Bos First Travel Pakai Uang Calon Jamaah untuk Beli Restoran di London, Mobil, Hingga Perusahaan

Kompas.com - 19/02/2018, 15:18 WIB
Terdakwa yaitu Direktur Utama First Travel Andika Surachman, Direktur First Travel Anniesa Hasibuan, dan Direktur Keuangan First Travel Siti Nuraidah Hasibuan menjalani sidang perdana kasus dugaan penipuan dan penggelapan oleh agen perjalanan umrah First Travel di Pengadilan Negeri Depok, Senin (19/2/2018). KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMOTerdakwa yaitu Direktur Utama First Travel Andika Surachman, Direktur First Travel Anniesa Hasibuan, dan Direktur Keuangan First Travel Siti Nuraidah Hasibuan menjalani sidang perdana kasus dugaan penipuan dan penggelapan oleh agen perjalanan umrah First Travel di Pengadilan Negeri Depok, Senin (19/2/2018).

DEPOK, KOMPAS.com - Jaksa penuntut umum mendakwa Direktur Utama First Travel Andika Surachman, Direktur First Travel Anniesa Hasibuan, dan Komisaris Utama Kepala Divisi Keuangan First Travel Siti Nuraidah Hasibuan alias Kiki melakukan tindak pidana pencucian uang dengan menggunakan setoran calon jamaah umrah.

Dalam surat dakwaan, Anniesa dan Andika menggunakan uang tersebut untuk membeli restoran di London senilai Rp 10 miliar.

"Untuk pembelian hak berusaha Restoran Golden Day milik Love Health yang kemudian diubah menjadi restoran Nusa Dua," ujar jaksa Heri Jerman di Pengadilan Negeri Depok, Senin (19/2/2018).

Bos First Travel juga membeli perusahaan PT Hijrah Bersama Taqwa dan PT Interculture Torindo pada 2016 masing-masing senilai Rp 1,2 miliar. Mereka juga membeli perusahaan Yamin Duta Makmur senilai Rp 2,5 miliar.


Bahkan, untuk membayar sewa kantor First Travel di Jalan Rasuna Said, Kuningan, para terdakwa juga menggunakan uang setoran calon jamaah senilai Rp 1,3 miliar per empat bulan.

(Baca juga: Bos First Travel Pakai Uang Calon Jamaah Umrah Rp 8,6 Miliar untuk Jalan-jalan ke Eropa)

Termasuk untuk bayar sewa kantor First Travel di GKM Tower, TB Simatupang, sebesar Rp 8,2 miliar untuk tiga tahun dan kantor di Kemang senilai Rp 800 juta pertahun.

Selain membeli perusahaan, menurut dakwaan, uang calon jamaah juga dibelanjakan untuk membeli 18 unit mobil yang rentang harganya mulai dari Rp 100 juta hingga Rp 1 miliar.

"Pembelian satu buah mobil Velfire tahun 2016 seharga Rp 1 miliar dan satu buah mobil Pajero tahun 2015 seharga Rp 500 juta," kata Heri.

Dalam dakwaan juga disebutkan ketiganya juga membeli delapan unit tanah, rumah, dan apartemen di daerah Sentul, Lombok, Cimanggis, dan Jakarta.

Uang tersebut juga digunakan untuk membayar gaji karyawan, membayar fee agen, hingga untuk kepentingan pribadi lainnya. Dengan demikian, tersisa Rp 905.333.000.000 yang merupakan uang dari 63.310 calon jamaah yang belum diberangkatkan.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X