Antisipasi Penyanderaan Terulang, Pendatang di Mimika Akan Dipulangkan

Kompas.com - 20/11/2017, 17:07 WIB
Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto di Istana Bogor, Kamis (16/11/2017). KOMPAS.com/IhsanuddinMenteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto di Istana Bogor, Kamis (16/11/2017).
|
EditorBayu Galih

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah berencana memulangkan warga pendatang yang selama ini tinggal di Kabupaten Mimika, khususnya di kampung Banti dan Kimbely yang menjadi tempat penyanderaan.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto mengatakan, tujuan warga pendatang masuk ke pedalaman Papua untuk mendulang emas.

Kelompok kriminal bersenjata kemudian melihat potensi untuk meraup keuntungan dari sana dan mengganggu kondisi keamanan masyarakat.

"Karena daerah itu emang sangat terisolasi. Oleh karena itu kami berusaha mengembalikan mereka," ujar Wiranto dalam konferensi pers di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin (20/11/2017).

"Yang berasal dari Jawa, kami kembalikan ke Jawa. Yang berasal dari suku lain di Papua, kami kembalikan ke tempat asalnya," kata Wiranto.

(Baca juga: Jokowi Apresiasi TNI-Polri atas Keberhasilan Evakuasi Warga Papua)

Hal tersebut disampaikan Wiranto usai melakukan rapat koordinasi dengan Polri, TNI, BNPT, Kementerian Komunikasi dan Informatika, hingga Kementerian Perhubungan.

Wiranto mengatakan, jika pendatang dibiarkan menetap di sana, maka kasus serupa penyanderaan 1.300 warga bisa terulang kembali.

"Sehingga yang tinggal nanti hanya Suku Amungme yang sudah sangat dikenal Kapolri di sana, yang tentu tidak akan diganggu oleh mereka," kata Wiranto.

Warga yang diisolasi oleh kelompok kriminal bersenjata dievakuasi dari Kampung Kimberly, Kampung Banti, menuju Tembagapura, dengan pengawalan ketat personel TNI dan Polri pada Jumat (17/11/2017) sekitar pukul 11.00 WIT.  Humas Polda Papua Warga yang diisolasi oleh kelompok kriminal bersenjata dievakuasi dari Kampung Kimberly, Kampung Banti, menuju Tembagapura, dengan pengawalan ketat personel TNI dan Polri pada Jumat (17/11/2017) sekitar pukul 11.00 WIT.
Aparat TNI dan Polri akhirnya berhasil membebaskan para sandera dari tangan kelompok kriminal bersenjata yang menahan mereka di Kampung Banti dan Kimbely.

Proses pembebasan sandera didahului sebuah operasi senyap yang dilakukan Kopassus dan Tim Intai Kostrad. Sebanyak 13 personel Kopassus dan 10 personel Kostrad ini sudah mengintai lokasi penyekapan sejak lima hari lalu.

(Baca juga: TNI-Polri Kembali Evakuasi 804 Sandera Kelompok Bersenjata di Papua)

Mereka mengendap dan memantau pergerakan kelompok kriminal bersenjata yang membaur dengan warga sipil.

Upaya pembebasan 344 warga sipil terisolasi itu penuh risiko lantaran KKB terus menghujani aparat dan warga dengan tembakan dari jarak jauh.

Kemudian, keesokan paginya, pasukan TNI dan Brimob bergerak menyerbu Kampung Kimbely dan Banti. Kelompok separatis bersenjata itu berhamburan menyelamatkan diri ke dalam hutan dan ke area ketinggian sambil menyerang aparat dengan tembakan bertubi-tubi.

Setelah kelompok tersebut menghilang dari pandangan, aparat gabungan TNI dan Polri lain bergegas menuju dua kampung itu untuk membebaskan ratusan warga yang disandera.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X