingga Potensi Gempa Susulan

Nasional
Jokowi: Saya Akan Terus Pantau Perkembangan Bencana di Tanah Air

Jokowi: Saya Akan Terus Pantau Perkembangan Bencana di Tanah Air

Nasional
UPDATE: Hingga Sabtu Dini Hari, 189 Orang Dirawat Akibat Gempa Mamuju, 637 Orang Luka Ringan di Majene

UPDATE: Hingga Sabtu Dini Hari, 189 Orang Dirawat Akibat Gempa Mamuju, 637 Orang Luka Ringan di Majene

Nasional
Saat Kedekatan Komjen Listyo dan Presiden Jokowi Disorot...

Saat Kedekatan Komjen Listyo dan Presiden Jokowi Disorot...

Nasional
UPDATE: Hingga Pukul 20.00 WIB, 42 Orang Meninggal Akibat Gempa Mamuju dan Majene

UPDATE: Hingga Pukul 20.00 WIB, 42 Orang Meninggal Akibat Gempa Mamuju dan Majene

Nasional
Polri Kirim Pesawat hingga Personel untuk Bantu Penanganan Gempa di Sulawesi Barat

Polri Kirim Pesawat hingga Personel untuk Bantu Penanganan Gempa di Sulawesi Barat

Nasional
Rizieq Shihab yang Pernah Positif Covid-19, Berawal dari Kasus RS Ummi

Rizieq Shihab yang Pernah Positif Covid-19, Berawal dari Kasus RS Ummi

Nasional
Jokowi: Saya Telah Perintahkan Vaksinasi Covid-19 Tuntas Sebelum Akhir 2021

Jokowi: Saya Telah Perintahkan Vaksinasi Covid-19 Tuntas Sebelum Akhir 2021

Nasional
Jokowi: Bulan ini Curah Hujan Ekstrem, Waspadai Banjir dan Tanah Longsor

Jokowi: Bulan ini Curah Hujan Ekstrem, Waspadai Banjir dan Tanah Longsor

Nasional
Azyumardi Azra: Pembubaran FPI dan HTI Tak Timbulkan Reaksi Keras dari Kelompok Muslim Lain

Azyumardi Azra: Pembubaran FPI dan HTI Tak Timbulkan Reaksi Keras dari Kelompok Muslim Lain

Nasional
Jokowi: Kita Harus Optimistis Awal 2021 Jadi Titik Balik Pandemi di RI

Jokowi: Kita Harus Optimistis Awal 2021 Jadi Titik Balik Pandemi di RI

Nasional
Besok, Kepala Basarnas dan Panglima TNI akan Tinjau Lokasi Bencana di Kalsel dan Mamuju

Besok, Kepala Basarnas dan Panglima TNI akan Tinjau Lokasi Bencana di Kalsel dan Mamuju

Nasional
Banjir Kalsel, Jokowi Perintahkan Kepala BNPB, Panglima TNI, dan Kapolri Kirim Bantuan Secepatnya

Banjir Kalsel, Jokowi Perintahkan Kepala BNPB, Panglima TNI, dan Kapolri Kirim Bantuan Secepatnya

Nasional
2 Petugas dan Seorang Napi Rutan Mamuju Luka akibat Gempa

2 Petugas dan Seorang Napi Rutan Mamuju Luka akibat Gempa

Nasional
Azyumardi Azra: Pembubaran HTI dan FPI Jadi Peristiwa Penting dalam Sejarah Gerakan Islam di Indonesia

Azyumardi Azra: Pembubaran HTI dan FPI Jadi Peristiwa Penting dalam Sejarah Gerakan Islam di Indonesia

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X