Dua Perantara Suap Bupati Hulu Sungai Tengah Dapat Status "Justice Collaborator"

Kompas.com - 09/08/2018, 14:27 WIB
Bupati nonaktif Hulu Sungai Tengah Abdul Latif duduk di kursi terdakwa di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (6/8/2018). KOMPAS.com/ABBA GABRILLINBupati nonaktif Hulu Sungai Tengah Abdul Latif duduk di kursi terdakwa di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (6/8/2018).
|
Editor Bayu Galih

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Nonaktif Kamar Dagang dan Industri Barabai, Hulu Sungai Tengah Fauzan Rifani dan Direktur PT Sugriwa Agung Abdul Basit ditetapkan sebagai justice collaborator oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Keduanya dianggap layak menyandang status sebagai saksi pelaku yang bekerja sama dengan penegak hukum.

"Yang Mulia, untuk diketahui surat penetapan justice collaborator untuk kedua terdakwa sudah diterbitkan," ujar jaksa Lie Putra Setiawan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (9/8/2018).

Fauzan dan Abdul Basit dituntut 6 tahun penjara oleh jaksa. Fauzan juga dituntut membayar denda Rp 300 juta subsider 6 bulan kurungan.


Sementara, Abdul Basit dituntut membayar denda Rp 200 juta subsider 4 bulan kurungan.

Baca juga: Menurut Saksi, Bupati Hulu Sungai Tengah Kuasai Semua Fasilitas Pembangunan

Dalam pertimbangan, jaksa menilai perbuatan keduanya tidak mendukung pemerintah dalam pemberantasan korupsi. Meski demikian, terdakwa dinilai memberikan keterangan yang signifikan sehingga membuat terang tindak pidana.

Keduanya juga berlaku sopan, masih memiliki tanggungan keluarga dan belum pernah dihukum.

Fauzan dan Abdul Basit terjerat kasus dugaan suap proyek pengadaan pekerjaan pembangunan RSUD Damanhuri, Barabai, Kalimantan Selatan, Tahun Anggaran 2017.

Fauzan Rifani dan Abdul Basit diduga menjadi perantara suap untuk Bupati Hulu Sungai Tengah Abdul Latif. Uang suap tersebut diberikan oleh Direktur Utama PT Menara Agung Donny Witono.

Abdul Latif, Fauzan Rifani, dan Abdul Basit diduga menerima commitment fee dari Donny Winoto terkait proyek pembangunan ruang perawatan kelas I, II, VIP dan Super VIP RSUD Damanhuri, Barabai sebesar 7,5 persen atau senilai Rp 3,6 miliar.

Realisasi pemberian fee proyek diduga dilakukan secara bertahap. Pemberian pertama pada rentang September-Oktober 2017 sebesar Rp 1,8 miliar, kemudian pemberian kedua pada 3 Januari 2018 sebesar Rp 1,8 miliar.

Sebagai penerima uang suap, Abdul Basit dan Fauzan Rifani didakwa melanggar Pasal 12 huruf b Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X