Asketisme Politik, Belajar Hidup Sederhana untuk Politisi

Kompas.com - 14/02/2018, 11:47 WIB
Ilustrasi KOMPAS/HANDININGIlustrasi

Mereka hanya mengandalkan kedekatan, idealisme, hubungan serta program populis. Namun, sepertinya realitas cerita semacam ini semakin jarang terdengar, meskipun ada beberapa yang sukses.

Saat ini adalah era kehidupan yang diwarnai iklim menguatnya materialisme dan hedonisme yang juga memengaruhi kehidupan umumnya para politisi kita.

Kita mudah mengetahui pola hidup para politisi yang bergelimang kemewahan, mobil mewah, rumah mewah, jam mewah, hingga pakaian modis nan mahal. Sehingga, gedung rakyat pun tak jarang menjadi semacam galeri untuk memamerkan kekayaan.

Teladan kesederhanaan

Adalah Prawoto Mangkoesasmito, profil politisi pejuang yang mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan negara dan kesejahteraan rakyatnya. Prawoto tak pernah menjadikan politik sebagai alat mengeruk uang demi kepentingan pribadi maupun partai politik.

Prawoto pernah menjabat sebagai anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), Wakil Perdana Menteri di era Mr Assaat sebagai Perdana Menteri.

Beliau juga pernah menduduki anggota DPR dan Wakil Ketua I Konstituante. Ini kedudukan yang sesungguhnya dapat membuat seseorang dapat hidup layak dan nyaman.

Sebuah cerita tentang kesederhanaan Prawoto dituturkan oleh putrinya, Sri Sjamsiar, saat Prawoto dipanggil ke Istana oleh Presiden Soekarno.

Malam hari sebelum memenuhi panggilan, Prawoto meminta putrinya untuk menisik (menambal lubang) di kerah baju koko putih miliknya.

Keesokan harinya di Istana, para undangan lain mengenakan setelan jas, dasi dan bersepatu, tetapi Prawoto hanya mengenakan sarung, baju koko tua, peci, dan sandal kulit. Hal yang sulit terjadi saat ini.

Dulu di zaman perjuangan, banyak sosok-sosok politisi pejuang nyaris tidak pernah memikirkan materi untuk pribadi. Sederet pejabat justru berlomba-lomba memberikan kontribusi terbaiknya bagi bangsa.

Salah satunya adalah KH Saifuddin Zuhri, yang dikenal sebagai pejuang dan sempat diamanati sebagai Menteri Agama.

Saat berada di jabatan strategis ini, beliau diuji. Suatu kali, adik iparnya Mohammad Zainuddin Dahlan menghadap dan memohon untuk dihajikan dengan biaya dinas (abidin) dari Departemen Agama.

Meski sebenarnya lazim menghajikan orang yang potensial apalagi pejuang kemerdekaan, namun KH Saifuddin Zuhri menolak permintaan adiknya. "Karena, kamu adikku. Coba kamu orang lain, sudah lama aku hajikan," kata dia.

Jika banyak mantan menteri bergelut dalam bisnis yang prestise, justru Saifuddin memilih menjalani profesi sebagai pedagang beras di Glodok. Sehabis shalat dhuha, tanpa pengetahuan keluarganya, Saifuddin ke Pasar Glodok berdagang beras.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kasus Covid-19 Meningkat, Seluruh Gubernur di Sumatera Diminta Antisipasi Arus Balik Idul Fitri

Kasus Covid-19 Meningkat, Seluruh Gubernur di Sumatera Diminta Antisipasi Arus Balik Idul Fitri

Nasional
Ingat! Larangan Mudik Masih Berlaku hingga 17 Mei 2021

Ingat! Larangan Mudik Masih Berlaku hingga 17 Mei 2021

Nasional
Idul Fitri 1442 Hijriah, Megawati Minta Kader Teladani Pesan Soekarno

Idul Fitri 1442 Hijriah, Megawati Minta Kader Teladani Pesan Soekarno

Nasional
Kasus Covid-19 di Jawa Cenderung Menurun tetapi di Sumatera Meningkat

Kasus Covid-19 di Jawa Cenderung Menurun tetapi di Sumatera Meningkat

Nasional
Kemenhub: Puncak Arus Balik Diprediksi pada 16 dan 20 Mei

Kemenhub: Puncak Arus Balik Diprediksi pada 16 dan 20 Mei

Nasional
Kemenhub Catat 1,5 Juta Pemudik Keluar Jabodetabek

Kemenhub Catat 1,5 Juta Pemudik Keluar Jabodetabek

Nasional
Update 13 Mei: 8.919.557 Orang Sudah Divaksin Covid-19 Dosis Kedua

Update 13 Mei: 8.919.557 Orang Sudah Divaksin Covid-19 Dosis Kedua

Nasional
UPDATE: Suspek Covid-19 di Indonesia Tercatat 87.578 Orang

UPDATE: Suspek Covid-19 di Indonesia Tercatat 87.578 Orang

Nasional
UPDATE: Pemeriksaan Spesimen Terkait Covid-19 dalam Sehari Mencapai 31.550 Sampel

UPDATE: Pemeriksaan Spesimen Terkait Covid-19 dalam Sehari Mencapai 31.550 Sampel

Nasional
Update 13 Mei: Ada 94.857 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

Update 13 Mei: Ada 94.857 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

Nasional
UPDATE: Bertambah 99, Kasus Kematian akibat Covid-19 Kini 47.716 Orang

UPDATE: Bertambah 99, Kasus Kematian akibat Covid-19 Kini 47.716 Orang

Nasional
UPDATE: Bertambah 4.201, Pasien Sembuh dari Covid-19 Mencapai 1.589.079 Orang

UPDATE: Bertambah 4.201, Pasien Sembuh dari Covid-19 Mencapai 1.589.079 Orang

Nasional
UPDATE: Bertambah 3.448, Kasus Covid-19 di Indonesia Kini 1.731.652

UPDATE: Bertambah 3.448, Kasus Covid-19 di Indonesia Kini 1.731.652

Nasional
Masyarakat Dilarang Mudik, Megawati: Kita Masih Bisa Menciptakan Kebahagiaan di Hari yang Fitri Ini

Masyarakat Dilarang Mudik, Megawati: Kita Masih Bisa Menciptakan Kebahagiaan di Hari yang Fitri Ini

Nasional
Menkes: Tak Mudik Cara Jaga Orang Tercinta dari Potensi Tertular Covid-19

Menkes: Tak Mudik Cara Jaga Orang Tercinta dari Potensi Tertular Covid-19

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X