Olah Rasa Bangsa

Kompas.com - 01/09/2017, 15:04 WIB
Umat muslim menunggu untuk melaksanakan sholat Idul Adha 1438 Hijriyah di kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat, Jumat (1/9/2017). Hari raya Idul Adha atau biasa disebut hari Kurban identik dengan penyembelihan hewan kurban dirayakan umat Islam setiap tanggal 10 bulan Dzulhijjah, Idul Adha tahun ini diperingati umat muslim Indonesia pada hari Jumat. KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNGUmat muslim menunggu untuk melaksanakan sholat Idul Adha 1438 Hijriyah di kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat, Jumat (1/9/2017). Hari raya Idul Adha atau biasa disebut hari Kurban identik dengan penyembelihan hewan kurban dirayakan umat Islam setiap tanggal 10 bulan Dzulhijjah, Idul Adha tahun ini diperingati umat muslim Indonesia pada hari Jumat.
EditorLaksono Hari Wiwoho

Agama itu melulu soal wahyu, doktrin, dan dogma. Keberagamaan sarat rasa. Sudah jelas rasa beragama kita tak mungkin sama. Ada yang gemar sedekah. Ada yang rajin ibadah. Ada juga yang ternyata kesengsem mengkaji huruf Hijaiyah.

Anda takkan tahu rasa rendang Sumatera sebelum mencicipinya. Anda juga tak mungkin bisa menghirup aroma mawar hanya dengan m-a-w-a-r belaka.

Mungkin kita perlu menggali rasa bersama, dan bersama merasa, bahwa bangsa Indonesia tak lahir dari ketidaksengajaan sejarah. Kita adalah pelanjut gagasan besar manusia dari masa lalu yang gemilang.

Kita berutang teramat banyak pada mereka--para pendahulu. Andai memang untuk sebuah kehancuran, mengapalah mereka bersusah payah merdeka?

Ritus kurban dalam Islam mestinya bisa kita jadikan pembelajaran, betapa Nabi Ibrahim as tak henti mengurbankan perasaannya demi sebuah ketundukan pada perintah Tuhan.

Jauh setelah turun perintah menyembelih Ismail as, anaknya, Tuhan pernah memerintahkan Ibrahim menuju tanah tak bertuan dan meninggalkan Siti Hajar bersama Ismail yang masih balita.

Tak ada salahnya kita bertanya pada diri sendiri, apakah laku hanif (lurus) yang dijalankan Bapak Monotheis itu telah kita praktikkan?

Jangan-jangan selama ini kita hanya sibuk membenarkan diri sendiri, namun luput belajar dari kesalahan. Bisa jadi laku beragama kita masih diselimuti dongeng antah berantah.

Manusia itu makhluk perasa. Segala di sekitarnya dirasakan sampai ke bagian diri yang terdalam. Agama menyediakan ruang untuk merasa itu sebagai bagian utama.

Kian dalam kita menyelami agama, semakin tenggelamlah kita dalam kemenyeluruhan hidup dan merayakannya. Itulah kenapa Tuhan mengajari kita ritus kurban, sekaligus mengajak umat manusia agar senantiasa rela berkurban demi kehidupan.

Lalu kenapa kita masih beragama jika hanya menerbitkan pertikaian?

Tenjolaya, 1 September 1438 H

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ombudsman Temukan Manipulasi Data dan Pemotongan Nominal Bansos

Ombudsman Temukan Manipulasi Data dan Pemotongan Nominal Bansos

Nasional
KDRT Meningkat Selama Pandemi Covid-19, Peran Tokoh Agama Penting dalam Mencegahnya

KDRT Meningkat Selama Pandemi Covid-19, Peran Tokoh Agama Penting dalam Mencegahnya

Nasional
Kemenlu: Pria Bertato Indonesia yang Ikut Rusuh Saat Demo Terkait George Floyd Bukan WNI

Kemenlu: Pria Bertato Indonesia yang Ikut Rusuh Saat Demo Terkait George Floyd Bukan WNI

Nasional
Dinyatakan Hakim Bersalah atas Pemblokiran Internet di Papua, Ini Kata Menkominfo

Dinyatakan Hakim Bersalah atas Pemblokiran Internet di Papua, Ini Kata Menkominfo

Nasional
Ombudsman: Pemerintah Jangan Ragu Perbaiki Lagi Perpres Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan

Ombudsman: Pemerintah Jangan Ragu Perbaiki Lagi Perpres Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan

Nasional
Kantongi 817 Aduan Bansos, Ombudsman Sarankan Pemerintah Evaluasi Kebijakan Covid-19

Kantongi 817 Aduan Bansos, Ombudsman Sarankan Pemerintah Evaluasi Kebijakan Covid-19

Nasional
ICW Sebut Praktik Korupsi di Perguruan Tinggi Bukan Hal Baru, Ini Modus-modusnya...

ICW Sebut Praktik Korupsi di Perguruan Tinggi Bukan Hal Baru, Ini Modus-modusnya...

Nasional
Putusan Berkekuatan Hukum Tetap, KPK Segera Eksekusi Bupati Cianjur

Putusan Berkekuatan Hukum Tetap, KPK Segera Eksekusi Bupati Cianjur

Nasional
Mensos: Rakyat Berharap Besar pada Kemensos dalam Penanggulangan Covid-19

Mensos: Rakyat Berharap Besar pada Kemensos dalam Penanggulangan Covid-19

Nasional
Imaji Harapan dan Ancaman di Masa Pandemi

Imaji Harapan dan Ancaman di Masa Pandemi

Nasional
Kasus Jiwasraya, Benny Tjokro dan Heru Hidayat Juga Didakwa dengan Pasal Pencucian Uang

Kasus Jiwasraya, Benny Tjokro dan Heru Hidayat Juga Didakwa dengan Pasal Pencucian Uang

Nasional
Hadapi Pandemi, Masyarakat Diminta Perbanyak Konsumsi Sumber Vitamin Alami

Hadapi Pandemi, Masyarakat Diminta Perbanyak Konsumsi Sumber Vitamin Alami

Nasional
Ombudsman: Dinsos Paling Banyak Dilaporkan Terkait Dampak Pandemi

Ombudsman: Dinsos Paling Banyak Dilaporkan Terkait Dampak Pandemi

Nasional
Divonis Langgar Hukum soal Blokir Internet Papua, Ini Tanggapan Menkominfo

Divonis Langgar Hukum soal Blokir Internet Papua, Ini Tanggapan Menkominfo

Nasional
Enam Terdakwa Kasus Jiwasraya Didakwa Rugikan Negara Rp 16,8 Triliun

Enam Terdakwa Kasus Jiwasraya Didakwa Rugikan Negara Rp 16,8 Triliun

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X