Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Heryadi Silvianto
Dosen FIKOM UMN

Pengajar di FIKOM Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dan praktisi kehumasan.

Kebocoran Informasi dan Pentingnya Sikap Kritis pada Motif Pembocor

Kompas.com - 27/09/2017, 18:47 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorAmir Sodikin

Penulis sempat mencermati kejadian ini, dengan melakukan konfirmasi atas kebenaran informasi tersebut. Pihak otoritas seperti Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) menyatakan bahwa informasi yang beredar benar, namun belum layak dipublikasikan karena awalnya hanya berupa formasi kebutuhan dari kementerian teknis.

Meski tak berselang lama Pemerintah mengumumkan secara resmi lowongan CPNS di 61 institusi Pemerintah. Sebagaimana diketahui, segala sesuatu yang secara resmi terkait dokumen pemerintah di Indonesia sesungguhnya sudah sangat rigid diatur dalam UU Keterbukaan Informasi Nomor 14 tahun 2008. Ada yang boleh dan tidak boleh, yang layak dan tidak.

Mengapa kebocoran seperti ini banyak terjadi, tidak hanya dalam konteks lokal namun juga terjadi pada konteks global seperti Panama Papers (2016), Swiss Leaks (2015), Luksemburg Leaks (2014), Offshore Leaks (2013), dan Wikileaks (2010). 

Mencermati pola dan pijakan argumen 

Saat informasi berperan ganda yakni sebagai pesan di satu sisi dan informasi di sisi yang lain, maka dia akan berubah bentuk sebagai sebuah komoditas, tidak sekadar proses pertukaran makna dan peralihan simbol.

Sebuah informasi yang memiliki ‘bobot’ yang dibutuhkan publik secara umum dan segelintir pihak secara khusus, secara alamiah akan menempatkan dirinya sebagai dokumen dengan derajat ‘secret and confidential’. Informasi yang penting dan rahasia, pada dasarnya dikemas dalam spesifikasi tertentu untuk pihak terbatas.

Leaks biasanya dilakukan oleh kalangan internal yang memiliki akses terhadap keputusan penting dan kepentingan tertentu baik secara sengaja maupun tidak. Kebocoran informasi seringkali terjadi akibat adanya kepentingan yang tidak terakomodir. 

Bocoran informasi ini dalam realitasnya menjadi ‘bumbu’ dan ‘bahan bakar’ yang luar biasa bagi pembocor jika mampu diminati media. Pun dengan media, seperti mendapatkan asupan suplemen yang dapat mengungkit pemberitaan.

Menjadikannya pioner dalam isu tertentu atau semacam hak istimewa terhadap sebuah informasi. Kini, peran tersebut tidak sepenuhnya ditunaikan oleh media mainstream (cetak, radio, portal online dan televisi) saja. Namun dalam situasi tertentu lebih ampuh menggunakan media sosial lewat akun tertentu yang berlabel anonim maupun buzzer.

Situasi ini akan senantiasa berkembang saat jurnalis tidak lagi menempatkan narasumber dalam kacamata tunggal, seseorang yang terkenal kredibilitasnya (prominance) atau teruji kompetensinya (experties) sesuai dengan standar nilai berita (news value). Tidak jarang hasil jurnalistik justru didapatkan dari cuitan seseorang atau sebuah akun di Twitter yang memiliki nilai kontroversial luar biasa.

Ada banyak alasan mengapa informasi bisa bocor kepada media dan publik. Pertama, politisi dan pembuat kebijakan mungkin ingin menilai reaksi masyarakat terhadap rencana mereka sebelum melakukan atau semacam  test the water(s). Leaks tersebut untuk melihat bagaimana reaksi publik secara internal dan eksternal.

Kedua, orang-orang yang memiliki akses terhadap informasi rahasia mungkin akan mendapatkan keuntungan dari leaks tersebut, tanpa mereka sendiri yang bertanggung jawab. Misalnya, informasi yang akan mempermalukan lawan politik, menyebabkan keriuhan publik dan mengganggu stabilitas. Situasi ini ada semacam konflik di ‘ruang gelap’ atau terjadi segregasi dalam internal.

Ketiga, orang yang mengetahui informasi rahasia tentang hal-hal yang menurut mereka salah secara moral atau bertentangan dengan kepentingan umum dapat menjadi pelaku pembocoran tersebut atau sering disebut sebagai "whistleblower".

Keempat, orang mengungkapkan informasi rahasia murni untuk mendapatkan manfaat langsung bagi dirinya sendiri, seperti keuntungan finansial atau kesempatan.

Pada akhirnya leaks ini merupakan informasi yang harus dicerna oleh publik secara sadar tidak boleh emosional. Karena pada akhirnya segala sikap yang dilakukan akan menjadi terukur dan tidak berdampak buruk.

Jika leaks ini dimaksudkan untuk membuat sensasi dan menyedot perhatian khalayak, di mana memposisikan publik dipaksa secara halus untuk mendiskusikan isu tersebut padahal bukan sesuatu yang memengaruhi kebijakan orang banyak.

Bisa jadi semua itu didasari pada satu motif dasar saja: kepentingan politik praktis. Maka jika itu yang dimaksud, sudah saatnya kita menjaga jarak dengan informasi semacam itu.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Setiap Hari, 100-an Jemaah Haji Tersasar di Madinah

Setiap Hari, 100-an Jemaah Haji Tersasar di Madinah

Nasional
PDI-P Sebut Anies Belum Bangun Komunikasi Terkait Pilkada Jakarta

PDI-P Sebut Anies Belum Bangun Komunikasi Terkait Pilkada Jakarta

Nasional
KPK: Ada Upaya Perintangan Penyidikan dalam Kasus TPPU SYL

KPK: Ada Upaya Perintangan Penyidikan dalam Kasus TPPU SYL

Nasional
Prabowo Koreksi Istilah 'Makan Siang Gratis': Yang Tepat, Makan Bergizi Gratis untuk Anak-anak

Prabowo Koreksi Istilah "Makan Siang Gratis": Yang Tepat, Makan Bergizi Gratis untuk Anak-anak

Nasional
Giliran Cucu SYL Disebut Turut Menikmati Fasilitas dari Kementan

Giliran Cucu SYL Disebut Turut Menikmati Fasilitas dari Kementan

Nasional
Kinerja dan Reputasi Positif, Antam Masuk 20 Top Companies to Watch 2024

Kinerja dan Reputasi Positif, Antam Masuk 20 Top Companies to Watch 2024

Nasional
KPK Sita 1 Mobil Pajero Milik SYL yang Disembunyikan di Lahan Kosong di Makassar

KPK Sita 1 Mobil Pajero Milik SYL yang Disembunyikan di Lahan Kosong di Makassar

Nasional
Tak Setuju Kenaikan UKT, Prabowo: Kalau Bisa Biaya Kuliah Gratis!

Tak Setuju Kenaikan UKT, Prabowo: Kalau Bisa Biaya Kuliah Gratis!

Nasional
Lantik Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama, Menaker Minta Percepat Pelaksanaan Program Kegiatan

Lantik Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama, Menaker Minta Percepat Pelaksanaan Program Kegiatan

Nasional
Akbar Faizal Sebut Jokowi Memberangus Fondasi Demokrasi jika Setujui RUU Penyiaran

Akbar Faizal Sebut Jokowi Memberangus Fondasi Demokrasi jika Setujui RUU Penyiaran

Nasional
Tidak Euforia Berlebihan Setelah Menang Pilpres, Prabowo: Karena yang Paling Berat Jalankan Mandat Rakyat

Tidak Euforia Berlebihan Setelah Menang Pilpres, Prabowo: Karena yang Paling Berat Jalankan Mandat Rakyat

Nasional
Korban Dugaan Asusila Ketua KPU Bakal Minta Perlindungan LPSK

Korban Dugaan Asusila Ketua KPU Bakal Minta Perlindungan LPSK

Nasional
Pemerintah Belum Terima Draf Resmi RUU Penyiaran dari DPR

Pemerintah Belum Terima Draf Resmi RUU Penyiaran dari DPR

Nasional
Akui Cita-citanya adalah Jadi Presiden, Prabowo: Dari Kecil Saya Diajarkan Cinta Tanah Air

Akui Cita-citanya adalah Jadi Presiden, Prabowo: Dari Kecil Saya Diajarkan Cinta Tanah Air

Nasional
Budi Arie: Pemerintah Pastikan RUU Penyiaran Tak Kekang Kebebasan Pers

Budi Arie: Pemerintah Pastikan RUU Penyiaran Tak Kekang Kebebasan Pers

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com